Total Tayangan Halaman

Kamis, 21 April 2011

Who Is Your Idol?


 

Sengat mentari pagi begitu terasa ketika saya menginjakkan kaki di halaman gedung Istora Senayan Jakarta, Sabtu, 19 Juni 2004. Ya, selama sembilan hari itu, sampai 27 Juni, di tempat tersebut digelar pameran buku. Forum Lingkar Pena (FLP), sebagai organisasi kepenulisan, bersama beberapa organisasi perbukuan lainnya ikut berperan serta dengan mendirikan stan.

Stan FLP masih sepi. Segeralah saya menyiapkan segala hal yang dipamerkan; buku, formulir pendaftaran, dll. Tak berapa lama satu suara menyapa ketika saya sedang menggelar karpet.

“Assalamu ‘alaikum. Billy sendirian? Yang lain pada ke mana?”

“Wa ‘alaikum salam. Belum pada datang, Mbak. Mungkin sebentar lagi.”

Suara ramah itu milik perempuan anggun yang senyumnya ‘selalu begitu’; lebar tanpa memperlihatkan giginya. Dialah Helvy Tiana Rosa, tokoh sastra islami Indonesia yang juga Ketua Umum FLP. Saya tak bermaksud berbangga hati, dialah ‘pengunjung’ pertama stan FLP dan saya penerima tamunya.

Sambil merangkai sejumlah tali berwarna untuk ditempeli foto-foto kegiatan Rumah Cahaya di Penjaringan, saya berbincang dengannya. Soal keperluannya datang awal, yaitu untuk memenuhi undangan panitia pameran membuka acara, hingga pertanyaan saya, “Mbak, tulisan saya dimuat di antologi yang Mbak buat, ya?”

Dengan ramah ia menjawab, “Iya. Tapi maaf ya tulisan Billy mbak ubah-ubah sedikit.”

Dengan jawaban seperti itu benak saya terheran, “Kenapa ya penulis kawakan seperti Mbak Helvy merendah diri dengan mengatakan ‘maaf’ kepada saya yang masih pemula? Padahal mengoreksi tulisan seorang pemula seperti saya adalah kewajaran?”

Beberapa saat kemudian Rahmania Arunita, penulis novel Eifel I’m In Love, datang. Ia mengedarkan pandangan ke stan FLP seperti mencari sesuatu.

“Faiz belum datang, ya?” tanyanya, entah kepada siapa. Yang dicarinya Abdurrahman Faiz, penulis cilik yang telah membukukan puisi-puisinya dan juara pertama sayembara penulisan ‘Surat untuk Presiden’ yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta.

“Belum, dia datang besok,” jawab Mbak Helvy. Seorang perempuan yang saya tidak kenal, yang berdiri di samping Rahmania, membisikinya kalau orang yang menjawab pertanyaannya barusan adalah Helvy Tiana Rosa. Saya berpikir Rahmania belum kenal wajah Mbak Helvy. “Saya ibunya. Memang ada apa?”
Dengan mimik yang baru saja berubah, Rahmania berkata, “Aduh, saya suka sama puisi-puisinya. Saya jadi pengin ketemu.”

Perbincangan keduanya berlanjut. Seperti ketidaktahuan Rahmania kenapa dia diundang panitia dalam pembukaan pameran, juga, mudah-mudahan saya tidak salah dengar, rencananya untuk menikah dalam waktu dekat.    

***

Saya merekam dan menuliskan peristiwa itu dalam catatan saya. Sebuah kesan mendalam tentang seorang Helvy Tiana Rosa—kini ia tidak lagi menjabat Ketua Umum FLP.

Tulisan yang saya tanyakan kepadanya termuat dalam buku antologi ‘Matahari Tak Pernah Sendiri: Di Sini Ada Cinta! 2’ yang terbit enam bulan kemudian (Desember 2004)—diterbitkan Lingkar Pena Publishing House. Satu tulisan saya itu bertajuk ‘Belajar Dari Azimah’.

Nama (pena) lengkapnya Azimah Rahayu. Saya memujinya sebagai ‘perempuan energik yang pernah saya temui’. Selain bekerja sebagai pegawai negeri sipil, Azimah sangatlah sibuk mengurusi kegiatan organisasi—ia Ketua FLP DKI Jakarta periode 2002-2004. Ia mondar-mandir kesana-kemari hingga larut malam. Sikap dan tutur katanya begitu bersemangat seperti tidak mencerminkan kelelahan aktivitasnya. Di situlah saya mengaguminya. Dan, kini, ia memegang amanah sebagai Ketua Harian FLP. Mendampingi Irfan Hidayatullah, Ketua Umum FLP yang juga dosen Universitas Padjadjaran, Bandung.  

Orang ketiga di jajaran FLP yang saya kagumi adalah Gola Gong, sastrawan kawakan yang sejak 2002 mendirikan Rumah Dunia di Serang, Banten. Ingin sekali saya bertemu dan berbincang langsung dengannya. Nama dan pengabdian panjangnya di dunia tulis-menulis hanya bisa saya dengar dari cerita teman dan bacaan media cetak.

Alhamdulillah pada 30 Juli kemarin saya dan teman-teman FLP DKI bertandang ke Rumah Dunia. Wew, menyenangkan sekali! Di sana kami bisa melihat langsung bagaimana rupa Rumah Dunia; perpustakaan, panggung pentas, kedai buku, taman bermain, dll. Yang sangat menggembirakan adalah bisa berdiskusi dengannya.

