Ini keping mimpi Gol A Gong soal pendidikan. Rencananya, di atas Taman Budaya Rumah Dunia, selain membangun gedung pertunjukan, ruang pameran lukisan, perpustakaan, dan sekretariat bagi komunitas literasi, juga akan dibangun gedung sekolah. Namanya SMA Generasi Baru.
Siswa sekolah ini awalnya akan merekrut 25 siswa terbaik lulusan SMP di Banten lewat sebuah seleksi. Berikutnya 25 siswa terbaik se-Indonesia. “Kita didik mereka dengan kurikulum nasional plus; plus kemahiran berpolitik, berbicara, menulis novel,” jelas Gong. Tak tanggung-tanggung, dosen tamunya adalah praktisi di bidangnya, seperti rektor, wartawan, dan anggota DPR.
Para siswa akan menginap di rumah-rumah penduduk di sekitar Rumah Dunia. Supaya ada interaksi sosial, kata Gong. Gong berharap perusahaan-perusahaan lewat program Company Social Responsibility (CSR) mau menanggung biaya operasional pendidikan. “Sehingga siswa murni belajar, tidak memusingkan biaya,” jelas Gong. Setelah lulus, siswa akan direkomendasikan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Mimpi Gong ini lahir dari kegelisahannya terhadap para pemimpin yang tidak punya karakter dan jati diri bangsa. “Sebenarnya nilai-nilai bangsa ini sudah ada di Pancasila, tapi tidak tersublimasi ke dalam diri masing-masing pemimpin,” ucapnya. “Di Indonesia ini semua pemimpin lahir bukan karena dia pintar atau cerdas, tapi dilahirkan oleh uang.”
Jadi, tambah Gong, diharapkan SMA Generasi Baru akan melahirkan para pemimpin yang berkarakter dan bernurani. Merekalah yang akan membawa bangsa menjadi maju dan bangkit dari keterpurukan ini.*
Total Tayangan Halaman
Selasa, 31 Mei 2011
Jumat, 20 Mei 2011
Ketika Napas di Ujung Tanduk
Bagaimana sakit yang kuderita mengingatkanku pada kematian.
Tiba-tiba aku jadi sulit bernapas. Tiap helaan laksana menarik gerobak berisi berton-ton batu kali. Sesekali terdengar suara lirih bersamaan dengan udara yang terhela, mengingatkanku pada detik-detik sakaratul maut di film-film. Aku mau mati saja.
Barulah Sabtu siang itu, 9 Januari yang dingin, aku menyadari bahwa sesak napasku tak biasa. Dua butir obat warung yang biasanya tokcer melepaskanku dari belitan sesak napas, yang kutelan pagi dan siang, tak beri efek apa-apa pada tubuhku. Asmaku kambuh.
Melihat kondisi kritis begitu, Ibu prihatin. Ia menyarankanku menyambangi Unit Gawat Darurat Puskesmas Kecamatan Duren Sawit. Aku masih menolak. Dan aku masih seperti menikmati jadi orang kritis kesulitan napas di hadapan tatapan nanar Ibu.
Akupun menyerah. Ke klinik saja ya, pintaku. Adikku, Merliana Merlin namanya, menawarkan diri mengecek lebih dulu klinik yang kumaksud apakah masih beroperasi: di pinggir jalan seberang bioskop Buaran. Meluncurlah ia dengan sepeda motor. Tak berapa lama, dari ujung telepon ia mengabarkan klinik itu sudah tutup.
Cari klinik lain, kata Ibu. Aku dan Ibu keluar, hendak menyambangi dokter praktik yang rumahnya tepat di mulut gang rumahku: Jalan Swadaya VI. Setiba di sana, adikku menutuk-nutukkan kunci pintu pagar masuk yang terletak di belakang rumah. Tak tampak tanda-tanda penghuninya keluar. Beberapa tetangga yang melihat itu bertanya dan menyarankan untuk periksa di klinik lain. Maksudnya klinik bidan! Memang aku pasien hamil atau mau diimunisasi, tanyaku dalam hati. “Itu si Yana kemarin ke bidan sana, sesak napasnya sembuh,” ucap tetanggaku yang biasa kusapa Enyak. Ia menunjuk praktik bidan di kawasan Pondok Bambu. Aku, Ibu, dan adik tidak tahu letaknya. Lagi pula agak jauh dari rumah. Enyak memberi referensi lain yang lebih dekat. Tapi tetap praktik bidan. Letaknya di Jalan swadaya I. Praktik bidan Farida. Okelah aku ke sana. Naik motor diboncengi adik yang masih tergolong pengantin baru—belum genap sebulan menikah.
Oleh bidan Farida aku diperiksa tekanan darah. “Normal,” kata bidan muda itu. Bicaranya santun dan sopan. “120/80.” Syukurlah, batinku. “Di suntik ya, biar sesak napasnya berkurang,” lanjutnya. Sudah kuduga.
Setelah disuntik aku merasa pusing. Wajahku memucat. Oleh bidan aku disarankan berbaring di atas ranjang periksa. Oleh asistennya hidungku di masukkan selang oksigen. Baru kali pertama itu aku menghirup oksigen.
Selama berbaring dada bawah bagian kananku nyeri, pegal. Sesekali aku merintih. Kata bidan itu biasa. Efek suntik barangkali maksudnya.
Adik memanggil Ibu. Memboncengnya dengan motor. Selama berbaring Ibu mendampingiku. Memijiti kaki dan tanganku. Sebuah kesadaran tiba-tiba menyapaku. Sentuhan Ibu menggerakkan sendi-sendi tubuhku. Memberi kekuatan yang sulit kulukiskan. Aku teringat masa-masa sulit saat sakit merongrongku, dulu, saat masih kecil dan remaja, ketika Ibu dengan setia dan penuh perhatian menemaniku berbaring; memijiti kepalaku dan sekujur tubuhku. Dan baru kusadari, Sabtu sore kemarin, bahwa sentuhan Ibu juga memberi kontribusi pada kesembuhanku.
Aku pun teringat pada Sabtu pekan sebelumnya, 2 Januari, saat aku membesuk bayi prematur seorang teman di Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi. Kata temanku, perempuan muda beranak dua, suster penjaga bayi jika tak bisa menghentikan tangis bayi di dalam inkubator (tempat menyimpan bayi) akan menelepon sang ibu. Memintanya datang ke rumah sakit. Ajaibnya, setelah sang ibu menyentuhnya, bayi itu akan diam. Itulah kehebatan seorang Ibu! Sentuhan dan kedekatannya dengan sang anak mampu memberi kekuatan tak terduga pada psikologi dan biologis anak.
Maka aku minta Ibu menggenggam tanganku. Akupun memeluk telapak tangannya dengan telapak tanganku yang dingin. Ibu tampak heran. Namun kemudian aku merasakan kekuatan yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata menjalar dari tangan Ibu ke tubuhku.
Bidan Farida bertanya tentang riwayat sakit asmaku. Kata Ibu, sakit itu menurun dari nenekku. Dulu, saat usiaku sekitar lima tahun, asmaku kambuh. Aku dibawa ke Rumah Sakit Mitra Keluarga di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur—sekarang berganti nama menjadi RS Mitra Internasional. Setelah lima kali terapi, asmaku normal. Maksudnya, tidak separah penderita lain.
Ibu terus memijiti kakiku. Tubuhku berangsur membaik. Napas tak lagi saling berkejaran. Keringat keluar dari pembuluh kulit kaki, tangan, dan kepala. Sejam setelah berbaring, aku merasa agak membaik. Bidan Farida memberiku sejumlah obat untuk diminum.
Tak lama tiba di rumah, napasku kembali bergejolak. Dadaku makin berat. Kembali menghela napas seperti menarik berton-ton batu kali dalam gerobak. Sempat terpikir betapa sulit bernapas dan enaknya bisa bernapas lega. Ya Allah, aku teringat dengan nikmat terbesar dalam hidup: bisa bernapas lega. Nikmat ini yang hampir tak pernah disyukuri banyak manusia. Termasuk aku. Berapa banyak waktu yang dihabisi dalam gelimang maksiat dan dosa saat bisa bernapas lega? Aku berefleksi dan memprihatinkan perilaku hidupku.
Ternyata bisa bernapas lega itu sangat enak. Nikmat. Tak perlu susah payah menghela udara untuk bisa hidup normal. Tidak seperti aku yang mati-matian menarik napas, menahan sesak perut yang kian menegang dan berat agar bisa terus bertahan hidup! Ya, aku berpikir, sampai berapa lama aku akan bertahan untuk mati-matian bisa bernapas. Bernapas itu sulit! Aku bisa saja putus asa lantaran kelelahan menghela napas yang tak kian membaik. Dan kematian, tiba-tiba saja membayangiku.
Bayangan kematian yang juga sempat menghantui benakku saat terkulai lemah menahan panas-dingin yang bolak-balik mendera tubuh, pada November 2007 kelabu, dikikis virus Aedes Aegypti yang banyak memakan korban jiwa (Tulisan tentang ini dapat dilihat di blogku: www.billyantoro.multiply.com. Tulisan panjang yang kubagi dalam tiga bagian bertajuk “Aku dan Nyamuk 1, Aku dan Nyamuk 2, dan Aku dan Nyamuk 3.)
Tapi aku tak boleh mati. Masih banyak pekerjaan yang belum kuselesaikan. Dan cita-cita yang belum kugapai. Juga demi menjaga sebuah hiburan, tepatnya pengharapan, dari Allah yang diberikan hari itu bagi sebuah masa depan. Aku tak boleh mati. Aku tak boleh menyerah. Ini ujian Allah yang semoga dapat meruntuhkan dosa-dosaku dan memberikan hikmah terdalam pada hidupku.
