Total Tayangan Halaman

Minggu, 08 Mei 2011

Aku dan Nyamuk. Bagian 1


RUMAH
Selasa, 6 November 2007, pukul 14.30.
Aku menarik kain batik menutupi tubuh dan berbaring di atas matras biru usai mematikan televisi. Tiba-tiba rasa dingin menjalar ke sekujur tubuhku. Seluruh bagian tubuh, tidak seperti biasanya. Aku menggigil dan berharap itu terjadi sebentar saja.

Dingin terus memelukku, membungkus tulang dan dagingku. Badanku bergetar hebat seperti mesin perata jalanan. Kepala, badan, dan kaki terus bergetar. Aku meringkuk, mengencangkan tubuh, namun gigil telajur menyesap ke seluruh pori-pori. Semua usaha sia-sia. Aku menyerah, aku menyerah.

“Subhannallah.” Aku mengucap-ucap lafaz zikir, berharap Allah menurunkan mukjizat. “Alhamdulillah.” Suaraku bercampur dengan suara musik tak jelas dari bengkel sebelah rumah yang bunyi sejak pagi. “Allahu akbar.” Aku putus asa. Aku putus asa. “Arrrggghhh!” Aku memilih mengerang saja walau tahu tak seorangpun akan mendengar. “Arrrgggghhhh!” Aku bangkit sebentar, lalu ambruk lagi.

Lalu aku berpikir aku akan mati. Barangkali Allah sudah menentukan umurku. Malaikat pencabut nyawa mengelilingiku dan menggerayangi sekujur tubuhku dengan tangan dingin mereka. Oh, aku belum siap mati. Pasti aku masuk neraka kalau mati hari ini. Maka aku mengganti lafaz zikir menjadi kalimat syahadat, “Laa ilaaha illallah, muhammadurrasulullah.” Semoga kalau aku mati dalam keadaan khusnul khatimah.

Aku terus melafazkan kalimat itu, tapi tidak kuat menahan gigil. Aku mengerang dan mengerang. Aku berpikir keras bagaimana keluar dari kondisi itu. Aku berharap Bapak datang, tapi dia tak kunjung datang. Aku harus keluar. Aku berharap dia ada di luar dekat rumah. Maka aku keluar, masih dengan dekapan gigil.

Untunglah Bapakku ada di luar. “Pak, Billy kedinginan...!” Aku berteriak sebisaku.

Aku langsung masuk rumah, berbaring, dan menggigil. Bapak segera ke dapur dan sebentar kemudian kembali membawa sebaskom air panas dan balsem. Ia meletakkan baskom di atas matras dan mengusapkan balsem ke sekujur tubuhku. Tubuhku terasa panas oleh balsem. Ia pun menyuruhku tengkurap dan meletakkan perut di atas baskom. Pengobatan macam apa ini, pikirku.

Aku tengkurap dan meletakkan perut sekitar pusar di atas baskom berisi air panas. Tiap kulit perutku meenempel pada permukaan baskom aluminium itu, aku mengerang kepanasan. Aku bangkit. Bapak menyuruhku melakukan seperti tadi, tapi aku menolak. “Panas, perut Billy panas...” Aku merajuk seperti anak kecil. “Jangan sampai kena perut!” kata Bapakkku. Aku terus menolak karena tidak bisa menjaga berat badan untuk selalu di atas baskom.

“Ke rumah sakit saja ya?” ujar Bapakku. Barangkali dia sudah putus asa. Usahanya tak membawa hasil. Aku mengangguk.

Lalu ia keluar, hendak meminjam mobil tetangga. Aku bangkit, perutku mual. Aku berjalan buru-buru ke belakang dan muntah-muntah di sana.

Aku muntah dengan mengeluarkan banyak cairan. Setelah itu tubuhku terasa lega. Dingin tak lagi garang menusuk. Bapak memanggil. Ia tak berhasil meminjam mobil tetangga karena mereka sedang keluar. “Naik motor saja ya?” katanya. Aku mengangguk. Kulihat jam dinding menunjuk pukul 15.05. Aku menggigil 35 menit!

Aku memakai jaket dan topi. Sepanjang perjalanan aku kedinginan. Angin mengembus cukup kencang. Tak cukup berlindung di balik badan Bapak. Rumah Sakit Duren Sawit berjarak sekitar dua kilometer dari rumahku.