Ia bercerita banyak mengenai karir menulisnya sejak SMA. Juga bagaimana perjuangan mendirikan Rumah Dunia. Bagian inilah yang saya kagumi darinya. Ketulusan dan pengorbanannya begitu besar, tanpa mengharap imbalan sedikitpun. Ia ingin semua orang senang membaca dan bisa menulis. Sebab dari sinilah Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan. Qizink La Aziva, seorang relawan yang sudah lima tahun ‘menetap’ di sana, mengatakan soal Rumah Dunia: “Masuk sini nggak ada yang bayar dan dibayar”. Di zaman yang serba komersil ini, solidaritas dan tempat seperti ini sangatlah sulit dicari.  

Bolehlah kita mengagumi atau mengidolakan seseorang. Namun, bagi saya, tentu saja Rasulullah Muhammad Saw. tauladan utama. Selain dari diri Rasulullah dan para Sahabat, kita bisa belajar dari orang terdekat; mereka yang memberi tanpa meminta, mereka yang berjuang untuk mengubah masyarakat. Bukan kepada mereka yang cuma bisa bernyanyi dan minta dikirimi SMS sebanyak-banyaknya. So, who is your idol?  



*Tulisan ini dibuat sekitar setahun yang lalu. Lupa dicantumkan tanggal pembuatannya.














Anugerah Terindah Tahun Baru


Haruskah pergantian tahun dirayakan secara meriah? Dengan pesta kembang api, konvoi kendaraan di jalan-jalan, atau baker ayam bersama teman, misalnya? Barangkali banyak di antara kita, meski menolak kegiatan mubazir itu, ingin mengisi pergantian tahun dengan acara-acara yang menyenangkan, baik bersama teman, saudara maupun keluarga. Intinya berkumpul. Dan saya termasuk yang “mengamalkan” ini.

Tapi sudah dua kali pergantian tahun ini tidka saya isi dengan acara seperti itu. Pada pergantian tahun 2004 kemarin, saya menghabiskan malam di rumah. Menonton TV. Suasananya pun berbeda: duka cita. Ya, saudara-saudara kita di Nanggroe Aceh Darussalam tertimpa bencana gempa tektonik dan tsunami. Tepatnya pada Ahad pagi 26 Desember.Ratusan ribu jiwa korbannya. Astaghfirullah, ditambah dengan korban lain di Inia, Srilanka, Thailand dan Malaysia, jumlah korban masyarakat sipil tersebut adalah terbesar setelah perang dunia II tahun 1945!

Bersyukur saya dan teman-teman mahasiswa lain bisa melakukan aksi penggalangan dana. Selama tiga hari, 28-30 Desember, kami menyebar kotak-kotak kardus di lingkungan kampus UNJ dan sekitarnya—Jalan Pemuda, Jalan Rawamangun Muka dan By Pass. Pada 30 Desember kami menggelar pentas amal berupa pertunjukan seni; tari, musik, paduan suara dan pembacaan puisi. Alhamdulillah, selama tiga hari itu barang-barang bantuan seperti uang, pakaian dan makanan terkumpul banyak. Sekretariat redaksi di mana saya aktif di lembaga pers kampus, yang dijadikan posko bantuan, disesaki barang-barang tersebut. Keesokan harinya, 31 Desember, kami menyerahkan bantuan itu ke PMI DKI Jakarta. Betapa senang kami melakukannya, walau kami sadar bantuan itu tak seberapa besarnya.

Setahun sebelumnya saya melewatkan pergantian tahun tika di rumah bersama keluarga, atau tempat lain bersama-sama teman kuliah, melainkan di atas mobil pengiring ambulans yang membawa jenazah! Lewat jendela mobil, di tengah jalan—saya lupa nama daerahnya—yang isesaki para pengendara motor dan mobil yang merayakan pergantian tahun, saya bisa melihat percik-percik kembang api berwarna-warni menghiasi langit malam, menandai 1 Januari 2004. Indah sekali.  Suasana yang terbangun hanyalah kegembiraan. Kontras sekali engan suasana hati keluarga an saudara seorang teman yang ayahnya meninggal itu.

Pada 31 Desember itu tiba-tiba saya mendengar kabar kematian ayah teman saya itu. Saya segera meluncur ke sebuah rumah sakit di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur, tempat sebelumnya ia dirawat karena pentakit struk. Dari sana, rombongan membawa jenazah ke sebuah rumah di Pondok Gee, Jakarta Timur, milik saudara kandung mayit. Di sana mayit dimandikan dan disalatkan, untuk kemudian di bawa ke Ambarawa, Jawa Tengah.

Meski perjalanan relatif jauh, tapi itulah keinginan teman saya. Ia ingin ayahnya dikubur berdekatan dengan makam ibunya yang telah lama mendahului. Ia mengajak saya mengiringi jenazah ayahnya ke kota kecil dengan Kota Semarang itu.

Saya berpikir, hal apa yang bisa saya lakukan uintuk membuatnya terhibur., atau setidaknya membuatnya senang. Saya, sebagai temannya yang telah berjuang bersamanya di lembaga pers mahasiswa selama lima tahun, merasa harus berbuat sesuatu. Sebenarnya masalahnya hanya karena itu tiba-tiba an saya tiak bawa pakaian ganti. Lagi pula, kalau saya ikut, keluarga di rumah tika tahu kepergian saya karena tika ada nomor telepon yang bisa ihubungi. Andai ada teman lain yangbisa ikut, saya tidka akan memenuhi ajakannya lantaran alasan-alasan tadi,. Lalu, akhirnya, saya memutuskan ikut. Semoga bisa mengurangi kesedihannya, batin saya.