Ibu menyarankanku memeriksakan diri ke UGD RS Islam Jakarta Pondok Kopi. Bapak yang sudah pulang kerja setuju. Aku masih ragu: barangkali aku masih bisa tahan hingga besok pagi dan sesak ini akan hilang jika aku bisa lelap tidur. Keduanya terus mendesakku. Tergambar kecemasan di wajah mereka. Aku menyerah. Aku menyetujui anjuran mereka.
Di luar hujan turun deras. Bapak memanggil taksi. Sebelum berangkat aku shalat Isya. Aku tak ingin, jika ini penghujung hidupku, aku meninggal dalam keadaan belum shalat. Aku pasrah saja menjalani shalat Isya, sebelumnya Maghrib, Ashar, dan Zuhur, dengan sengal napas di dada.
Taksi berjalan menembus derai hujan di pinggir Banjir Kanal Timur yang entah kapan selesai. Aku minta sopir mengecilkan pendingin ruangan (AC). Sesak masih mencekik dadaku. Ibu duduk di sampingku. Bapak duduk di samping sopir.
Sekitar pukul 20.00 aku masuk UGD. Menyeret tubuh menuju seorang dokter berkerudung biru langit dan bermasker hijau yang duduk di kursi, memegang pena mencoret-coret kertas putih. Barangkali ia sedang membuat sejumlah analisis pasien UGD. “Sesak napas, Dok. Asma.” Aku langsung membuka percakapan. Ia menyuruhku mencari ranjang tidur yang kosong.
Di ranjang itu aku membaringkan diri, masih menahan sesak napas yang tak kunjung membaik. Ibu memijiti kakiku. Kuminta pula ia memijiti kepalaku. Bapak berdiri menyender dinding agar terlihat dokter.
Beberapa lama kemudian dokter perempuan itu datang, memeriksa sebentar, membuat analisis. “Pengasapan ya,” ujarnya. Menyusul perawat lelaki berseragam merah jambu memeriksa tekanan darahku. Ia menaikkan posisi berbaringku hingga hampir duduk. Dilanjutkan seorang perawat perempuan membawa alat pengasap: sebuah kotak putih dengan selang yang ditancapkan ke sebuah masker dan masker itu menutupi mulut dan hidungku.
Suara alat pengasap memukul-mukul gendang telingaku. Tak terlalu gaduh. Uap keluar dari dalam masker, merembes ke luar, ditingkahi letupan-letupan kecil air yang menciprati mulut dan hidungku. Tak bisa kuhindari, cipratan air meresap ke dalam mulutku. Asin rasanya.
Aku merasa, sedikit demi sedikit, bisa bernapas lega. Aku tak perlu lagi bersusah payah bernapas. Otakku yang berseliweran pikiran tak jelas menjadi tenang. Tangan kiriku yang tadi terkulai di pinggir ranjang jatuh ke paha. Aku mengantuk. Rupanya alat pengasap ini mengandung obat. Dan ibu, dari suara yang terdengar menyelinap ke telingaku, mengatakan itu.
Aku menggunakan momen itu untuk mengistirahatkan diri. Sudah kepayahan aku bernapas. Kubuka mata, kulihat ibu berdiri di sampingku, memijiti kakiku. Bapak berdiri menyender dinding. Ia mondar-mandir mengurus pendaftaran dan pengambilan obat ke apotek.
Melihat mereka, aku jadi ingat saat bertempur mati-matian melawan Demam Berdarah sekitar dua tahun lalu. Sebelum dirujuk ke RS Budhi Asih di bawah guyuran deras hujan, aku terkulai lemah di UGD RS Duren Sawit dengan tusukan infus yang menyakitkan. Bapak yang kuanggap tak biasa mengurus administrasi hilir-mudik mengikuti instruksi dokter jaga; melakukan pendaftaran, periksa hasil darah di laboratorium, mencari taksi. Sementara Ibu dan adik semata wayangku berkejaran dengan waktu di tengah perjalanan kereta Bojonegoro-Jakarta.
Ya Allah, melihat mereka kembali menjagaku dalam sakit, hatiku trenyuh. Di usia sedewasa ini, mereka masih menjagaku. Aku seharusnya sudah bisa mandiri, membahagiakan mereka dengan memberikan cucu-cucu lucu. Bahkan hingga kini pun aku belum meminang seorang perempuan sebagai menantu mereka.
Dadaku terasa enak untuk bernapas. Ya, bisa dibilang aku sudah sembuh. Tapi tubuhku masih lemas. Suaraku pun belum normal. Masih di bawah hujan, taksi biru membawa aku, Ibu, dan Bapak pulang ke rumah.
Ibu menyiapkan kasur di ruang tengah, di depan televisi. Di tempat itulah aku biasa tidur sebab kamarku kadang pengap. Ia memberiku obat dan menyuapi sirup. Aku seperti anak kecil lagi. Adikku sudah tidur di kamarnya. Sendiri. Suaminya barangkali sedang bekerja dapat shift malam.
Setelah Ibu dan Bapak masuk kamar untuk istirahat, aku membuka kotak pesan layanan singkat (SMS) telepon selulerku. Sebuah pesan yang datang pukul 21:09:09 mengatakan pengirimnya sedang membutuhkan obat antibiotik amfotericin. Sudah tiga hari ia mencari obat itu di berbagai apotek tapi tidak ketemu. Ya, dialah temanku yang bayinya lahir prematur. Saat dia mengirim SMS, saya terbaring di UGD, tak jauh dari posisinya mengirim SMS. Aku tak sempat mengirim kabar padanya.
Dia memintaku mencari informasi ihwal antibiotik amfotericin lewat internet. Kukatakan padanya aku baru tiba dari UGD dan tidak bisa membantunya malam itu juga. Lantas aku teringat pada temanku yang bekerja sebagai asisten apoteker di sebuah apotek di kawasan Pondok Kelapa. Kutelepon ponselnya, tak diangkat. Kukirimi SMS, beberapa saat kemudian ia menjawab obat yang berisi amfotericin B bernama Fungizone dan Talsutin. Di apoteknya tak tersedia obat itu. Sebab selama ini tak ada dokter yang membuat resep seperti itu di apoteknya. Ia memberi tahu lebih lanjut soal bentuk pengemasan obat dan saran agar mencari di sebuah apotek di bilangan Rawamangun.
Aku berpikir, kukira malam itu aku adalah orang paling menderita. Ternyata ada yang lebih menderita lagi: seorang ibu di sebuah rumah sakit pada larut malam memikirkan obat bagi bayinya yang telah lama menghuni inkubator selama kurang lebih dua bulan. Aku berdoa agar bayinya segera sehat dan ia tabah menjalani cobaan ini.
PADA Kamis pagi 7 Januari 2010 aku masih merasa sehat-sehat saja. Aku datang ke Balai Warga RW 01, tempat PAUD Nusa Indah menggelar kelas belajar. Aku membantu Bu Sri Suwarsini membimbing siswa-siswi kelas A menulis angka. Membantu beberapa siswi berhitung, dan mati-matian mengajari dua siswi usia 3-4 tahun bagaimana menulis angka 1 dan 2.
Aku tak habis pikir kenapa mereka tak bisa menuliskan angka itu, padahal tinggal mencontek saja di papan tulis dan angka yang kubuatkan di buku mereka. Tapi aku tak boleh putus asa. Aku tak boleh egois. Barangkali dulu, seumur mereka, aku juga tak bisa melakukannya.
Seorang siswi yang kuajari berkali-kali memegang kerudung putih yang membelit lehernya. “Gerah,” katanya. Lalu aku mengizinkannya untuk mencopotnya. Belum selesai di situ, konsentrasi belajarnya luruh. Sebab teman-temannya yang duduk di depan, belakang, dan sampingnya berujar, “Pak Guru, ajarin saya dong! Saya nggak bisa nih!”
Siswi berambut tipis panjang itu, Anggun namanya, memang pelit bersuara. Kalaupun bersuara kecil sekali. Dua kali saat aku mengajarinya menulis angka 1, lendir putih kehijauan berleleran dari hidungnya. Ia cepat-cepat mengusapnya dengan punggung tangannya.
Sebelum kelas bubar, aku membariskan siswa-siswi kelas B yang masuk siang. Bu Sri sibuk menyiapkan siswa-siswi kelas A untuk pulang; membereskan alat belajar, membagikan buku Pekerjaan Rumah, dan berdoa. Setelah kelas B masuk dan Bu Sri kembali mengajar, aku kembali pulang. Sebab aku harus segera pergi ke kantor. Sudah siang.
Di rumah, masih dengan pakaian batik biru yang basah peluh, aku menyiapkan jaket oranye dan tas merah. Tiba-tiba aku bersin berkali-kali. Flu. Aku memaksakan diri pergi kendati bersin menerjang berulang kali. Sengaja aku memaksakan diri lantaran sebelum-sebelumnya sudah terjadi demikian kali dan flu hilang di jalan setelah tubuh ini terpanggang mentari.
Ternyata dugaanku salah. Di kantorku yang dingin, flu-ku menjadi-jadi. Segelas teh manis panas tak sanggup meredakannya. Kutarik penutup kepala yang menyatu dengan jaket hingga kepalaku penuh tertutup. Atasanku yang masuk ruangan bertanya, “Sedang sakit, Bil?” “Iya,” jawabku. Beberapa teman menyayangkan dalam keadaan flu aku tetap datang ke kantor. Mereka menyarankanku pulang.
Aku baru pulang sore. Ingin mampir dulu ke tukang fotokopi yang berderet di sepanjang jalan dekat STM Pembangunan, Rawamangun, Jakarta Timur. Aku ingin menjilid softcover buku yang baru kurampungkan: Pelangi di Ujung Gerimis, Secercah Kisah di PAUD Nusa Indah.