RS. DUREN SAWIT
Setiba di rumah sakit Bapak langsung membawaku ke ruang Unit Gawat Darurat. Ruangan itu sangat dingin. Aku masih bisa berjalan dan berbaring sendiri di atas tempat tidur. Dokter dan suster bertanya-tanya pada Bapakku sementara aku berbaring dengan menggigil dan keringat bercucuran.

Entah kenapa, di ruangan sedingin itu keringatku terus mengucur, terutama dari bagian kepala. Suster bertanya-tanya dan kujawab seadanya. Ia membersihkan lengan tangan kananku dan aku mulai berpikir akan segera disuntik. Ya Tuhan, aku takut disuntik. Aku pernah berikrar kalau sakit tidak ingin disuntik—pakai obat saja—dan tidak diinfus.

Tapi Tuhan menginginkan lain. Suster dan beberapa orang memegangi lenganku—aku meram. Cukup lama mereka mengkondisikan lenganku agar diam dan mudah disuntik. Aku diminta menggenggam telapak tangan, tidak tegang, dan melemaskan tangan. 

Crep!

Aku menahan sakit. Ternyata itu tusukan pertama untuk masuknya selang infus. Ya, aku diinfus. Sebotol infus tergantung di sebelah kananku. Untuk beberapa lama aku menahan sakit. Baru kali pertama aku dipasangi selang infus.

Ternyata itu bukan kali terakhir ‘senjata tajam’ menghunjam tanganku. Suster mengambil sampel darah dari siku tangan kiriku. Darah untuk diuji laboratorium. Saat jarum suntik memagut kulit, aku berusaha memfokuskan pikiran ke tempat lain, berharap sakit berkurang. Ternyata benar, sakit berkurang. Saat suster kembali menyuntik lengan kiriku—jaraknya empat jari ke bawah—aku sengaja tidak mengalihkan pikiran ke tempat lain, melainkan membiarkannya fokus ke tempat suntik. Ternyata aku merasakan sakit dan penyuntikan terasa lama. Hah, pembuktian edan.

Lalu aku dibiarkan berbaring. Zikir terus terucap di bibir. Aku berpikir-pikir, apa yang hendak Tuhan berikan padaku. Lalu kenapa dokter di Puskesmas tadi pagi biasa-biasa saja saat menanganiku?

Aku tidak kuat lama berbaring. Bapak lama sekali mengurus administrasi di gedung sebelah—Gedung Utama tempat mengurus administrasi pendaftaran. Keringat terus menggenangi sekujur tubuh dan kubiarkan menetes di matras. Aku membolak-balik badan, tapi tetap tidak kuat terus berbaring. Saat membalik tubuh ke kanan, menghadap meja dokter jaga, seorang perempuan berjilbab, berkulit putih, berparas cantik, dan berpakaian putih-putih mendekati meja dan bercakap-cakap dengan dokter. Ya Tuhan, Engkau sedang menertawaiku atau menghiburku? Tak lama berselang perempuan itu pergi.  

Barangkali dokter tahu aku terus bergerak-gerak gelisah. “Kalau bisa kamu boleh duduk,” ujarnya. Aku segera bengkit dan duduk. Keringat terus menetes, kali ini tetesannya mengenai jaket yang tadi dilepas suster sebelum diinfus. Aku berusaha mengusap-usap jaket ke keningku, tapi sulit. Tangan kiriku, yang sudah tertembus dua jarum suntik, lemas sekali untuk digerakkan.

Bapak datang, aku senang. Ia membawakanku seplastik teh manis hangat. Aku diminumkan teh itu memakai sedotan. Tubuh terasa hangat. Aku memintanya mengambil dompet di saku kiri celanaku—persiapan bila diperlukan, dan memang ternyata dibutuhkan—dan telepon selular di saku kanan celanaku. Aku ingin memberitahu keberadaanku pada adikku yang sedang berada di Bojonegoro, Jawa Timur, bersama Ibu.

Aku sulit menggerakkan telapak tangan, maka kuminta Bapak yang mengetikkan perintah di papan kunci ponsel. Bapak kebingungan. Maklum, Bapak tidak tahu bagaimana mengoperasikan ponsel. Aku memberi instruksi perlahan-lahan, berulang-ulang. Wew, sulit sekali. Aku sampai putus asa. Keringat terus bercucuran membasahi jaket dan matras. Akhirnya aku memaksakan diri mengambil alih pengetikan. Pesan kukirim “Billy di rs drn sawit”.