Selama perjalanan saya tiak satu mobil engannya. Ia menemani jenazah ayahnya di mobil ambulans. Dan, saya yakin, kemeriahan pergantian tahun di jalan-jalan yang kami lewati, tak membuat hatinya luruh untuk ikut bergembira. Sebab tak ada alsan kuat untuk melakukannya.

Saya berpikir, saat itu, bilamana semua peristiwa itu tak terjadi, barangkali saya sedang bersenang-senang dengan teman-teman di kampus, berdiskusi sambil bakar ayam. Melewati pergantian tahun dengan begadang. Tapi pikiran sya yang lain berkata sebaliknya. Mestinya saya bersyukur bisa melewatkan pergantian tahun di ekat seorang teman yang tertimpa musibah. Bukankah ini suatu keajaiban: di tengah suasana gembira banyak orang, saya berada jauh darinya dan duduk di samping seorang teman yang sedang bersedih? Dan, seharusnya, kondisi ini disyukuri. Maka saat itu saya mengucap syukur kepada Allah Swt. bahwa saat pergantian tahun saya sedang melakukan kebaikan.

Saya adalah orang yang suka melakukan hal-hal baru, termasuk di dalamnya bersikap melawan arus, berbeda dari kebanyakanorang dan berusaha menikmati tiap situasi tak menyenangkan. Saya mengalami kesenangan,misalnya, menjadi jomblo di tengah budaya berpacaran yangmelanda teman-teman sebaya saya; melakukan kebaikan dengan membaca Qur’an i malam Minggu saat banyak orang berbuat maksiat; berpenampilan biasa saja sementara teman-teman lain menebar pesona untuk menarik perhatian lawan jenis; menebat dosen yang merasa diri paling benar ketika mahasisw lain takut bersuara; memakai sandal atau kaos oblong—tidak bersepatu dan berpakaian rapi—saat mewawancarai pejabat kampus (yang ini jangan dicontoh, he..he..). Dan, peristiwa di malam pergantian tahun2003 itu, bagi saya, adalah anugerah terindah dari Allah Swt. Saya yakin, ini sangat langka terjadi!

Apa hikmah cerita di atas? Buat saya satu: Sebaik-baik situasi adalah ketika kita bisa menghibur orang yang bersedih seraya mengucap syukur kepada Allah Swt. Sebaik-baik manusia, sabda Nabi Mihammad Saw., adalah yang berguna bagi sesamanya. 


Artikel ini ditulis pada tahun 2005.

Suatu Hari Tentang Didaktika

Rapat Kerja Lembaga Pers Mahasiswa DIDAKTIKA Universitas Negeri Jakarta, pertengahan 2002.

“Tidak mungkin, Bil. Anggota kita tidak banyak. Kita harus realistis.”

“Rencana itu bisa dilakukan jika anggota kita banyak.”

“Untuk mengerjakan majalah saja kita keteter dengan jumlah anggota yang ada.”

Berkali-kali peserta Raker meyakinkan saya bahwa salah satu program kerja saya sebaiknya dibatalkan saja.

“Tapi kita harus optimis. Kita harus memaksimalkan potensi yang ada. Lagi pula kita belum tahu berapa jumlah anggota baru kita nanti.” Berulangkali saya meyakinkan teman-teman tapi sepertinya dinding tebal itu tetap kokoh untuk ditembus. Saya kemudian menoleh pada Bagas, Sekretaris Redaksi.  

“Tidak mungkin, Bil. Kita harus realistis,” kata Bagas dengan suara tertatih sambil menggelengkan kepala. 

Sejenak saya terdiam. Tidak tahu harus berkata apalagi untuk meyakinkan mereka. Tiba-tiba mata saya berkaca-kaca namun saya bisa mengendalikan diri. Rencana yang telah disusun dengan penuh optimisme itu terpaksa harus luruh.   

Selang dua bulan kemudian, usai penerimaan mahasiswa baru, Didaktika membuka rekrutmen anggota baru. Tak dinyana, pendaftarnya relatif banyak. Lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya: 92 orang. Tak disangka lagi, peserta yang ikut Orientasi Didaktika di kawasan Pondok Labu Jakarta Selatan itu membeludak. Jumlahnya 41 orang. Untung saja tempat orientasi adalah sebuah rumah bekas madrasah sehingga ruangan yang dipakai untuk acara orientasi mencukupi.

Saya masih ingat, hajatan Divisi Kaderisasi kali ini berjalan cukup khidmat. Acara dua hari itu banyak diisi dengan diskusi pada pagi hingga sore. Malamnya, untuk kali kedua sebagaimana dilakukan pada Orientasi Didaktika tahun sebelumnya, digelar semacam Jurig Malam. Peserta dikumpulkan dalam beberapa kelompok, berjalan menyusuri jalanan yang gelap dan berliku, menyinggahi beberapa pos.

Pos dijaga oleh beberapa panitia. Mereka ditanya seputar pengetahuan mengenai organisasi Didaktika, penulisan jurnalistik, dan wawasan umum. Di akhir acara, mereka dikumpulkan di satu lapangan luas di seberang pekuburan. Di tempat itu mereka diajak refleksi diri. Usai mendengar kumandang azan Subuh yang terdengar sayup dari kejauhan, saya membacakan puisi panjang diiringi suara sendu seruling yang ditiup Maoly. Beberapa peserta mengisak tangis.

Proses pengkaderan terus berlanjut. Dalam pandangan saya, ujung tombak pengkaderan organisasi jurnalistik adalah Divisi Kaderisasi dan Divisi Penerbitan. Kedua Divisi Kaderisasi dipegang Rahmat Sulaiman alias Ugay. Tapi sayang, pernikahannya membuatnya tak lagi aktif di Didaktika. Jadilah pengkaderan pincang.