Buku ini merupakan kumpulan tulisanku sejak kali pertama mengajar di PAUD Nusa Indah. Berisi sejarah dan kondisi pembelajaran di PAUD Nusa Indah serta metodeku dalam mengajar Bahasa Inggris. Sengaja untuk cetakan pertama ini aku memperbanyaknya hanya empat eksemplar; satu untuk diriku sendiri, satu untuk PAUD Nusa Indah, satu untuk RW, dan satu lagi, belakangan baru Sabtu aku meniatkannya, akan kuberikan kepada seorang yang istimewa.
Jalanan ibukota sangat macet. Aku menyempatkan diri shalat Maghrib di dekat pom bensin Jalan Pramuka. Peluh dan dingin menyatu dalam pakaianku. Baru setelah Isya aku tiba di tempat fotokopi.
Besoknya, Jumat, kondisi tubuhku makin turun. Flu tak lagi main-main mencekikku. Aku tak pergi ke kantor. Di rumah saja berbaring dan keluar hanya untuk shalat Jumat. Obat pereda flu yang kubeli kemarin di kantin kantor tak banyak pengaruh.
Sehari kemudian aku batuk keras di kamar mandi. Membuat dadaku sesak. Napasku terengah-engah. Kumakan obat warung yang biasanya manjur melepaskanku dari cengkeraman sesak napas. Tak berpengaruh, kumakan obat itu lagi setelah makan siang. Sesak napasku makin menjadi-jadi. Akhirnya kusadari, penderitaan itu sedang dimulai.
Duren Sawit, Ahad, 10 Januari 2010. 07.14 WIB
Kamis, 19 Mei 2011
Dongeng dan Mendung di Luar Kelas
“Demi mengetahui sumber air bah yang menenggelamkan desa, Amal, Amil, dan Amul berjalan menyusuri bukit, membelah hutan, menyeberangi sungai. Di tengah hutan mereka mendengar lolongan serigala, auman macan, teriakan monyet. Amal yang penakut segera berlindung di balik pohon.
“‘Payah, segitu saja takut!’ ujar Amul yang pemberani.
“Jger!
“Tiba-tiba petir menggelegar. Amul kaget dan buru-buru berlindung di samping Amal. Begitu pula Amul.
“Langit gelap. Awan hitam menggumpal di atas hutan. Berkali-kali petir menggelegar, membuat bulu kuduk Amal, Amil, dan Amul berdiri.”
Di luar garasi mobil sinar mentari tak lagi tampak. Tertutup awan kehitaman. Mendung. Fauzan, siswa bertubuh besar yang duduk paling depan, menoleh ke belakang, memanggil ibunya. Sesaat kemudian ia mengisak tangis, minta pulang. Sang Ibu memintanya diam, namun Fauzan tak menggubris Tangisnya makin keras. Lalu ia bangkit dari duduknya, ingin ke belakang, namun barisan kursi yang diduduki siswa lain tak memungkinkannya melangkah ke belakang. Tangisnya kemudian meledak.
Beberapa siswa berdiri, hampir semua terprovokasi tangisan Fauzan. Reza yang duduk satu baris dengan Fauzan berdiri, hendak ke belakang. Ia berteriak pada ibunya ingin pulang. Siswa yang duduk di barisan belakang keluar dengan mudah dari garasi mobil. Mendekati ibu mereka yang duduk di atas tikar sepuluh meter di belakang.
Saya memutar otak dengan mempercepat jalan cerita.
“Tibalah mereka di atas bukit. Tanah lapang berumput terhampar luas. Sebuah rumah besar berdiri di tengah-tengahnya. Amal, Amil, dan Amul mendekati rumah dan berdiri di ambang pintu.
“Di rumah itu kursinya besar, mejanya juga besar. Lalu terdengar suara isakan tangis dari samping rumah. Lalu ketiganya bergegas ke sumber suara di samping rumah.
“Amal dan Amul kaget. Mereka segera berlindung di balik batu. Di hadapan mereka makhluk raksasa sedang duduk di atas batu. Wajahnya ditangkupkan pada pangkuannya, di lingkari kedua bahunya.
“’Huu...huu...hu...’
“Anak raksasa itu menangis. Air matanya menjadi bah yang menenggelamkan desa. Amul dengan dada terangkat berkata, ‘Hei, apa yang membuatmu menangis?’
“Masih dengan wajah tersembunyi di balik pangkuan, anak raksasa menjawab, ‘Saya kesepian di sini. Ditinggal sendiri oleh ayah-ibu. Sudah beberapa hari.’
“Amal, Amil, dan Amul kemudian berdiskusi bagaimana membuat anak raksasa tak lagi menangis. Mereka sepakat untuk menghiburnya.
“’Yuk kita hibur dia dengan menyanyikan lagu ‘balonku’!’ teriak Amul.”
Lalu anak-anak bernyanyi ‘balonku’.
“Wah, ternyata anak raksasa itu masih menangis. ‘Kita harus menyanyikan lagu yang membuat hati semangat! Ayo kita menyanyikan lagu ‘Aku Seorang Kapiten!’ ajak Amul.”
Anak-anak bernyanyi lagu ‘Aku Seorang Kapiten’.
“Anak Raksasa itu mengangkat wajahnya. Kini tangisnya mulai mereda. ‘Biar dia diam, kita menyanyi lagu apalagi?’ tanya Amul pada Amal dan Amil.”
Seorang anak di belakang berteriak, “Lagu ‘Potong bebek angsa’!”
Lalu anak-anak menyanyi lagu ‘Potong Bebek Angsa’.
“Akhirnya anak raksasa itu tak lagi menangis. Ia berterima kasih pada Amal, Amil, dan Amul yang telah menghiburnya. ‘Sebagai tanda terima kasih, saya akan membantu kalian mengeringkan air bah yang menenggelamkan desa kalian,’ ujar anak raksasa.”
Di luar garasi mobil, anehnya, langit berubah cerah. Mentari bersinar kembali. Sengatnya sampai masuk mengenai sebagian siswa di dalam kelas. Ya, kelas mereka, siswa-siswi PAUD Nusa Indah Duren Sawit, adalah sebuah garasi. Panas dan hujan pasti menerpa bagian dalam garasi.
Anak-anak kembali masuk kelas. Saya menyudahi cerita.
PAGI tadi tak ada pelajaran yang melibatkan pensil warna dan kertas. “Hari ini kita belajar berkhayal,” ujar saya usai senam pagi. “Nanti Bapak akan mendongeng lalu kita nonton film di sini.” Saat berkata ‘mendongeng’ seraya menunjuk ruang kelas (garasi mobil) dan ‘nonton film di sini’ adalah tempat yang mereka pakai buat senam pagi.
Lantaran jam belajar terpotong oleh senam pagi dan waktu yang sempit, saya berinisiatif mengisi pelajaran Sabtu dengan variasi materi. Tak melulu berisi belajar menggunakan buku.
Sabtu lalu, karena kelas A dan B digabung (kelas A dan kelas B usia 3-5 tahun serta kelas kecil berusia 2-3 tahun senam bersama), saya kerepotan sekali. Lantaran ruang kelas tak muat menampung gabungan siswa kelas A dan B usia 3-5 tahun, dibagilah ruang belajar mereka. Kelas A di dalam kelas. Kelas B duduk di tikar, di lokasi mereka senam pagi—ruang belajar kelas kecil di garasi rumah Bu Alwin yang terletak di lain gang..
Awalnya saya berpikir untuk menangani keduanya, mondar-mandir ke kelas masing-masing. Saat saya memegang kelas A, Bu Sri Suwarsini, guru yang memegang pelajaran hari Kamis, bantu memegang kelas B. Ternyata rencana itu gagal. Waktu saya tersita di kelas A. Untung saja Bu Sri Suwarsini bisa menangani kelas B.
Setelah anak-anak istirahat, Bu Sundari, Bendahara PAUD, berkata, “Pak, sudah jam setengah sepuluh. Anak-anak dipulangkan saja.” Rencana saya mendongeng gagal. Padahal saya sudah membawa tiga boneka tangan. Janji saya pada Fajar, siswa yang sejak masuk sekolah usai liburan Lebaran minta saya untuk mendongeng, tak kunjung terpenuhi. Dan tadi, sebelum mendongeng, saya menjawab ancamannya yang lalu-lalu, “Awas lho, Pak, kalau nggak cerita!”
Entah apakah besok-besok Fajar masih melontarkan ancamannya, saya tidak tahu.
Duren Sawit, Jakarta Timur.
Sabtu, 24 Oktober 2009. 11.00 WIB.
Dilema Ibu Muda
Tadi sore seorang teman menceritakan keluhannya tentang keluarga dan pekerjaan yang digelutinya. Ia ibu muda, pegawai negeri sipil. Anaknya baru satu, berusia 3 tahun. Anak keduanya berusia 6 bulan di dalam rahimnya.
Ia merasa kerepotan mengurus anak sulungnya lantaran pembantunya tak lagi datang usai pulang kampung Lebaran kemarin. Mencari pengganti sulitnya bukan main. Pengasuhan anak diberikan kepada suaminya yang punya waktu lebih banyak di rumah.
Maklum, karena masih bapak muda, suaminya kurang telaten mengurus anaknya. Pakaian anak baru diganti setelah ia pulang dari kantor, sore atau malam. Sekalian memberinya makan sebab kadang siang belum diberi makan. Kasihan sekali.
Kondisi demikian mendorongnya mengambil keputusan: mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari posisinya di kantor dan menjadi staf biasa saja. Posisi sekarang membuatnya tak nyaman dalam hal waktu pulang: kadang larut malam.
Inilah dilema seorang ibu muda. Juga kebanyakan perempuan lain yang memilih bekerja membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga. Sebelum menikah mereka bekerja di instansi negeri atau pun swasta. Setelah menikah dan punya anak, kesibukannya ganda: mengurus anak dan pekerjaan.