Bapak keluar lagi untuk mengambil hasil uji darah di laboratorium. Lama sekali aku menunggunya. Tubuhku mulai dingin. Aku masih berbaring-duduk di matras.    

Bapak datang membawa hasil laboratorium dan memberikannya pada dokter. “Trombositnya 106,” kata dokter. “Kamu kena gejala demam berdarah. Kamu mau dirujuk ke mana? Ke Rumah Sakit Persahabatan atau Rumah Sakit Budhi Asih?”

Bapak tidak memberi keputusan. Ia menyerahkannya padaku. Soal Rumah Sakit Persahabatan, belum lama aku dengar perkataan seorang teman. Ia tidak menyukai fasilitas dan pelayanan rumah sakit itu. Ia memindahkan anaknya ke rumah sakit swasta lantaran anaknya tak mengalami kemajuan berarti setelah beberapa hari di rawat di sana. Mengenai Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih, aku selalu melihatnya kala melintasi Jalan Dewi Sartika. Gedungnya megah dan tinggi.

“Ke Rumah Sakit Budhi Asih saja,” ujarku mantap.

“Mau dibawa ke sana pakai apa, Pak?” tanya dokter pada Bapak. “Bapak bawa mobil?”

“Bawa motor,” jawab Bapak.

“Mau dibawa pakai motor? Kuat, tidak? Mending pakai mobil saja. Kalau tidak ada mobil, Bapak bisa pakai ambulans sini tapi ada charge-nya.”

“Ya sudah saya pulang dulu, mau pinjam mobil tetangga.” Usai berkata Bapak pergi.

Dalam penantian yang lama, aku menimbang-nimbang. Aku tidak pernah berpikir akan menjadi penderita demam berdarah, menjadi pasien di rumah sakit. Ah, rumah sakit. Apa Bapak bisa mengurus administrasi dan tetek-bengek birokrasinya hingga aku bisa berbaring di kasur empuk dengan tenang? Tadi dokter bilang, satu-satunya obat demam berdarah dengan minum yang banyak. Bukankah minum bisa dilakukan di rumah?

Berbaring di ranjang beberapa hari, ditunggui orang tua, dibesuk saudara dan teman—aku tak pernah memikirkannya. Pastilah tidak enak. Bagaimana nanti, ketika aku meninggalkan rumah sakit, di dalam mobil kuminta Bapak langsung pulang. Tidak ke Budhi Asih. Nanti di rumah aku minum air yang banyak hingga sembuh.

Tidak, tidak, aku tidak ingin menggigil lagi. Aku tidak mau panas-dingin lagi. Aku tidak mau tiduran terus di atas kasur ditemani lantunan musik brengsek dari bengkel mebel sebelah rumah.

Tapi, kalau masuk rumah sakit, pastilah biayanya mahal. Uang gajianku sudah banyak berkurang di awal bulan ini. Aku tidak mau membebani orang tua bea perawatan.

Ah, aku bingung. Aku sebenarnya tidak mau di rawat di rumah sakit, tapi aku pun tidak mau ‘hampir mati’ seperti tadi. Baiklah, aku ikuti saran dokter saja. Aku ke rumah sakit. Aku tidak mau memberontak. 

Di luar hujan deras mengguyur. Tentu ini akan menyulitkan proses evakuasiku. Tapi sudahlah. Aku lagi sakit dan pasrah saja.

Akhirnya Bapak datang. Bersama taksi. Suster melepas selang infus dari pergelangan tangan kananku dan menutup lubangnya dengan kapas dan balutan selotip. Tertatih aku berjalan menuju taksi di bantu Bapak.

Di bawah guyuran hujan taksi meninggalkan UGD. Aku duduk di belakang sopir, Bapak di sampingku. Baru beberapa meter meninggalkan UGD, aku melihat darah segar mengucur dari pergelangan tangan kananku. “Darah, darah...!” teriakku sambil berusaha menahan cucurannya dengan telapak tangan kiri. Aku merasa aneh karena tidak merasa mual seperti biasa. Biasanya aku mual melihat darah.

“Berhenti, Pak, berhenti!” kata Bapak pada sopir taksi. Taksi berhenti. Bapak segera keluar menuju UGD.

“Pak, mundur, Pak!” ujarku. “Kita balik ke UGD.”

Taksi mundur dan berhenti di muka UGD. Aku membuka pintu. Suster membersihkan tanganku dari darah dengan kapas dan kain kasa. Ia kembali menutup lubang bekas infusan dengan perban baru. Syukurlah, darah tak lagi mengucur.