Haluan dan Selip Kampus
Yang menjadi fenomena menarik saat itu adalah, setelah acara orientasi, anggota baru Didaktika lumayan banyak yang aktif datang ke sekretariat di Gedung G ruang 304. Mereka mengikuti Kursus Jurnalistik Singkat (Kupikat) dan acara-acara diskusi yang digelar Divisi Kaderisasi. Potensi ini memicu saya menjalankan rencana yang kandas saat Raker: membuat buletin Haluan edisi cetak dan membuat buletin baru pengganti Haluan yang ditempel di mading-mading kampus.

Ada beberapa pertimbangan kenapa buletin Haluan harus tampil cetak. Pertama, semakin banyak media, semakin banyak wadah pembelajaran bagi anggota Didaktika. Kedua, tampilan cetak mengharuskan pengelolanya bekerja serius ketimbang mengerjakan media yang cuma difotokopi lalu ditempel di mading kampus. Ketiga, Haluan edisi cetak dijual dan memuat iklan. Ini bisa jadi pembelajaran bagi Divisi Perusahaan.  

Pembuatan Haluan edisi cetak tak dihalangi teman-teman. Persyaratan yang mereka ajukan sudah terpenuhi: anggota baru banyak. Maka saya dibantu Bagas membuat dummy haluan edisi cetak yang tampil beberapa halaman—sekitar 12 halaman. Haluan cetak perdana berwarna biru, dijual Rp 300, headline-nya tentang kisruh pelaksanaan bakti sosial di Fakultas Teknik. Haluan cetak diterbitkan mulai edisi ketiga—edisi satu dan dua yang dikelola anggota baru dalam versi fotokopi-tempel.

Pemilihan Pemimpin Redaksi Haluan tidak pakai sistem tunjuk sebagaimana dilakukan Pemred majalah sebelumnya. Pemred Haluan pertama dipilih lewat proses pemilihan mandiri. Anggota baru dipersilakan mencalonkan diri. Kandidat yang maju diadu. Mereka mempresentasikan visi-misi dan hal apa saja yang akan dilakukan ketika menjadi Pemred. Pemred pertama Haluan edisi cetak adalah Fitara, mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Pengganti Haluan adalah buletin Selip Kampus. Pemred pertamanya, yang dipilih lewat pemilihan mandiri, adalah Edy Dwinanto, mahasiswa Jurusan Ekonomi.

Secara konsep, Selip Kampus adalah versi fotokopi Haluan; empat halaman, fotokopi hitam putih, ditempel di mading kampus. Namun gaya bahasa yang dipakai lebih ringan, mengakomodasi bahasa gaul, dan bersifat naratif—beda dengan Haluan yang memakai bahasa formal dan bergaya hardnews walau semestinya feature. Pemilihan judul dan tema juga mengedepankan hal yang sensasional.

Konsep Selip Kampus didasarkan pada kondisi mahasiswa yang malas membaca—senang baca bacaan yang ringan—suka pada hal baru dan pragmatis, dan tertarik pada hal-hal yang sensasional. Dua tema unik yang pernah diangkat buletin ini adalah kasus hipnotis dan ekshibisionis yang berkeliaran di kampus.    

Jurnalis yang mengisi Haluan dan Selip Kampus adalah anggota baru. Mereka diperkenalkan dengan kehidupan di ruang redaksi sebelum dilibatkan dalam pembuatan majalah Didaktika. Pengurus bertindak sebagai fasilitastor dan pengawas saat mereka melakukan rapat proyeksi, rapat redaksi, peliputan, dan penulisan. Sementara posisi editor tetap dipegang pengurus.
   
Kendati media baru bertambah satu, saya masih memandang media pembelajaran bagi anggota dan pengurus Didaktika masih kurang. Tidak semua anggota baru terakomodasi dalam penerbitan Selip Kampus dan Haluan yang terbit saling mengisi dwimingguan. Sementara pengurus hanya mengerjakan majalah yang terbit beberapa bulan sekali. Siklus atau alur kerja redaksi seperti birokrasi yang tidak bisa mengakomodasi semua anggota untuk mengasah kemampuan menulis dan menampilkannya ke publik UNJ. 

Berdasarkan kenyataan di atas, saya mencoba merevitalisasi keberadaan Haluan Newsletter. Media satu lembar yang terbit mingguan dan ditempel di mading-mading kampus ini harus ditulis oleh semua pengurus secara bergantian. Tiap pengurus diberi jadwal penulisan. Haluan Newsletter mengulas isu-isu penting seputar kampus, nasional, dan internasional. Ditulis dalam bentuk opini.

Selain Haluan Newsletter, dibuat pula majalah dinding (mading) Didaktika. Ditempel di dinding sekretariat Didaktika. Isi mading bebas. Bisa ditulis dan ditempel kapan saja. Penempelannya bisa dikreasikan sebagaimana isi mading di sekolah-sekolah.  

Tak puas dengan lima media yang ada (Majalah Didaktika, Buletin Haluan, Buletin Selip Kampus, Haluan Newsletter, dan mading), Didaktika mempelopori pembuatan mading Gedung G. Mading ini berdiri kokoh di depan Gedung G. Mading berisi info seputar kegiatan kampus, kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa, dan opini.

Penerbitan Majalah Didaktika relatif tidak jauh beda dengan penerbitan sebelumnya. Alur kerja redaksi tak banyak berubah. Tema yang diangkat pun tak jauh dari isu-isu hangat nasional yang lebih condong ke arah politik.