Bukannya suami tidak diserahi tanggung jawab mengurus anak. Pada umumnya, secara kultur, suami bertanggung jawab mencari nafkah dengan bekerja di luar rumah. Sementara tugas mengurus anak diserahkan pada istri; mengajaknya bermain, mengurus makan, minum, buang hajat, dan berbagai kegiatan yang rasanya sulit dikerjakan suami.
Tak masalah jika suami bekerja di luar rumah dan istri bekerja mengurus rumah tangga. Namun jika keduanya bekerja, siapa yang mengurus anak dari pagi sampai sore? Pembantu rumah tangga, itu solusi ampuh yang kini dipakai kebanyakan pasangan suami-istri. Bagi yang kurang mampu, solusi yang “agak kurang ajar” adalah menyerahkan pengasuhan anak pada orangtua.
Sebenarnya tidak masalah jika pekerjaannya dapat diatur waktunya. Fleksibel. Misalnya, guru sekolah atau bimbingan belajar dan berdagang keliling/mangkal. Atau pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, seperti menulis (artikel, skenario, novel, cerpen), membuka warung, atau industri rumah tangga.
Dalam hidup berumah tangga, sebaiknya suami dan istri melakukan diskusi. Kerja-kerja rumah tangga dibagi secara adil. Jangan sampai salah satu diberatkan. Sehingga tugas mengurus anak, membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, mencuci piring dan pakaian, dilakukan dengan baik dan hati lapang. Paradigma bahwa pekerjaan rumah tangga semuanya menjadi tanggung jawab istri harus dihilangkan. Bahkan suami pun punya kewajiban mengurus anak, seperti memandikan, membuatkan susu, membersihkan kotoran, mengganti popok, dan mengajaknya bermain.
Pembicaraan tentang pembagian peran dalam rumah tangga sebelum memutuskan menikah juga diperlukan. Jangan sampai persoalan itu baru dibicarakan setelah menikah sehingga dikhawatirkan keduanya tidak menemui jalan temu. Rumah tangga jadi berantakan.
Calon istri tidak punya kewajiban mencari nafkah. Namun ia pun tidak boleh dilarang ikut mencari nafkah asal pekerjaan utamanya mengurus rumah tangga tidak terlantar. Jika mereka memang memilih berperan ganda, suami pun harus sadar bahwa dia pun juga harus membantu istri mengurus pekerjaan rumah tangga. Jadi keduanya melakukan peran ganda.
Jika suami merasa mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, ia pun tidak boleh memaksakan istrinya untuk hanya berkecimpung di rumah mengurus rumah tangga. Bila pekerjaan sang istri membuatnya mampu mengembangkan potensi diri, mengamalkan ilmu yang didapatnya saat sekolah/kuliah, dan membuat perubahan di masyarakat, maka suami harus turut mendukungnya.
Suamipun tidak boleh memaksa sang istri bekerja jika istri tak menginginkannya. Mengurus rumah tangga juga sebuah pekerjaan kendati tak ada yang menggaji. Justru pekerjaan ini sangat mulia dan penting karena kestabilan rumah tangga dapat tetap terjaga; pengurusan anak, rumah, sosialisasi dengan lingkungan masyarakat.
Yang perlu diperhatikan pasangan yang bekerja adalah tujuan utama bekerja. Bahwa mereka mencari uang demi kebaikan anak dan keberlangsungan keluarga. Sayangnya banyak dari mereka melupakan ini. Mereka bekerja namun anak terlantar. Akibat sama-sama frustasi dengan pekerjaan, keduanya saling emosi dan tak ada salah satunya yang mengambil peran sebagai pendamai. Akhirnya rumah tangga berantakan. Tiap hari terjadi pertengkaran. Anak kembali menjadi korban. Apalagi jika ada perceraian.
Mengurus anak
Salah satu pekerjaan terberat dalam rumah tangga adalah mengurus anak, terlebih anaknya masih kecil. Pasangan muda pastilah banyak mengalami kesulitan. Maklum, kurang berpengalaman. Semua serba baru.
Pada beberapa acara silaturahmi sebelum dan sesudah Lebaran dengan teman-teman, saya melihat acara silaturahmi diselingi kesibukan ibu-bapak muda mengurus anak; mengajak anak bermain, mendiamkan anak jika menangis, membersihkan kotorannya. Saya berpikir, repot sekali jadi orangtua. Suami pastilah jadi pihak yang agak menjauh jika anak mereka kelihatan rewel atau hendak buang hajat. Pura-pura sibuk atau tidak tahu. Sang istri dibiarkan repot sendiri. Kira-kira, apa yang ada dalam benak istri?
Lalu, setelah anak bertambah usia, masih balita atau batita, kesigapan orangtua juga tak berkurang. Kesabaran harus lebih tebal. Kadang anak susah diatur, banyak kemauan, atau malah mengganggu pekerjaan. Tidak sabar, anak dimarahi, dicubit, atau ditinggal pergi. Repotnya jadi orangtua. Apalagi ibu muda.
Ketika saya mendengarkan cerita ibu muda tadi sore, berulang kali saya memuji kehebatan ibu muda yang rela berperan ganda. Juga perempuan pada umumnya yang mengabdikan diri bagi tumbuh-kembang sang anak dan kehebatan sang suami. Mereka ber-ada, dibutuhkan. Menjadi, memberi, berkorban. Martir.
Ia merasa kerepotan mengurus anak sulungnya lantaran pembantunya tak lagi datang usai pulang kampung Lebaran kemarin. Mencari pengganti sulitnya bukan main. Pengasuhan anak diberikan kepada suaminya yang punya waktu lebih banyak di rumah.
Maklum, karena masih bapak muda, suaminya kurang telaten mengurus anaknya. Pakaian anak baru diganti setelah ia pulang dari kantor, sore atau malam. Sekalian memberinya makan sebab kadang siang belum diberi makan. Kasihan sekali.
Kondisi demikian mendorongnya mengambil keputusan: mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari posisinya di kantor dan menjadi staf biasa saja. Posisi sekarang membuatnya tak nyaman dalam hal waktu pulang: kadang larut malam.
Inilah dilema seorang ibu muda. Juga kebanyakan perempuan lain yang memilih bekerja membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga. Sebelum menikah mereka bekerja di instansi negeri atau pun swasta. Setelah menikah dan punya anak, kesibukannya ganda: mengurus anak dan pekerjaan.
Bukannya suami tidak diserahi tanggung jawab mengurus anak. Pada umumnya, secara kultur, suami bertanggung jawab mencari nafkah dengan bekerja di luar rumah. Sementara tugas mengurus anak diserahkan pada istri; mengajaknya bermain, mengurus makan, minum, buang hajat, dan berbagai kegiatan yang rasanya sulit dikerjakan suami.
Tak masalah jika suami bekerja di luar rumah dan istri bekerja mengurus rumah tangga. Namun jika keduanya bekerja, siapa yang mengurus anak dari pagi sampai sore? Pembantu rumah tangga, itu solusi ampuh yang kini dipakai kebanyakan pasangan suami-istri. Bagi yang kurang mampu, solusi yang “agak kurang ajar” adalah menyerahkan pengasuhan anak pada orangtua.
Sebenarnya tidak masalah jika pekerjaannya dapat diatur waktunya. Fleksibel. Misalnya, guru sekolah atau bimbingan belajar dan berdagang keliling/mangkal. Atau pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, seperti menulis (artikel, skenario, novel, cerpen), membuka warung, atau industri rumah tangga.
Dalam hidup berumah tangga, sebaiknya suami dan istri melakukan diskusi. Kerja-kerja rumah tangga dibagi secara adil. Jangan sampai salah satu diberatkan. Sehingga tugas mengurus anak, membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, mencuci piring dan pakaian, dilakukan dengan baik dan hati lapang. Paradigma bahwa pekerjaan rumah tangga semuanya menjadi tanggung jawab istri harus dihilangkan. Bahkan suami pun punya kewajiban mengurus anak, seperti memandikan, membuatkan susu, membersihkan kotoran, mengganti popok, dan mengajaknya bermain.
Pembicaraan tentang pembagian peran dalam rumah tangga sebelum memutuskan menikah juga diperlukan. Jangan sampai persoalan itu baru dibicarakan setelah menikah sehingga dikhawatirkan keduanya tidak menemui jalan temu. Rumah tangga jadi berantakan.
Calon istri tidak punya kewajiban mencari nafkah. Namun ia pun tidak boleh dilarang ikut mencari nafkah asal pekerjaan utamanya mengurus rumah tangga tidak terlantar. Jika mereka memang memilih berperan ganda, suami pun harus sadar bahwa dia pun juga harus membantu istri mengurus pekerjaan rumah tangga. Jadi keduanya melakukan peran ganda.
Jika suami merasa mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, ia pun tidak boleh memaksakan istrinya untuk hanya berkecimpung di rumah mengurus rumah tangga. Bila pekerjaan sang istri membuatnya mampu mengembangkan potensi diri, mengamalkan ilmu yang didapatnya saat sekolah/kuliah, dan membuat perubahan di masyarakat, maka suami harus turut mendukungnya.
Suamipun tidak boleh memaksa sang istri bekerja jika istri tak menginginkannya. Mengurus rumah tangga juga sebuah pekerjaan kendati tak ada yang menggaji. Justru pekerjaan ini sangat mulia dan penting karena kestabilan rumah tangga dapat tetap terjaga; pengurusan anak, rumah, sosialisasi dengan lingkungan masyarakat.