Taksi pergi meninggalkan RS Duren Sawit sekitar pukul 16.30. Di tengah cuaca buruk itu aku meringkuk memikirkan nasib menjadi calon pasien. Oh, apa atau siapa yang membuatku seperti ini?

Duren Sawit, 10 November 2007


 

Aku, Siswa SD, dan Perpustakaan

Rabu 5 September lalu aku mengunjungi Perpustakaan Kotamadya Jakarta Timur di kawasan Rawabunga, Kampung Melayu. Aku ingin meminjam buku. Letak perpustakaan ini sangat “terpencil”. Ia ada di pojok gang, di apit dua Sekolah Dasar dengan muka menghadap barat. Menyusuri jalanan dengan naik motor atau mobil ke perpustakaan dan SD ini pastilah melewati depan SMA 54.

Saat melintas di depan SMA 54, aku terkejut. Bangunan sekolah itu tinggal puing. Sebuah eskavator, dengan tangan robotnya, sedang mencabik-cabik puing dan meratakannya hingga mencium tanah. Seketika terlintas bayangan di kepalaku mengenai kunjunganku ke sekolah itu beberapa bulan lalu untuk sebuah keperluan. Dan kini gedung sekolah itu tak berbentuk lagi.

Setiba di depan gedung perpustakaan, aku menambat motor di parkiran—tepatnya jalanan beraspal yang sudah rusak di depan gedung. Di pelataran perpustakaan, sejumlah pelajar berseragam putih-abu-abu berkumpul, berdiskusi. Aku membuka pintu dan meninggalkan senyum kecil pada mereka; terus terang aku sangat senang melihat sekumpulan pelajar berkumpul untuk berdiskusi.   

Di dalam aku menitipkan tas dan jaket. Loker sudah penuh. Terpaksa aku menitipkannya di meja resepsionis dan mengambil kartu penitipan. Sebelum beranjak ke lantai 2, aku melihat di ruang dekat resepsionis sedang digelar perlombaan cerdas cermat antar-SMA. Tidak boleh masuk, kata seorang ibu penjaga perpustakaan setelah kutanya. Ya sudah, aku pun tak bermaksud menyimaknya. Aku sedang terburu-buru. 

Aku menyempatkan diri bertanya pada itu ibu tentang SMA 54 yang dibongkar. Katanya, sekolah itu sengaja dirubuhkan karena bangunannya rawan ambruk. Kegiatan belajar-mengajar di pindah ke SD di sebelahnya.

Soal modus perpindahan ini sepertinya sama dengan modus perpindahan SMA 71. Waktu SMA 71 direhabilitasi, aktivitas persekolahan dipindah ke SD 016/017. Aku berpikir, bagaimana dengan kegiatan belajar siswa SD? Pasti terganggu. Dan sebenarnya membuat tidak nyaman para penghuni dua sekolah itu.

Di lantai 2, kelihatan sejumlah pelajar SMA mondar-mandir di antara rak-rak buku. Sayang, sistem katalogisasi perpustakaan ini belum berjalan, baik komputer maupun kartu. Jadi sulit bagi pengunjung untuk melacak dengan cepat buku yang dicari. Pengunjung hanya mengandalkan kategorisasi buku per bidang ilmu per rak dan kecepatan mata memindai.

Koleksi buku perpustakaan ini juga tidak update. Kebanyakan buku lama, baik buku pelajaran maupun buku umum. Hanya koran dan majalah yang selalu update.

Ruang baca koran berada di depan meja petugas pelayanan peminjaman/pengembalian buku. Tiap aku datang selalu saja ruangan itu ramai dengan televisi selalu menyala. Sementara ruang baca majalah/tabloid berada di tempat terpisah—masih di lantai 2. Bila ruang baca koran dipenuhi pemuda dan orang tua, runag baca majalah/tabloid dipenuhi pelajar. Ruangan ini cukup nyaman untuk digelar diskusi. Namun saat itu ruangan baca majalah/tabloid terkunci.

Setelah meminjam dua buku, aku keluar. Di luar anak-anak SD kelihatan berlari-larian. Sudah jam pulang sekolah rupanya. Perlahan motorku menerobos kerumunan mereka. Tapi....