Inovasi
Selain kemunculan Haluan edisi cetak, buletin Selip Kampus, revitalisasi Haluan Newsletter, dan mading Didaktika, inovasi lain terletak pada cara kerja redaksi. Saya melihat, pewaktuan dan penjadwalan alur kerja redaksi tidak detail sehingga terkesan tidak transparan. Pemred sebelumnya hanya mengganti tanggal pada alur kerja redaksi yang sudah dibuat; rapat proyeksi, rapat redaksi, reportase, penulisan, editing, lay out, cetak, dan rapat evaluasi. Sedangkan siapa penanggung jawab rubrik tak dicantumkan/diumumkan. Akibatnya antar kru redaksi tidak bisa saling mengingatkan dan koordinasi pun hanya dilakukan saat rapat.

Maka, selain membuat alur waktu dan jadwal secara umum, saya membuat alur waktu dan kerja secara detail. Di tempel di dinding agar semua bisa baca. Formatnya terdiri dari nama penulis, rubrik yang dipegang, tema liputan, dan deadline penulisan. Dengan demikian tidak hanya Pemred yang tahu sejauh mana pencapaian kinerja tiap kru. Semua kru bisa saling tahu kemajuan peliputan kru yang lain. Model seperti ini digunakan pula untuk pewaktuan dan penjadwalan buletin Haluan dan Selip Kampus.

Format lain yang lebih detail dibuat untuk tiap kru. Tiap kru wajib mengisi format ini untuk dipantau sejauh mana perkembangan peliputannya. Jika format sebelumnya dititiberatkan pada alur kerja redaksi. Maka format ini berfokus pada nara sumber. Formatnya: Nama nara sumber, pekerjaan/jabatan, tema, alamat, nomor telepon, dan waktu wawancara. Namun sayang, inovasi ini tidak disambut baik kru Didaktika. Hanya sekali saya membuat format tersebut untuk pembuatan majalah Didaktika. Karena tidak ada yang mengembalikan format, maka saya tidak meneruskan program itu. Barangkali mereka belum memandang penting pendokumentasian nara sumber.

Satu hal yang mengganggu dalam penulisan yang dilakukan teman-teman adalah perhatian terhadap cara penulisan itu sendiri. Ini tampak saat waktunya editing. Pertama, gaya penulisan. Gaya penulisan kebanyakan hardnews, gaya penulisan koran. Padahal, dalam bentuk majalah, gaya tulisannya seharusnya feature. Kedua, diksi atau pemilihan kata. Pengaruh bacaan sangat tinggi terhadap tulisan. Masalahnya, buku bacaannya kebanyakan buku ilmiah bertema politik, ekonomi, sosial, filsafat, dan antropologi. Sedikit yang baca sastra (cerpen, novel). Sehingga diksi yang digunakan dalam tulisan dapat dikatakan menggunakan “bahasa tingkat tinggi”. Selain sulit dicerna, juga ruwet dalam penyajian—alur berpikirnya rumit meski secara logika benar. Ketiga, ejaan banyak sekali yang salah. Kebanyakan penulis tidak melakukan editing sama sekali. Ini dapat dimengerti karena tulisan ditulis dalam keadaan deadline dan terburu-buru. Keempat, masih banyak yang belum menguasai penggunaan tanda baca. Ini akibat editing tidak dilakukan sehingga tanda titik, koma, dan kutip tidak diletakkan dengan benar.

Untuk mengurangi kendala teknis seperti itu, saya membuat sejumlah tulisan sederhana berkaitan dengan hal tersebut. Misalnya saya menulis tentang fungsi-fungsi tanda baca, bagaimana merangkai kata menjadi kalimat dan merangkai kalimat menjadi paragraf.    


Belum selesai...
        






Selasa, 22 Maret 2011

Kloset

Di negeri yang korup ini, hukum sudah jadi kloset umum. Tiap orang yang masuk ke dalamnya harus membayar sejumlah uang agar hajatnya terpenuhi. Ketika peluit menyalak, pintu kloset terbuka. Semua mata terbelalak. Orang-orang yang biasa buang hajat di dalamnya terkuak; polisi, jaksa, hakim, pengacara, Pegawai Negeri Sipil, pengusaha.

Presiden dipertanyakan hati nuraninya karena masih bisa senyum ketika dirinya ramai-ramai dikhianati anak buahnya sendiri. Masyarakat tak lagi percaya aparat penegak hukum. Tawuran warga merebak di mana-mana. Mereka malas mengadukan perkara ke polisi. Malah, mereka berani menyerang polisi saat hajat terhalang. Polisi tak lagi dekat di hati masyarakat.

Sebagian lagi terbengong-bengong. Mudah sekali rakyat cilik dijerat hukum. Prosesnya begitu cepat. Beda dengan kasus pejabat yang lamanya bukan main. Masyarakat sudah paham soal itu: hukum sedang diperjual-belikan.

Yang protes diintimidasi. Seniman eks-nara pidana diancam bunuh usai menelurkan lagu yang membuka aib itu: hukum bisa dibeli. Demontrasi dibalas pentungan dan penangkapan.

Di gedung batok kelapa, segelintir penghuninya tak kalah brengseknya. Sebelum palu diketuk, draft hukum ditukar-tukar dengan uang, harta, dan jabatan. Yang tertangkap basah berbuat tak senonoh, seperti memeras dan korupsi, masih bangga cekakak-cekikik di depan kamera televisi dengan pakaian necis. Mereka tahu dan hafal tempat buang hajat alias kloset umum belum berubah, dan para penjaganya akan tetap memuliakannya.