Yang perlu diperhatikan pasangan yang bekerja adalah tujuan utama bekerja. Bahwa mereka mencari uang demi kebaikan anak dan keberlangsungan keluarga. Sayangnya banyak dari mereka melupakan ini. Mereka bekerja namun anak terlantar. Akibat sama-sama frustasi dengan pekerjaan, keduanya saling emosi dan tak ada salah satunya yang mengambil peran sebagai pendamai. Akhirnya rumah tangga berantakan. Tiap hari terjadi pertengkaran. Anak kembali menjadi korban. Apalagi jika ada perceraian.
Mengurus anak
Salah satu pekerjaan terberat dalam rumah tangga adalah mengurus anak, terlebih anaknya masih kecil. Pasangan muda pastilah banyak mengalami kesulitan. Maklum, kurang berpengalaman. Semua serba baru.
Pada beberapa acara silaturahmi sebelum dan sesudah Lebaran dengan teman-teman, saya melihat acara silaturahmi diselingi kesibukan ibu-bapak muda mengurus anak; mengajak anak bermain, mendiamkan anak jika menangis, membersihkan kotorannya. Saya berpikir, repot sekali jadi orangtua. Suami pastilah jadi pihak yang agak menjauh jika anak mereka kelihatan rewel atau hendak buang hajat. Pura-pura sibuk atau tidak tahu. Sang istri dibiarkan repot sendiri. Kira-kira, apa yang ada dalam benak istri?
Lalu, setelah anak bertambah usia, masih balita atau batita, kesigapan orangtua juga tak berkurang. Kesabaran harus lebih tebal. Kadang anak susah diatur, banyak kemauan, atau malah mengganggu pekerjaan. Tidak sabar, anak dimarahi, dicubit, atau ditinggal pergi. Repotnya jadi orangtua. Apalagi ibu muda.
Ketika saya mendengarkan cerita ibu muda tadi sore, berulang kali saya memuji kehebatan ibu muda yang rela berperan ganda. Juga perempuan pada umumnya yang mengabdikan diri bagi tumbuh-kembang sang anak dan kehebatan sang suami. Mereka ber-ada, dibutuhkan. Menjadi, memberi, berkorban. Martir.
Duren Sawit, Jakarta Timur.
Kamis, 8 Oktober 2009. 21.43 WIB
Kamis, 8 Oktober 2009. 21.43 WIB
Penggunaan Bahasa dan Keprihatinan Kita
Pada sejumlah silaturahmi dengan saudara-saudara dalam merayakan Idul Fitri 1430 Hijriah, saya baru menyadari sesuatu: beberapa saudara (keponakan) saya kelas 2 SMA. Dan mereka semua punya akun di Facebook.
Saya selalu tertarik dengan dunia sekolah. Sejak kuliah, interaksi saya langsung dengan siswa sekolah lewat beberapa pelatihan jurnalistik yang digelar oleh organisasi tempat saya berkecimpung. Hingga kini pun saya tetap menjaga hubungan baik dengan sejumlah anak sekolah maupun mereka yang baru beranjak kuliah. Banyak hal menarik dari dunia anak sekolah, sebab saya pun merasakannya saat masih berseragam putih-biru dan putih-abu-abu.
Beberapa waktu belakangan saya mencermati gaya bahasa tulis pelajar sekolah. Pertama saya mencermati bahasa tulis pada pesan layanan singkat (SMS-Short Message Service). Awalnya agak sulit memahami bahasa mereka, namun kemudian saya mudah mencernanya. Saya pun mengambil sejumlah akronim yang mereka gunakan.
Kedua, saya mencermati bahasa tulis di situs jejaring sosial Facebook. Rumitnya minta ampun. Barangkali saya yang belum paham atau kesulitan memahami ‘sandi’ atau ‘konvensi istilah’ yang mereka pakai. Saat membaca deretan kalimat di status atau komentar mereka, saya selalu mengulang-ulang, mengurai singkatan, dan makna tulisan mereka. Butuh waktu agak lama untuk memahaminya.
Mari simak salah satu kalimat status Facebook berikut ini: “Mv w ud m0nk gt0w k lw, , ,w cyg m lw, w cm tag mu lw kceua krr n, , .W tw ntr 0r bcug pzt lw aqn lbic kceua krn w”. Bisakah Anda dengan cepat mencerap maknanya?
Tiap zaman punya bahasa tersendiri, baik bahasa lisan maupun tulisan. Yang mampu memahaminya dengan fasih juga anak zaman itu. Zaman saya sekolah, antara 10-15 tahun lalu, gaya bahasa tulis tak begitu menonjol. Sebab saat itu fasilitas yang mampu menghubungkan lalu lintas komunikasi personal dan komunal secara masif belum begitu banyak seperti sekarang. Paling-paling hanya telepon dan pager. Itu pun, bagi sebagian besar pelajar, masih tergolong eksklusif. Maka yang berkembang saat itu lebih kepada gaya bahasa lisan dan pemunculan istilah prokem/slank.
Beda dengan zaman sekarang. Anak sekolah kini dapat menikmati kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan mereka berkomunikasi tak hanya mengandalkan bahasa lisan untuk berkomunikasi. Bahasa tulis sebagai alat komunikasi juga sangat efektif dipakai, misalnya pada SMS, blog, dan situs jejaring sosial semacam Facebook. Ini semua sebagai dampak kemajuan internet dan teknologi telepon seluler.
Perbedaan penggunaan bahasa tiap zamannya tidak perlu dipersoalkan. Bahkan itu sesuatu yang harus dihargai sebagai produk inovatif zaman tersebut. Selama digunakan sebagai bahasa pergaulan, tak masalah. Namun, ketika bahasa prokem digunakan atau dicampur-adukan dengan bahasa ilmiah dan baku, ini yang jadi masalah. Masalahnya lagi ketika mereka tak mampu menggunakan bahasa Indonesia baku dalam percakapan umum ataupun penulisan ilmiah sederhana, seperti menulis artikel di media massa, ujian sekolah, atau skripsi.
Dikutub lain, penggunaan bahasa dan peristilahan oleh orang-orang berpendidikan sarjana tak bagus-bagus amat. Banyak sekali yang tidak memahami istilah atau ungkapan yang mereka gunakan, terutama pencampur-adukan kalimat bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
Masih banyak dijumpai istilah asing yang sebenarnya sudah ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia, dicampur pemakaiannya dengan kalimat bahasa Indonesia. Termasuk bahasa yang dipakai oleh birokrasi pemerintahan. Dalam bahasa tulis, selama istilah asing itu diberi garis miring, tidak masalah. Itu pun untuk penggunaaan satu-dua istilah saja yang kemudian digunakan padanan bahasa Indonesia sebenarnya.
Misalnya kata ‘schedule’ dan ‘list’. Dua kata ini adalah istilah bahasa Inggris yang jika diindonesiakan berarti ‘jadwal’ dan ‘daftar’. Namun berapa banyak wartawan, guru, karyawan, direktur, aktivis LSM, organisasi pemuda dan kemahasiswaan, serta pejabat yang ‘senang’ menggunakan istilah ini dalam bertutur dan menulis?
Misalnya: “Kita harus membuat schedule yang jelas agar kegiatan kita tidak bentrok dengan schedule rapat kantor.” Atau: “List yang bos kita buat berbeda sekali dengan list yang kita buat.”
Yang memprihatinkan yaitu pemaksaan penggunaan imbuhan yang disematkan pada istilah asing itu. Contoh: “Kita harus men-schedule ulang kedatangan mereka ke kantor ini.” Atau: “Me-list nama-namanya jangan asal-asalan ya!”
Nah contoh ini sangat memprihatinkan: “Jangan lupa di-schedule-in waktu presentasi saya!” Atau: “Kamu kalau nge-list yang benar!”
Saya menilai, fenomena penggunaan bahasa seperti ini sangat memprihatinkan. Dulu banyak yang menganggap orang-orang dan pejabat senang menyisipkan istilah asing dalam ucapan dan tulisannya agar terkesan mewah dan prestisius. Namun kini pendapat itu tak berlaku lagi. Saya menganggap, orang-orang yang demikian adalah pemalas dan bodoh.
Mereka tahu, dalam pembicaraan atau penulisan yang bersifat umum dan ilmiah, penggunaan bahasa yang baku dan lazim merujuk pada kamus bahasa. Banyak sekali kamus bahasa Indonesia beredar di toko buku, baik isinya tebal maupun tipis, baik kualitasnya asli maupun bajakan. Namun berapa banyak wartawan, guru, karyawan, direktur, aktivis LSM, organisasi pemuda dan kemahasiswaan, serta pejabat memiliki kamus bahasa Indonesia? Mereka malas membaca kamus dan membiarkan hal demikian terus berlanjut.
Saya pernah diminta menjadi juri yang menilai hasil pembuatan media (koran/majalah/tabloid) oleh peserta sebuah pelatihan jurnalistik mahasiswa di Jakarta. Mayoritas penulisan bahasanya, baik tata bahasa maupun peristilahan, kacau balau!
“Siapa di antara kalian yang memiliki kamus bahasa Indonesia?” tanya saya. Tak satu pun peserta angkat tangan. “Mana organisasi pers kampus yang punya kamus bahasa Indonesia?” Tak ada juga yang angkat tangan. Saya kecewa. Saya katakan terus terang di depan mereka bahwa hasil tulisan mereka tak ubahnya seperti anak sekolah! Harus banyak belajar bahasa!
Saat itu saya kembali teringat pada sejumlah naskah skripsi mahasiswa yang pernah saya baca. Banyak sekali kesalahan logika, penggunaan tanda baca, dan penggunaan kata keterangan. Barangkali efeknya tak begitu besar jika itu skripsi bidang sosial. Namun jika skripsi bidang kimia dan teknik, bisa-bisa alat eksperimen meledak. Bukan masalah pada ramuan kimia atau susunan kode, melainkan pada bahasa yang menjelaskan cara kerja ramuan kimia dan eksekusi kode.