Tiba-tiba beberapa di antara mereka mengejar motorku. Aku tak bermaksud melarikan diri. Mereka menangkapku. Mereka minta diboncengi. Tanpa menunggu persetujuanku, dua pelajar menaiki jok belakang dan seorang lagi melesak di depanku. Ya sudah, aku pun tak merasa keberatan.

Malah aku berusaha menikmatinya. Kapan lagi bisa bersenang-senang dengan anak SD? Ini kesempatan baik untuk bersenang-senang, batinku. Lalu perlahan kususuri gang berliku. Mendengarkan mereka berceloteh. Aku menikmatinya.

Di jalan, beberapa orang melihat kami berkendara. Bagaimana tidak? Kami berempat menyusuri jalanan berliku dengan posisi tidak nyaman. Jalanan menuju jalan raya sangat buruk; berbatu dan sepertinya sudah lama tidak diperbaiki. Bagaimana masyarakat tertarik berkunjung kalau letak perpustakaannya terpencil dan jalan untuk menjangkaunya rusak, keluh batinku. Aku sendiri mengkhawatirkan seorang yang duduk paling belakang jatuh.

Aku menyempatkan diri berbincang dengan mereka sementara mulutku tertutup masker dan helm menempel di kepala. “Kalian kelas berapa?”

“Kelas dua.”

“Tadi di sekolah belajar apa?”

“Matematika. Uh, susah banget.”

“Ini yang di depan namanya siapa?”

“Kemal.”

“Yang di belakang?”

“Saya Supri. Kalau yang di tengah Hendra.”

Lalu aku mulai berkata layaknya seorang kakak, beri nasihat agar mereka rajin belajar. Saat memasuki jalan raya, aku berharap tidak ada polisi iseng ‘nongkrong’ di dekat situ. Syukurlah, mereka tidak ada sampai aku menurunkan ketiga pelajar itu.

Mereka bertiga turun. Barulah aku bisa memerhatikan satu per satu wajah mereka. Masing-masing mengucap terima kasih dengan sebutan ‘Pak’, ‘Bang’, dan ‘Om’ padaku. Supri, yang duduk paling belakang, ternyata nyeker alias tidak pakai sepatu. Entah sepatunya ia taruh mana. 

Di perjalanan aku mengucap syukur pada Tuhan. Di sela kesibukanku—setiba di rumah aku langsung pergi ke tempat kerja—aku masih diberi-Nya kesempatan bersenang-senang. Dalam pergaulan, aku lebih senang bermain dan berbincang dengan anak kecil dan pelajar. Aku bisa banyak belajar dari mereka, bercanda, dan memberi nasihat yang barangkali tidak pernah mereka dengar di rumah dan sekolah. Satu lagi, ternyata aku cepat akrab dengan balita dan pelajar SD. Kata seorang teman, mereka bisa cepat akrab denganku karena wajahku kebapakan. Ah, semoga itu hanya guyon. Aku belum menikah dan punya anak, jadi wajahku masih wajah bujangan.

Perpustakaan, bagiku, sangat penting. Ia bisa menjadi gudang ilmu bagi masyarakat yang membutuhkan. Kulihat perpustakaan kotamadya Jakarta Timur bisa lebih memainkan perannya. Anak-anak dan penduduk sekitar perpustakaan, juga para pelajar, sepanjang penglihatanku, tampak akrab dengan tempat itu. Lantai 1 diperuntukkan bagi perpustakaan khusus siswa SD. Kalau sore, lapangan di depan gedung itu dipakai bermain anak-anak. Mobil perpustakaan keliling terparkir di pinggir lapangan meski tidak dibuka. Semoga, ke depan, perpustakaan menjadi tempat nongkrong yang asyik bagi pelajar dan orang kantoran, bocah hingga orang tua, ibu-ibu dan bapak-bapak. Nggak gaul kalau nggak jadi anggota perpustakaan. Utopiskah? 



Duren Sawit, 10 September 2007. 07.45 WIB

Aku dan Kurus. Bagian 2



“Baru pulang kok sudah pergi lagi, Bil?” tanya Ibu dengan nada heran.

Aku hanya bisa menyungging senyum kecil dan berharap dalam hati ia bisa memakluminya. Lalu aku menyeret tubuh letihku mendekati motor yang terparkir di pekarangan rumah, memakai sarung tangan, jaket, penutup hidung, dan helm. Aku meluncur ke Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. 

Di perjalanan aku berharap akan tiba dengan selamat. Mataku sayu dan kulit wajah masih menggurat kelelahan. Kupikir itu sudah cukup menggambarkan bahwa aku butuh banyak istirahat dan mesti menyegerakannya. Ah, barangkali aku telah menzalimi tubuhku sendiri. Selama beberapa hari ini aku telah memforsir energinya.