Sudah selesai? Belum. Satu saja lagi: koruptor masih dilantik jadi pejabat walikota, lalu melantik bawahannya, lalu santai di hotel prodeo. Logika ini mestinya tak keluar dari kerangkeng mistik. 

Sebutan ‘halus’ apa bagi negeri seperti ini? ‘Negeri Para Bedebah’, kata Adhie Massardi.

Gerakan
Dulu, setahun setelah terjungkalnya sang diktator Presiden Soeharto, seorang cendekiawan muslim mempertanyakan para sarjana hukum dan kampus-kampus yang meluluskan mahasiswa jurusan hukum: masak tak bisa menyeret sang tiran ke meja hijau? Setelah sang tiran mati, para sarjana hukum diam seribu bahasa dan membiarkan sang cendekiawan pulang dengan tanya yang belum terjawab.

Pertanyaan itu memang masih relevan: ke mana para sarjana hukum Indonesia? Kenapa membiarkan para bedebah menguasai negeri ini dengan menggunakan hukum-hukum positif?

Pertanyaan diperluas: kemana para aparat penegak hukum yang jujur, yang bertekad mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari rongrongan para bedebah lokal dan internasional? Apakah mereka sudah merasa nyaman dengan posisi sekarang?

Bagaimana dengan ulama, cendekiawan, tokoh masyarakat, dan pemuda? Apakah sudah apatis dengan kondisi ini? Apakah mereka masih bisa tersenyum-tawa sembari melihat para bedebah berbuat tidak senonoh terhadap hukum negeri ini dan mengisap kekayaan alam negeri sebuas-buasnya?

Mestinya ada sebagian masyarakat, baik berkelompok maupun indvidual, yang secara sistematis dan terencana melakukan ‘pembongkaran’ terhadap status quo ini. Juga seharusnya ada sekelompok polisi, jaksa, hakim, pengacara, PNS, pengusaha, dan pejabat yang secara perlahan menyingkirkan para bandit-bedebah yang merusak  korps dan institusinya.

Politisi pun harus menyingkirkan para politisi busuk yang memanipulasi kekuasaan demi kepentingan pribadi dan golongan. Mereka yang berhasil dijebloskan ke penjara harus dihinakan. Hukum seberat-beratnya, sita semua harta bendanya sampai miskin. Kalau perlu, pajang fotonya di tempat umum sebagai pengkhianat negara. Negara ini tidak membutuhkan politisi korup, pengusaha hitam, dan aparat penegak hukum pelanggar sumpah jabatan.

Sebab merekalah yang menghalang-halangi rakyat negeri ini untuk mendapatkan kemakmuran. Pajak dikorup. Uang negara dipreteli. Kekayaan alam disedot habis-habisan, keuntungannya dinikmati segelintir pejabat. Dan ini dibiarkan terus-menerus terjadi. Bahkan, presiden mana yang berani mengambil alih penguasaan tambang emas dan tembaga terbesar di dunia dari Amerika Serikat? Padahal tambang emas dan tembaga itu ada di Pulau Papua yang masih terdaftar dalam peta Indonesia. 

Rakyat negeri ini telah kehabisan air mata. Para bedebah berdasi tak hanya menyedot kekayaan, harta, darah, juga air mata mereka.

Bagaimanapun para pengkhianat negeri tak boleh dibiarkan merajalela. Mereka harus disingkirkan dan dihabisi.

Maka tak bisa tiap individu masyarakat negeri ini tinggal diam terus ditindas oleh para bedebah itu. Tidak bisa tiap orang memikirkan diri sendiri sementara masyarakat kecil tak berdaya terus meratapi nasib yang tak kunjung membaik. Sebab, yang harus disadari, masyarakat kecil itu dengan sepenuh tenaga telah menyokong negeri ini agar senantiasa berjalan baik dan seimbang. Mereka bekerja dari pagi hingga sore, memasok hasil bumi ke desa dan kota, membayar pajak, dan memanjatkan doa bagi kemakmuran dan keselamatan negeri tiap hari.

Tiap orang, terutama yang pernah mengenyam bangku sekolah, punya kewajiban bagi keikutsertaan melakukan perubahan negeri. Orang-orang yang diam dan merasa nyaman dengan kondisi yang ada merupakan orang-orang tak tahu diri dan tak mengerti balas budi. 

Perubahan itu dimulai dari diri, keluarga, masyarakat, lalu negara. Dapat diterapkan langsung sesuai kemampuan dan profesi yang digeluti. Jika tidak memiliki kekuasaan atau jabatan, upaya melakukan perubahan bisa melalui lisan dan tulisan.


Kepada mereka yang sedang menyusun dan melancarkan gerakan pembersihan terhadap pengkhianat negara, rakyat menaruh harapan. Rakyat butuh orang-orang yang bersih dan jujur untuk membawa negeri ini kepada kemakmuran dan kesejahteraan.

Jumat, 18 Maret 2011

Terobosan

Jumat siang, 11 Februari 2011, di Aula Timur Institut Teknologi Bandung yang ramai. Lima pelajar Bandung memberi kuliah umum. “Mahasiswa” mereka guru, dosen, anggota DPR, mahasiswa, dan masyarakat umum. Mereka Arrival Dwi Sentosa (kelas VIII SMPN 48 Bandung), Taufik Aditya Utama (kelas XI SMAN 25 Bandung), Muhammad Yahya Harlan (kelas VII SMP Alam Bandung), Fahma Waluya Rosmansyah (SMP kelas VII), dan Hania Racika Rosmansyah (kelas 1 SD).
  