Jadi tak perlulah berpanjang lebar mengenai aplikasi konsep bahasa sebagai alat pemersatu bangsa. Atau bahasa sebagai produk budaya dan identitas suatu bangsa. Mulailah pemangku kepentingan di bidang bahasa ‘bergerilya’ meluruskan pemakaian ‘bahasa Indonesia yang baik dan benar’ di sekolah, kampus, dan kantor-kantor pemerintahan. Dan biarkan saya asyik menelisik bahasa prokem anak sekolah zaman sekarang di Facebook kendati berulangkali mengerutkan dahi.
Saya selalu tertarik dengan dunia sekolah. Sejak kuliah, interaksi saya langsung dengan siswa sekolah lewat beberapa pelatihan jurnalistik yang digelar oleh organisasi tempat saya berkecimpung. Hingga kini pun saya tetap menjaga hubungan baik dengan sejumlah anak sekolah maupun mereka yang baru beranjak kuliah. Banyak hal menarik dari dunia anak sekolah, sebab saya pun merasakannya saat masih berseragam putih-biru dan putih-abu-abu.
Beberapa waktu belakangan saya mencermati gaya bahasa tulis pelajar sekolah. Pertama saya mencermati bahasa tulis pada pesan layanan singkat (SMS-Short Message Service). Awalnya agak sulit memahami bahasa mereka, namun kemudian saya mudah mencernanya. Saya pun mengambil sejumlah akronim yang mereka gunakan.
Kedua, saya mencermati bahasa tulis di situs jejaring sosial Facebook. Rumitnya minta ampun. Barangkali saya yang belum paham atau kesulitan memahami ‘sandi’ atau ‘konvensi istilah’ yang mereka pakai. Saat membaca deretan kalimat di status atau komentar mereka, saya selalu mengulang-ulang, mengurai singkatan, dan makna tulisan mereka. Butuh waktu agak lama untuk memahaminya.
Mari simak salah satu kalimat status Facebook berikut ini: “Mv w ud m0nk gt0w k lw, , ,w cyg m lw, w cm tag mu lw kceua krr n, , .W tw ntr 0r bcug pzt lw aqn lbic kceua krn w”. Bisakah Anda dengan cepat mencerap maknanya?
Tiap zaman punya bahasa tersendiri, baik bahasa lisan maupun tulisan. Yang mampu memahaminya dengan fasih juga anak zaman itu. Zaman saya sekolah, antara 10-15 tahun lalu, gaya bahasa tulis tak begitu menonjol. Sebab saat itu fasilitas yang mampu menghubungkan lalu lintas komunikasi personal dan komunal secara masif belum begitu banyak seperti sekarang. Paling-paling hanya telepon dan pager. Itu pun, bagi sebagian besar pelajar, masih tergolong eksklusif. Maka yang berkembang saat itu lebih kepada gaya bahasa lisan dan pemunculan istilah prokem/slank.
Beda dengan zaman sekarang. Anak sekolah kini dapat menikmati kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan mereka berkomunikasi tak hanya mengandalkan bahasa lisan untuk berkomunikasi. Bahasa tulis sebagai alat komunikasi juga sangat efektif dipakai, misalnya pada SMS, blog, dan situs jejaring sosial semacam Facebook. Ini semua sebagai dampak kemajuan internet dan teknologi telepon seluler.
Perbedaan penggunaan bahasa tiap zamannya tidak perlu dipersoalkan. Bahkan itu sesuatu yang harus dihargai sebagai produk inovatif zaman tersebut. Selama digunakan sebagai bahasa pergaulan, tak masalah. Namun, ketika bahasa prokem digunakan atau dicampur-adukan dengan bahasa ilmiah dan baku, ini yang jadi masalah. Masalahnya lagi ketika mereka tak mampu menggunakan bahasa Indonesia baku dalam percakapan umum ataupun penulisan ilmiah sederhana, seperti menulis artikel di media massa, ujian sekolah, atau skripsi.
Dikutub lain, penggunaan bahasa dan peristilahan oleh orang-orang berpendidikan sarjana tak bagus-bagus amat. Banyak sekali yang tidak memahami istilah atau ungkapan yang mereka gunakan, terutama pencampur-adukan kalimat bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
Masih banyak dijumpai istilah asing yang sebenarnya sudah ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia, dicampur pemakaiannya dengan kalimat bahasa Indonesia. Termasuk bahasa yang dipakai oleh birokrasi pemerintahan. Dalam bahasa tulis, selama istilah asing itu diberi garis miring, tidak masalah. Itu pun untuk penggunaaan satu-dua istilah saja yang kemudian digunakan padanan bahasa Indonesia sebenarnya.
Misalnya kata ‘schedule’ dan ‘list’. Dua kata ini adalah istilah bahasa Inggris yang jika diindonesiakan berarti ‘jadwal’ dan ‘daftar’. Namun berapa banyak wartawan, guru, karyawan, direktur, aktivis LSM, organisasi pemuda dan kemahasiswaan, serta pejabat yang ‘senang’ menggunakan istilah ini dalam bertutur dan menulis?
Misalnya: “Kita harus membuat schedule yang jelas agar kegiatan kita tidak bentrok dengan schedule rapat kantor.” Atau: “List yang bos kita buat berbeda sekali dengan list yang kita buat.”
Yang memprihatinkan yaitu pemaksaan penggunaan imbuhan yang disematkan pada istilah asing itu. Contoh: “Kita harus men-schedule ulang kedatangan mereka ke kantor ini.” Atau: “Me-list nama-namanya jangan asal-asalan ya!”
Nah contoh ini sangat memprihatinkan: “Jangan lupa di-schedule-in waktu presentasi saya!” Atau: “Kamu kalau nge-list yang benar!”
Saya menilai, fenomena penggunaan bahasa seperti ini sangat memprihatinkan. Dulu banyak yang menganggap orang-orang dan pejabat senang menyisipkan istilah asing dalam ucapan dan tulisannya agar terkesan mewah dan prestisius. Namun kini pendapat itu tak berlaku lagi. Saya menganggap, orang-orang yang demikian adalah pemalas dan bodoh.
Mereka tahu, dalam pembicaraan atau penulisan yang bersifat umum dan ilmiah, penggunaan bahasa yang baku dan lazim merujuk pada kamus bahasa. Banyak sekali kamus bahasa Indonesia beredar di toko buku, baik isinya tebal maupun tipis, baik kualitasnya asli maupun bajakan. Namun berapa banyak wartawan, guru, karyawan, direktur, aktivis LSM, organisasi pemuda dan kemahasiswaan, serta pejabat memiliki kamus bahasa Indonesia? Mereka malas membaca kamus dan membiarkan hal demikian terus berlanjut.
Saya pernah diminta menjadi juri yang menilai hasil pembuatan media (koran/majalah/tabloid) oleh peserta sebuah pelatihan jurnalistik mahasiswa di Jakarta. Mayoritas penulisan bahasanya, baik tata bahasa maupun peristilahan, kacau balau!
“Siapa di antara kalian yang memiliki kamus bahasa Indonesia?” tanya saya. Tak satu pun peserta angkat tangan. “Mana organisasi pers kampus yang punya kamus bahasa Indonesia?” Tak ada juga yang angkat tangan. Saya kecewa. Saya katakan terus terang di depan mereka bahwa hasil tulisan mereka tak ubahnya seperti anak sekolah! Harus banyak belajar bahasa!
Saat itu saya kembali teringat pada sejumlah naskah skripsi mahasiswa yang pernah saya baca. Banyak sekali kesalahan logika, penggunaan tanda baca, dan penggunaan kata keterangan. Barangkali efeknya tak begitu besar jika itu skripsi bidang sosial. Namun jika skripsi bidang kimia dan teknik, bisa-bisa alat eksperimen meledak. Bukan masalah pada ramuan kimia atau susunan kode, melainkan pada bahasa yang menjelaskan cara kerja ramuan kimia dan eksekusi kode.
Jadi tak perlulah berpanjang lebar mengenai aplikasi konsep bahasa sebagai alat pemersatu bangsa. Atau bahasa sebagai produk budaya dan identitas suatu bangsa. Mulailah pemangku kepentingan di bidang bahasa ‘bergerilya’ meluruskan pemakaian ‘bahasa Indonesia yang baik dan benar’ di sekolah, kampus, dan kantor-kantor pemerintahan. Dan biarkan saya asyik menelisik bahasa prokem anak sekolah zaman sekarang di Facebook kendati berulangkali mengerutkan dahi.
Duren Sawit, Jakarta Timur.
Kamis, 24 September 2009. 15.07 WIB.
Belajar Iqra’ dari Profesor
Alhamdulillah, suasana Idul Fitri 1430 Hijriah di Kampung Cilungup I, Duren Sawit, Jakarta Timur, berjalan meriah. Tak banyak perubahan terjadi. Usai shalat ID di Masjid Jami Nurul Yaqin yang membeludak hingga jalan raya, saya sekeluarga saling bermaafan. Usai sarapan pagi, kami menerima tamu kemudian berkeliling silaturahmi ke sejumlah rumah tetangga di sekitar gang.
Menjelang siang, pukul 10.00, saya sekeluarga menyambangi keluarga paman yang beberapa hari lalu masuk rumah sakit karena harus menjalani operasi kanker prostat dan hernia—dua operasi dalam waktu berdekatan. Kembali ke rumah menonton acara ‘Kick Andy’ dan menerima kedatangan saudara dari Bekasi.
Tentu saja ada kebahagiaan tersendiri dalam acara rutin di hari yang fitri ini. Namun kebahagiaan yang hendak saya ceritakan dalam tulisan ini adalah kebahagiaan setelah bersilaturahmi ke rumah Bu Zahara, istri (alm.) Prof. Deliar Noer.