Dalam sepekan, aku menghabiskan waktu di kantor. Menginap lima hari! Hari-hari kuisi dengan meliput/wawancara, menulis, dan mengedit tulisan. Mungkin ini imbas buruk dari jumlah  personel yang sedikit dalam sebuah keredaksian sementara jumlah halaman dan nara sumber per rubrik sangat banyak. Apalagi ini masih edisi tiga, di mana konsep matang sebuah majalah masih dalam tataran mencari. Tak aneh rubrik baru dibuat dan rubrik lama yang kurang bagus dibuang. Repotnya bila owner banyak campur tangan. Tema dan nara sumber yang telah ditetapkan dalam Rapat Proyeksi bisa saja dientaskan.

Pada edisi 3 ini Pemimpin Redaksi menghendaki kru mengerjakan sekaligus edisi 4 dalam rentang 1,5 bulan. Ia tidak ingin waktu puasa yang jatuh pada pertengahan September tidak banyak terganggu oleh aktivitas peliputan. Makanya usai pengerjaan edisi 3 kru tak boleh istirahat sejenak. Penugasan harus segera dimusyawarahkan dan dilaksanakan.

Aku terpaksa menginap di kantor lantaran tugasku yang menumpuk. Aku diserahi amanah memegang beberapa rubrik. Aku, sih, senang-senang saja menerimanya, apalagi nara sumber yang kuwawancarai orang-orang hebat, terutama dalam bidang akademis. Sebagai redaktur, aku pun kadang dimintai pendapat oleh dua reporter, satu fotografer, dan seorang desainer dalam pengerjaan tugas.

Namun kupikir aku mendapat penugasan yang relatif lebih berat. Itu terlihat ketika beberapa naskah masuk, aku masih bergulat dengan liputan dan menulis. Oya, aku pun belum diberi meja dan komputer sendiri oleh redaksi. Bisa dibayangkan kurang nyamannya aku bekerja dengan ‘meminjam’ komputer teman lain. Aku pun merasa kurang nyaman ketika ruang redaksi menjadi bising oleh suara musik—dinyalakan seorang reporter sepanjang hari—dan televisi. Otakku seperti pengin meledak.

Bagiku, menginap di tempat kerja bukan hal baru. Dulu, waktu bergiat di Pers Mahasiswa, aku biasa menginap di sekretariat. Meliput, menulis, dan memeriksa tulisan hingga begadang. Semua naskah yang diterbitkan harus lewat seleksiku, dan semua liputan harus dibawah koordinasiku—saat menjadi Pemimpin Redaksi di Majalah Didaktika dan Tabloid Transformasi Universitas Negeri Jakarta.

Namun sudah pasti kondisi keduanya berbeda. Tidak bisa suasana kampus dan kerja disamakan. Dalam dunia kerja, profesionalitas mesti diutamakan. Atasan harus benar-benar dihormati dan menjaga perasaannya agar tidak tersinggung. Beda saat mahasiswa, yang antara Pemred dan reporter tidak perlu formalitas dalam bicara. Diskusi bisa dilakukan di kantin, taman, atau sekretariat sambil makan cemilan, ngopi, merokok, dan teriak-teriak. Canda tawa menjadi hal lumrah. Namun bukan berarti kerja-kerja pers mahasiswa tidak profesional.
      
Menginap selama lima hari di kantor, yang kusesalkan adalah pemberitahuan ke orang rumah. Aku selalu lupa memberi tahu adik—karena hanya dia yang pegang telepon selular dan lewatnya Ibu-Bapak diberitahu. Waktu Selasa menginap, aku tidak memberi tahu adik. Rabu malam aku memberitahunya lewat tengah malam, dengan mengirim SMS dan menelepon saat ia tidur. Makanya ketika Rabu pagi aku pulang ke rumah, Ibu berkata, “Hayo dari mana saja, kok nggak pulang-pulang?” Rabu malam dan Kamis malam aku juga demikian; lupa memberitahu adik.

Sabtu malam 1 September aku kembali menginap. Banyak naskah belum diedit. Sore badanku dingin. Aku khawatir terserang sakit. Kurasa pendingin udara tidak berperan besar terhadap suhu tubuhku. Aku keluar untuk menyegarkan diri.