Disiarkan langsung oleh stasiun televisi TV One, mereka mendemonstrasikan karya terbaiknya ke seantero tanah air. Arrival Dwi Sentosa dan Taufik Aditya Utama dengan antivirus bernama ARTAV (akronim dari Arrival Taufik Antivirus). Muhammad Yahya Harlan dengan situs jejaring sosial “salingsapa.com.” Sementara kakak-adik Fahma Waluya Rosmansyah dan Hania Racika Rosmansyah dengan game edukasi di telepon seluler dan komputer.

Lewat sambungan telepon, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar berjanji menggratiskan bea pembuatan hak cipta. Tak mau kalah, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa berjanji berikan beasiswa kepada mereka.

Mereka dihargai karena membuat terobosan. Terobosan tak selalu sesuatu yang baru. Sebab tak ada lagi penemuan yang baru secara otentik. Sesuatu ditemukan setelah ditemukan sesuatu sebelumnya. Sesuatu yang lama menjadi dasar penemuan sesuatu yang baru. Di dalamnya terjadi proses modifikasi; penambahan, pengurangan.

ARTAV antivirus kesekian ratus ribu. Namun kemampuannya mengundang pujian banyak kalangan. Salingsapa mengikuti jejak jejaring sosial Facebook, namun penambahan fitur-fitur islami membuat orang-orang berdecak kagum. Game untuk ponsel dan komputer “barang lama”, namun kreativitas mereka yang terbaik dalam ajang Asia Pasifik ICT Award (APICTA) dan Indonesia ICT Awards (INAICTA) 2010.

Lalu kenapa disebut terobosan?

Bukan karena usia mereka lebih muda ketimbang orang-orang dewasa yang mestinya bisa membuat terobosan-terobosan. Itu lantaran mereka membuat sesuatu yang “tak biasa” dilakukan dan dipikirkan oleh teman-teman seusianya.
Robert Toru Kiyosaki, seorang investor, usahawan, motivator, dan penulis buku best seller ‘Rich Dad Poor Dad’, memilih berpikir berbeda dari ayahnya. Ayahnya, seorang guru berpendidikan tinggi, selalu menekankannya untuk giat bersekolah. Tujuannya untuk mendapatkan nilai bagus di sekolah dan pekerjaan yang terjamin di masa mendatang. Intinya, selulus sekolah dengan nilai tinggi, dapat bekerja sebagai pegawai di lembaga pemerintah atau perusahaan bonafit dengan gaji besar.

Robert memilih mengikuti saran ayah temannya—seorang usahawan yang tidak berpendidikan tinggi. Sarannya: berani ambil risiko membangun usaha dan menjadi investor selulus sekolah. Dan Robert berhasil. Ia mengaku bisa pensiun—artinya tak perlu lagi bekerja keras mencari uang—di usia 40-an!

Robert melakukan terobosan: berpikir berbeda dari kebanyakan teman-teman seusianya. Namun ia tidak pongah. Ilmu dari ayah kandungnya tak disia-siakan. Ia menjadi pengajar banyak orang mengenai pendidikan ekonomi yang diciptakannya.

Maka untuk jadi penerobos harus berani berpikir berbeda. Berani? Ya, sebab banyak orang yang tidak berani berpikir berbeda. Banyak orang senang menjadi orang biasa dan merasa nyaman punya pikiran yang sama dengan orang lain. Mereka bangga dan mencukupkan diri menjadi pengagum orang yang berani berpikir berbeda.*

Kamis, 10 Maret 2011

Menerbitkan Buku Indie untuk Mengurai Sebagian Sejarah Hidup

Ketika saya menulis pengalaman ihwal hari-hari mengajar di sebuah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam bentuk blog, yang saya tulis usai mengajar seminggu tiga kali dalam rentang akhir Januari 2008 hingga akhir 2009, saya tak berpikir untuk membukukannya. Naskah-naskah itu saya biarkan mengendap di blog saya dan akun Facebook. Saya juga membuat blog khusus PAUD yang berisi foto-foto kegiatan seputar pengajaran dan kegiatan PAUD.

Namun ketika PAUD Nusa Indah, tempat saya mengajar, menginjak usia 3 tahun, saya berpikir untuk membuat buku tentangnya. Apalagi pengalaman mengajar yang saya tulis memuat pula sejarah berdiri dan beragam kegiatan PAUD, maka saya membulatkan diri untuk membukukannya.

Saat berpikir untuk mengirimkan naskah ke penerbit, saya merasa tak yakin penerbit tertarik membukukannya. Sebab kebanyakan tulisan bersisi pengalaman saya yang belum terkenal apa-apa. Jika diterbitkan, entah berapa lama bisa beredar ke pasaran. Sementara persiapan ulang tahun PAUD tak lama lagi—Ulang Tahun PAUD Nusa Indah tiap 8 Februari.

Maka saya meneguhkan diri untuk membukukannya secara mandiri. Saya persiapkan segalanya. Saya beli mesin cetak printer. Menyusun kumpulan naskah, mengeditnya, menampilkannya bersama foto-foto, memfotokopi, kemudian menyusun ulang hingga jadi buku.

Kendati untuk konsumsi terbatas, saya tidak mau tampilan buku sembarangan. Dengan keterbatasan keterampilan dan pengetahuan mendesain buku, dan memang ini pengalaman pertama mendesain buku, saya membuat tata letak sebaik mungkin. Naskah tulisan juga telah melalui proses editing yang ketat, baik tata bahasa maupun penyampaian. Hingga, pada bagian akhir, yaitu proses pencetakan, saya tak bisa memaksakan diri; fotokopi yang tidak bagus serta penjilidan softcover yang tidak sempurna. Namun itu tak banyak berarti. Buku difotokopi sebanyak empat eksemplar.