Tadi saya menyambangi rumahnya nan asri bersama seorang teman yang dulu pernah belajar mengaji di mushala belakang rumahnya. Ishak namanya. Ishak membawa anak dan istrinya. “Kamu, Bill?” tanya Bu Zahara. “Belum punya, Bu,” jawab saya disambut tawa.
Terakhir saya bertemu dengan Bu Zahara saat tahlilan meninggalnya Prof. Deliar Noer pada akhir Juni 2008. Tadi, alhamdulillah, beliau kelihatan sehat kendati sisa stroke masih tampak. Tante Yessy (saya dan Ishak memanggilnya demikian), menantunya, juga turut menemani.
Satu cerita tentang (alm.) Prof. Deliar Noer yang tadi diungkapkan Bu Zahara baru saya dengar, yaitu salah satu kebiasaan almarhum sebelum meninggal. “Bapak orangnya nggak bisa diam. Maunya jalan terus. Dia suka ke Gramedia naik bus kota. Sendiri,” urainya.
Toko Buku Gramedia terletak di Jalan Matraman Raya. Untuk mencapainya dari rumahnya di Jalan Swadaya Raya Nomor 7-9, Duren Sawit, beliau harus berjalan kaki sekitar 50 meter ke perempatan lampu merah di seberang Apotek Swadaya. Dari sana naik bus Metromini T 52 jurusan Cakung-Kampung Melayu. Turun di terminal Kampung Melayu, menyambung mikrolet M 01 jurusan Kampung Melayu-Pasar Senen. “Kalau naik mikrolet M 31, turun di Pasar Jatinegara lalu nyambung Mikrolet M 01,” tambah Bu Zahara. Toko Gramedia berada di sebelah kiri Jalan Matraman Raya.
Mendengarnya saya terkejut. Di usianya yang terbilang senja, beliau masih mau bersusah payah mencari buku naik bus kota. Padahal, kalau mau, ia bisa minta diantarkan sopir. Atau pesan buku lewat internet. Padahal perjalanan demikian bagi kakek bercucu tiga itu terbilang jauh. Belum lagi suasana jalanan yang macet, panas, banyak debu. Saya sendiri yang rumahnya beda dua gang dari rumahnya agak malas kalau ke Gramedia naik bus kota.
Bu Zahara juga bercerita, enam bulan sebelum meninggal, beliau masih aktif mengajar di Universitas Krisnadwipayana dan Universitas Indonesia.
Begitulah. Di awal Syawal ini, ada bekal baru yang saya dapat dari cerita Bu Zahara, ibu yang sangat saya hormati saat saya jadi muridnya di pengajian mushala An-Noer, tentang (alm.) Prof. Deliar Noer. Pelajaran tentang kesederhanaan hidup, kecintaan pada ilmu yang sangat tinggi, ketegasan sikap dan disiplin tinggi, serta semangat membuat perubahan yang terus berkobar.
“Saya juga merasa beruntung, Bu, diajari Iqra’ oleh seorang profesor,” ucap saya, tulus, pada Bu Zahara.
Usai berpulangnya beliau memenuhi panggilan Allah SWT., saya membuat beberapa tulisan tentang sosok beliau, suasana pemakamannya di Karet Bivak, dan pengalaman saya berinteraksi dengannya pada 21 Juni 2008. Tulisan tersebut dimuat di blog saya: www.billyantoro.multiply.com.
Menjelang siang, pukul 10.00, saya sekeluarga menyambangi keluarga paman yang beberapa hari lalu masuk rumah sakit karena harus menjalani operasi kanker prostat dan hernia—dua operasi dalam waktu berdekatan. Kembali ke rumah menonton acara ‘Kick Andy’ dan menerima kedatangan saudara dari Bekasi.
Tentu saja ada kebahagiaan tersendiri dalam acara rutin di hari yang fitri ini. Namun kebahagiaan yang hendak saya ceritakan dalam tulisan ini adalah kebahagiaan setelah bersilaturahmi ke rumah Bu Zahara, istri (alm.) Prof. Deliar Noer.
Tadi saya menyambangi rumahnya nan asri bersama seorang teman yang dulu pernah belajar mengaji di mushala belakang rumahnya. Ishak namanya. Ishak membawa anak dan istrinya. “Kamu, Bill?” tanya Bu Zahara. “Belum punya, Bu,” jawab saya disambut tawa.
Terakhir saya bertemu dengan Bu Zahara saat tahlilan meninggalnya Prof. Deliar Noer pada akhir Juni 2008. Tadi, alhamdulillah, beliau kelihatan sehat kendati sisa stroke masih tampak. Tante Yessy (saya dan Ishak memanggilnya demikian), menantunya, juga turut menemani.
Satu cerita tentang (alm.) Prof. Deliar Noer yang tadi diungkapkan Bu Zahara baru saya dengar, yaitu salah satu kebiasaan almarhum sebelum meninggal. “Bapak orangnya nggak bisa diam. Maunya jalan terus. Dia suka ke Gramedia naik bus kota. Sendiri,” urainya.
Toko Buku Gramedia terletak di Jalan Matraman Raya. Untuk mencapainya dari rumahnya di Jalan Swadaya Raya Nomor 7-9, Duren Sawit, beliau harus berjalan kaki sekitar 50 meter ke perempatan lampu merah di seberang Apotek Swadaya. Dari sana naik bus Metromini T 52 jurusan Cakung-Kampung Melayu. Turun di terminal Kampung Melayu, menyambung mikrolet M 01 jurusan Kampung Melayu-Pasar Senen. “Kalau naik mikrolet M 31, turun di Pasar Jatinegara lalu nyambung Mikrolet M 01,” tambah Bu Zahara. Toko Gramedia berada di sebelah kiri Jalan Matraman Raya.
Mendengarnya saya terkejut. Di usianya yang terbilang senja, beliau masih mau bersusah payah mencari buku naik bus kota. Padahal, kalau mau, ia bisa minta diantarkan sopir. Atau pesan buku lewat internet. Padahal perjalanan demikian bagi kakek bercucu tiga itu terbilang jauh. Belum lagi suasana jalanan yang macet, panas, banyak debu. Saya sendiri yang rumahnya beda dua gang dari rumahnya agak malas kalau ke Gramedia naik bus kota.
Bu Zahara juga bercerita, enam bulan sebelum meninggal, beliau masih aktif mengajar di Universitas Krisnadwipayana dan Universitas Indonesia.
Begitulah. Di awal Syawal ini, ada bekal baru yang saya dapat dari cerita Bu Zahara, ibu yang sangat saya hormati saat saya jadi muridnya di pengajian mushala An-Noer, tentang (alm.) Prof. Deliar Noer. Pelajaran tentang kesederhanaan hidup, kecintaan pada ilmu yang sangat tinggi, ketegasan sikap dan disiplin tinggi, serta semangat membuat perubahan yang terus berkobar.
“Saya juga merasa beruntung, Bu, diajari Iqra’ oleh seorang profesor,” ucap saya, tulus, pada Bu Zahara.
Usai berpulangnya beliau memenuhi panggilan Allah SWT., saya membuat beberapa tulisan tentang sosok beliau, suasana pemakamannya di Karet Bivak, dan pengalaman saya berinteraksi dengannya pada 21 Juni 2008. Tulisan tersebut dimuat di blog saya: www.billyantoro.multiply.com.
Duren Sawit, 22 September 2009
Orangtua dan Kesadaran Kita
Tadi, di perempatan Jalan Kolonel Sugiono, Duren Sawit, Jakarta Timur, usai acara berbuka puasa bersama di rumah teman, saya menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau. Seorang bocah perempuan, tampak sebagai pengamen, melintas. Tiba-tiba hati kecil saya berkata, “Bill, lihat, hidupmu lebih beruntung dari dia. Kamu beruntung punya orangtua seperti sekarang.”
Tiba di rumah, sembari istirahat, saya duduk merenung di belakang rumah. Sunyi. Ungkapan hati kecil itu muncul lagi. Lalu saya ke kamar, menggelar matras biru, mematikan lampu, berbaring, memejamkan mata. Sekadar melepas penat sembari mengumpulkan tenaga bekal shalat isya dan tarawih sendiri. Dalam gelap ingatan saya menggelinding pada pengamen cilik itu. Kemudian melompat pada kata hati kecil, “Kamu beruntung punya orangtua seperti sekarang.”
Air mata saya kemudian berlinang. Ingatan saya berlompatan; dari perilaku buruk saya pada orangtua dan pembandingan dengan orangtua si bocah cilik.
“Bill, pernahkah kamu menyadari bahwa hidupmu lebih beruntung dari bocah itu? Lihat, dia malam-malam masih mengamen mengais rezeki! Ke mana orangtuanya? Tidakkah mereka bertanggung jawab pada anak-anaknya; membiarkan anak mereka menggelandang dari satu kendaraan ke kendaraan lain berharap belas kasih orang, tak memikirkan kesehatan si anak, atau tidak memberi jaminan pendidikan yang layak.
“Lalu bagaimana dengan orangtuamu? Sekarang hidupmu terbilang nyaman, Bill. Kamu bisa hidup lebih layak dari bocah itu. Tidur nyaman. Makan terjamin. Sekolah tinggi. Dan kamu kini bisa mengusahakan kerja ditempat yang baik pula. Kamu tak perlu repot-repot menggelandang di jalanan mengumpulkan uang. Tidakkah itu membuktikan bahwa kedua orangtuamu, bapak-ibumu, telah berhasil membuatmu ‘hidup mewah’? Setidaknya hidup yang didambakan oleh pengamen, tunawisma, preman, dan gelandangan.
“Mungkin kamu tidak puas dengan kesederhanaan hidup yang diberikan bapak-ibumu. Mereka tidak memberimu kamar yang luas, rumah mewah, mobil, ruangan berpendingin udara, perabotan mewah, playstation. Atau kamu tidak mendapat sosok yang kamu inginkan pada diri mereka; saleh, teladan baik, santun, pengertian, perhatian, dermawan, memiliki jabatan tinggi, perusahaan, dan banyak warisan.