Seorang reporter belum menyelesaikan tugasnya. Aku dan desainer tak bisa menahan gerutu. Aku diminta Pemred menunggu naskah terakhir itu, mengeditnya, lalu memberikannya ke desainer. Sebab pada Ahad, naskah itu harus sudah diberikan pada owner untuk diperiksa.  

Reporter itu pulang—karena perempuan—dan baru memyerahkan tulisan lewat email hampir kukul 09.00. Aku segera mengedit tulisannya.

Pukul 10.15 aku selesai mengedit tulisan itu. Beberapa menit kemudian aku pulang—di kantor tersisa aku, office boy dan desainer. Tubuh masih menyimpan letih, mata merah (karena baru tidur pukul 03.00), dan keringat di badan (aku belum mandi). Tiba di rumah pukul 10.45.

Setiba di rumah aku main dengan dua kucing peliharaan sebentar—karena kangen—mengobrol dengan ibu dan adik, makan makanan ringan, lalu mandi. Pukul 11.35, atau 40 menit aku di rumah, aku pergi ke TIM. Tidak sempat makan—walau perut lapar karena belum terisi nasi. Aku memaksakan diri ke TIM untuk berkoordinasi dengan pengurus FLP DKI; jadwal inagurasi seminggu lagi. Sungguh, dalam perjalanan, aku mengkhawatirkan diri sendiri karena kondisi tubuhku yang kurang nyaman. Alhamdulillah aku tiba dengan selamat.

Sesampai di TIM aku langsung meluncur ke tempat pertemuan di teras masjid Amir Hamzah dan shalat zuhur. Pertemuan rutin FLP DKI sudah selesai. Aku menyempatkan diri berbincang dengan teman-teman Pramuda dan beberapa pengurus. Cuma sedikit pengurus yang datang. Sebab sebagian pengurus ikut Kopi Darat mailing list Sekolah Kehidupan di Kebun Raya Bogor—aku juga anggota milis ini, diundang datang, namun tidak bisa lantaran kondisi di atas. Perbincangan soal inagurasi belum bisa dilakukan lantaran Kepala Sekolah Meiliana Komalarini (Meli) belum datang. Ia masih di Bogor ikut acara itu.  

Badanku masih terasa letih. Aku harus mengisi perut. Bersama teman-teman pengurus aku makan di rumah makan samping TIM. Saat makan, Andi Tenri Dala, salah satu pengurus, datang membawa biola. Rencananya dia akan latihan musikalisasi puisi sore itu. “Dala,” sahutku, “kamu mestinya tidak makan dulu. Kamu harus menghibur kami dengan main biola.” Ia hanya tertawa.

Usai makan kami kembali ke TIM. Saat itu ada pemutaran film gratis di TIM 21. Beberapa ada yang nonton, tapi aku, Dala, dan Lamuna memilih kembali ke Masjid Amir Hamzah.

Dekat masjid ada tempat luas yang biasa dipakai latihan drama. Di sanalah teman-teman Pramuda latihan teater. Rencananya mereka akan ‘mentas’ perdana di inagurasi 9 September. Aku, Dala, dan Lamuna menyaksikan mereka latihan dari tempat duduk di depan tempat latihan.

Terus terang aku sangat kagum pada mereka. Walau ini pertama bagi mereka, namun aku bisa melihat mereka antusias untuk menampilkan drama yang baik. Usai latihan, mereka mendatangi kami dan meminta masukan. Dalam hati aku meyakinkan diri, bahwa keinginan membuat teater FLP DKI yang permanen bisa tercapai.

Meli, Lia Octavia, dan Fiyan Arjun datang. Fiyan segera mendatangi teman-teman di tempat latihan. Oleh sutradara Heni Novita Sari ia diminta memainkan peran sendirian sebagai hukuman tidak ikut latihan bersama. Aku memerhatikan Fiyan berakting.

Maghrib tiba. Aku dan teman-teman shalat di Masjid Amir Hamzah. Di sana sudah ada Koko Nata dan Deni Prabowo (keduanya anggota FLP Depok). Aku dan Dala menyempatkan bicara dengan mereka usai maghrib.

Usai berbincang aku kembali ke tempat latihan. Mereka, teman-teman Pramuda, sedang duduk melingkar. Entah apa yang dibicarakan. Aku bicara sebentar dengan Meli dan Sutarni soal inagurasi, lalu pulang dengan motor.