Buku memuat 23 tulisan yang disusun berdasarkan waktu penulisan. Merentang waktu dari Februari 2008 hingga Oktober 2009. Judul buku “Pelangi di Ujung Gerimis”, diambil dari salah satu ungkapan di artikel bertajuk “Pak Guru Itu Aku” (hal. 67).

Pada perjalanannya, dari awalnya saya meniatkan buku untuk PAUD dan pengurus RW, tetapi buku ini teryata dimiliki oleh orang-orang “istimewa”. Pertama, pengurus PAUD. Kedua, salah satu peserta pelatihan menulis. Ketiga, anggota DPRD DKI Jakarta yang mengadakan kunjungan ke PAUD Nusa Indah. Buku ini awalnya milik pengurus RW, tetapi mereka memberikan lagi ke saya untuk diberikan ke anggota DPRD. Keempat, perempuan yang saya pinang sebagai bahan pertimbangan.

Salah satu tujuan saya membukukan tulisan adalah membuat “bangunan sejarah hidup” dengan ribuan deret kalimat. Kapanpun saya bisa mempelajarinya kembali. Orang-orang yang membacanya dapat meraba sifat dan karakter saya, pengharapan dan kegelisahan hidup saya.

Sebagaimana tertuang dalam selembar halaman di buku itu, saya mempersembahkan buku itu “Untuk siswa-siswiku calon pemimpin bangsa yang sedang belajar menjadi manusia, serta guru dan tutor PAUD Nusa Indah yang mengabdikan diri secara ikhlas mendidik calon tokoh besar.”

Dari penerbitan mandiri ini saya berniat menerbitkan buku yang lain. Buku berisi kumpulan tulisan yang merangkum sebagian sejarah hidup saya. Ini akan menjadi sarana saya untuk berbagi, dalam suka maupun duka. Dengan membuat buku, hidup menjadi lebih hidup.


Rabu, 09 Maret 2011

Film Setan dan Ironisme Masyarakat Kita

Dua tetangga berusia balita kompak mendekati saya lalu berkata, “Om, lihat setan, dong!” Mereka merujuk pada notebook yang saya pakai.

“Om nggak punya setan. Takut!”

“Ah, Om bohong!”

Barangkali ini salah saya bahwa suatu hari saya menunjukkan gambar setan lewat tayangan internet kepada mereka. Bukannya takut, mereka malah senang. Padahal saya pikir buat apa melihat gambar setan kalau sekadar untuk bersenang-senang.

Tapi saya kemudian tak memenuhi permintaan mereka. Saya sedang sebal dengan film-film Indonesia yang sedang beredar di tengah isu penarikan film Holywood dari gedung bioskop negeri ini.

Seorang reporter televisi swasta menyampaikan isu tersebut dengan latar belakang dua layar besar bergambar film bertema setan di halaman sebuah bioskop terkenal di bilangan Cikini, Jakarta Pusat. Tayangan ini seolah menyindir film produksi dalam negeri, seakan tayangan itu ingin berkata, “Jika film Holwood tak lagi beredar, maka film-film setan lokal akan makin leluasa bergentayangan. Masyarakat tak punya banyak pilihan tontonan.”
Memang ini semacam peringatan. Film tentang beragam jenis setan (pocong, kuntil anak, genderuwo, dll) kembali marak menyambangi bioskop-bioskop lokal. Tetapi saya menyebut film tersebut bukan bergenre horor, melainkan seks. Ya, film seks dibalut horor. Tak ketinggalan disusupi humor.

Kenapa film seks? Sebab rata-rata adegan dan gambar yang disajikan didominasi oleh unsur-unsur seks, seperti adegan yang mengarah pada kegiatan seks, perempuan-perempuan dengan pakaian minim, dan dialog-dialog picisan yang mengarah pada wacana seksualitas.

Kombinasi lainnya yaitu seks, horor, dan sadisme. Ini merupakan tipikal film Holywood. Pada ranah inilah eksplorasi terhadap perilaku binatang yang dilakukan manusia diumbar habis-habisan. Bagaimana kegiatan membunuh, menyiksa, dan bentuk kesadisan lainnya dieksplorasi sedemikian detail. Tak ada ruang moral di sini, malah diharamkan.

Apakah ada imbas dalam paradigma orang-orang yang menggemari film seperti itu? Pastilah ada. Itu tercermin dari sikap dan cara berpikir mereka. Memang belum ada penelitian yang menyatakan penggemar film seks plus horor plus sadisme akan berperangai merusak. Tapi, perilaku salah dalam tayangan yang sering dilihat akan mengubah cara pandang seseorang dalam meninjau ulang kebenaran yang dipegangnya.

Kendati tak pernah nonton bioskop, dua balita tetangga saya seolah telah menganggap setan bukan lagi makhluk yang menakutkan—ini sangat berbeda waktu zaman saya dulu yang takut dengan setan walau tak pernah melihatnya. Ah, barangkali mereka sudah menonton banyak film tentang setan yang juga marak di televisi.

Saya tak sedang mengajak untuk menakuti setan. Saya cuma khawatir, perilaku setan berupa sadisme yang ditayangkan dalam film seks berbau horor perlahan menyusup ke otak bawah sadar generasi penerus bangsa.

Film seks berbalut horor dan humor plus sadisme akan terus bergentayangan lantaran tetap diminati banyak orang. Inilah ironisme masyarakat Indonesia yang ingin modern tapi masih menyenangi klenik dan hal gaib.


Kunciran, Tangerang. 09.22 WIB.