“Bahkan mungkin kamu membenci mereka. Itu tampak dari cara bicaramu yang ketus pada mereka. Mengucapkan ‘ah’ untuk merespon perilaku mereka yang tidak berkenan di hatimu. Atau kamu mengabaikan ucapan mereka karena kamu anggap tidak berbobot.
“Tapi, Bill, lihatlah! Buka matamu baik-baik! Gunakan akal sehatmu! Tidakkah kedua orangtuamu telah berhasil menjauhkanmu dari kehidupan kejam jalanan? Mereka tidak membiarkanmu menggelandang. Mereka tak membiarkanmu mencari uang di jalan agar hari ini dan besok bisa makan sejumput nasi.
“Mereka, sejak kau lahir, bekerja keras membanting tulang menguras keringat agar hidupmu layak. Mereka mengurangi bagian makanannya untukmu demi pertumbuhan tubuhmu. Mereka mendoakanmu siang-malam agar hidupmu sehat, pintar, dan mencapai keberuntungan.
“Tapi apa yang kau perbuat pada mereka, Bill? Kamu membentak mereka lantaran kecewa. Kamu mengabaikan mereka. Kamu selalu merasa benar karena pendidikanmu lebih tinggi dari mereka. Kamu tidak memberi toleransi jika mereka bersalah.
“Bill, buka kesadaranmu tinggi-tinggi! Siapa sesungguhnya yang telah membuat kedua orangtuamu menjagamu hingga kau dewasa kini? Siapa yang menanamkan kasih sayang dan tanggung jawab di hati mereka kepadamu?
“Tuhanmu, Allah! Dialah yang lewat tangan kedua orangtuamu memberimu keberuntungan hidup. Dia tidak menakdirkanmu hidup di jalan, mengais rezeki dari mengemis, dan mengumpulkan uang dari cara tak halal. Itulah nikmat yang Allah berikan padamu, Bill! Dan itu belum seberapa!
“Maka kenapa ketika Ia memintamu agar menghormati orangtuamu, menjaganya kala mereka renta, kamu tidak melakukannya? Di mana harga dirimu? Di mana nilai kemanusiaanmu? Maukah kau disamakan dengan binatang ternak yang melupakan orangtuanya setelah beranjak dewasa?
“Bill, jujurlah pada dirimu sendiri, tidakkah nikmat-nikmat Tuhanmu telah kau dustakan? ‘Fabiayyi aa laaa irabbikumaa tukadzdzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’ Sebanyak 31 kali Ia mengingatkanmu dalam surat Ar-Rahman; ayat 13, 16, 18,21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77.
“Kau beruntung diberikan rumah yang melindungimu dari panas dan hujan. Tubuh sehat. Banyak teman. Sekolah tinggi. Pekerjaan layak. Kasih sayang saudara-saudara. Apalagi yang kurang sehingga segala perintah Tuhanmu tak kau indahkan?
“Maka, Bill, perlakukan kedua orangtuamu dengan baik. Kalau tidak setuju pendapat mereka, bantahlah dengan cara yang baik. Kecilkan suaramu di hadapan mereka. Hibur mereka kala sedih. Beri mereka seulas senyum tiap hari. Apakah itu memberatkanmu?
“Bill, keberatanmu terhadap kualitas mereka tak sebanding dengan pengorbanan mereka untukmu.”
Teman, inilah kesadaran yang saya miliki hari ini. Kesadaran yang barangkali sudah kalian rasakan jauh-jauh hari. Maka izinkan saya membagi cerita ini kepada teman-teman yang belum tersentuh kesadarannya, bahwa kita, anak, harus menghormati orangtua. Apapun kesulitannya.
Tiba di rumah, sembari istirahat, saya duduk merenung di belakang rumah. Sunyi. Ungkapan hati kecil itu muncul lagi. Lalu saya ke kamar, menggelar matras biru, mematikan lampu, berbaring, memejamkan mata. Sekadar melepas penat sembari mengumpulkan tenaga bekal shalat isya dan tarawih sendiri. Dalam gelap ingatan saya menggelinding pada pengamen cilik itu. Kemudian melompat pada kata hati kecil, “Kamu beruntung punya orangtua seperti sekarang.”
Air mata saya kemudian berlinang. Ingatan saya berlompatan; dari perilaku buruk saya pada orangtua dan pembandingan dengan orangtua si bocah cilik.
“Bill, pernahkah kamu menyadari bahwa hidupmu lebih beruntung dari bocah itu? Lihat, dia malam-malam masih mengamen mengais rezeki! Ke mana orangtuanya? Tidakkah mereka bertanggung jawab pada anak-anaknya; membiarkan anak mereka menggelandang dari satu kendaraan ke kendaraan lain berharap belas kasih orang, tak memikirkan kesehatan si anak, atau tidak memberi jaminan pendidikan yang layak.
“Lalu bagaimana dengan orangtuamu? Sekarang hidupmu terbilang nyaman, Bill. Kamu bisa hidup lebih layak dari bocah itu. Tidur nyaman. Makan terjamin. Sekolah tinggi. Dan kamu kini bisa mengusahakan kerja ditempat yang baik pula. Kamu tak perlu repot-repot menggelandang di jalanan mengumpulkan uang. Tidakkah itu membuktikan bahwa kedua orangtuamu, bapak-ibumu, telah berhasil membuatmu ‘hidup mewah’? Setidaknya hidup yang didambakan oleh pengamen, tunawisma, preman, dan gelandangan.
“Mungkin kamu tidak puas dengan kesederhanaan hidup yang diberikan bapak-ibumu. Mereka tidak memberimu kamar yang luas, rumah mewah, mobil, ruangan berpendingin udara, perabotan mewah, playstation. Atau kamu tidak mendapat sosok yang kamu inginkan pada diri mereka; saleh, teladan baik, santun, pengertian, perhatian, dermawan, memiliki jabatan tinggi, perusahaan, dan banyak warisan.
“Bahkan mungkin kamu membenci mereka. Itu tampak dari cara bicaramu yang ketus pada mereka. Mengucapkan ‘ah’ untuk merespon perilaku mereka yang tidak berkenan di hatimu. Atau kamu mengabaikan ucapan mereka karena kamu anggap tidak berbobot.
“Tapi, Bill, lihatlah! Buka matamu baik-baik! Gunakan akal sehatmu! Tidakkah kedua orangtuamu telah berhasil menjauhkanmu dari kehidupan kejam jalanan? Mereka tidak membiarkanmu menggelandang. Mereka tak membiarkanmu mencari uang di jalan agar hari ini dan besok bisa makan sejumput nasi.
“Mereka, sejak kau lahir, bekerja keras membanting tulang menguras keringat agar hidupmu layak. Mereka mengurangi bagian makanannya untukmu demi pertumbuhan tubuhmu. Mereka mendoakanmu siang-malam agar hidupmu sehat, pintar, dan mencapai keberuntungan.
“Tapi apa yang kau perbuat pada mereka, Bill? Kamu membentak mereka lantaran kecewa. Kamu mengabaikan mereka. Kamu selalu merasa benar karena pendidikanmu lebih tinggi dari mereka. Kamu tidak memberi toleransi jika mereka bersalah.
“Bill, buka kesadaranmu tinggi-tinggi! Siapa sesungguhnya yang telah membuat kedua orangtuamu menjagamu hingga kau dewasa kini? Siapa yang menanamkan kasih sayang dan tanggung jawab di hati mereka kepadamu?
“Tuhanmu, Allah! Dialah yang lewat tangan kedua orangtuamu memberimu keberuntungan hidup. Dia tidak menakdirkanmu hidup di jalan, mengais rezeki dari mengemis, dan mengumpulkan uang dari cara tak halal. Itulah nikmat yang Allah berikan padamu, Bill! Dan itu belum seberapa!
“Maka kenapa ketika Ia memintamu agar menghormati orangtuamu, menjaganya kala mereka renta, kamu tidak melakukannya? Di mana harga dirimu? Di mana nilai kemanusiaanmu? Maukah kau disamakan dengan binatang ternak yang melupakan orangtuanya setelah beranjak dewasa?
“Bill, jujurlah pada dirimu sendiri, tidakkah nikmat-nikmat Tuhanmu telah kau dustakan? ‘Fabiayyi aa laaa irabbikumaa tukadzdzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’ Sebanyak 31 kali Ia mengingatkanmu dalam surat Ar-Rahman; ayat 13, 16, 18,21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77.
“Kau beruntung diberikan rumah yang melindungimu dari panas dan hujan. Tubuh sehat. Banyak teman. Sekolah tinggi. Pekerjaan layak. Kasih sayang saudara-saudara. Apalagi yang kurang sehingga segala perintah Tuhanmu tak kau indahkan?
“Maka, Bill, perlakukan kedua orangtuamu dengan baik. Kalau tidak setuju pendapat mereka, bantahlah dengan cara yang baik. Kecilkan suaramu di hadapan mereka. Hibur mereka kala sedih. Beri mereka seulas senyum tiap hari. Apakah itu memberatkanmu?
“Bill, keberatanmu terhadap kualitas mereka tak sebanding dengan pengorbanan mereka untukmu.”
Teman, inilah kesadaran yang saya miliki hari ini. Kesadaran yang barangkali sudah kalian rasakan jauh-jauh hari. Maka izinkan saya membagi cerita ini kepada teman-teman yang belum tersentuh kesadarannya, bahwa kita, anak, harus menghormati orangtua. Apapun kesulitannya.
Cilungup, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Sabtu, 05 September 2009. 22.21 WIB.
Sabtu, 05 September 2009. 22.21 WIB.
Langganan:
Postingan (Atom)