Badanku masih terasa letih. Aku berpikir akan minum susu coklat hangat di rumah. Seorang teman, lewat SMS, menyarankanku minum susu biar aku tidak sakit. Ia juga menyarankanku agar mengurangi minum kopi. Kubilang aku tidak suka susu kecuali susu coklat. Lalu ia menyarankanku minum jamu. Kubilang lagi aku tidak suka minum jamu. Maka ia sedikit memaksaku agar minum susu. Perhatian sekali dia.

Setiba di rumah aku pengin minum susu, tapi aku malas ke warung untuk membelinya. Aku minum Pocari Sweat dan mengirim SMS permintaan maaf ke temanku bahwa sarannya tidak kuturuti. Semoga dia tidak marah.

Aku tidak tahu apakah kesibukan sepekan itu akan terulang lagi. Kalau ya, kupikir bobot tubuhku akan turun drastis. Dan aku menduga-duga bahwa sepekan ke depan, bahkan hingga menjelang Ramadhan, aku akan mengulanginya. Dan teman-teman akan melihatku kurus. “Mas Bill kok kelihatan kurus?”

Duren Sawit, 3 September 2007. 09.15 WIB. 
 

 

Ibuku Perempuan Perkasa

“HEI BIL! MAU KE MANA KAMU HARI INI? UDAH MAKAN APA BELUM?”

Kalimat itu tertulis di selembar kertas di atas Central Processing Unit, di sebelah dua kertas lain bertuliskan “HEI BIL! NULIS APA KAU HARI INI?!” dan “HEI BIL! ILMU APA YANG KAU SERAP HARI INI?!”. Itu tulisan ibuku. Aku menemukannya usai membuka kamar sepulang kerja.

Tiba-tiba aku tidak menganggap biasa tulisan itu. Kupikir itu sebentuk peringatan bernada perhatian yang sengaja Ibu tulis. Aku sering pergi dan pulang kerja dengan waktu tak tentu. Berangkat bisa pagi, siang, atau malam. Pulang pun bisa pagi, siang, atau pun malam. Terkadang setiba di rumah pagi hari, beberapa jam kemudian pergi lagi. Tapi janganlah berpikir aku bekerja sebagai satpam, buruh pabrik, atau penjaga toko. Aku kuli tinta yang ‘memerdekakan diri’ dengan jam waktu kerja; ketidakteraturan waktu kerja. Namun bukan berarti aku bekerja sepenuh waktu.

Barangkali hal tersebut yang membuat Ibu ‘prihatin’. Terlebih selama penyelenggaraan Jakarta Fair 14 Juli -15 Juli lalu, aku selalu pulang tengah malam, kadang menginap di kantor. Selama penyelenggaraan Jakarta Fair, aku bersama teman-teman mengelola Newsletter Jakarta Fair 2007. Terbit per minggu, meliput acara-acara yang terjadi di sana. Pulang tengah malam usai acara dan berdiskusi bareng teman sejawat.

Kebiasaan menjalani hari dengan ketidakteraturan waktu ini sudah kulakoni sejak duduk di bangku Sekolah Teknik Menengah. Aku sekolah di SMK Telekomunikasi Sandhy Putra Jakarta angkatan 1995. Letaknya di depan Mal Taman Anggrek, Jalan Letjen. S. Parman, Slipi, Jakarta Barat—sekarang pindah ke Kali Deres, Jakarta Barat. Karena letaknya yang sangat jauh dari rumahku di Duren Sawit, Jakarta Timur, untuk menempuhnya aku harus berjibaku dengan waktu. Bangun—tepatnya dibangunkan Ibu—menjelang subuh dan mandi—dengan air hangat bikinan Ibu—saat muazin mengumandangkan azan. Lalu berangkat ke sekolah dengan tiga angkutan di mana doa selalu kupanjat karena khawatir dihadang pelajar berandal.

Karena letaknya jauh, aku jadi malas pulang. Pulang pun menunggu angkutan longgar, yaitu di malam hari usai isya. Pada beberapa hari dalam seminggu aku aktif di organisasi—pernah di Rohani Islam, Pramuka, Bola Voli—dan selesai kegiatan selalu sore. Kalau tidak ada kegiatan, bersama teman mampir di pedagang kaki lima yang berderet di sepanjang Pasar Jatinegara untuk sekadar cuci mata, atau nongkrong di lapak tukang roti bakar dekat penjual buku bekas yang berjajar di depan Stasiun Jatinegara. Baru pulang menjelang maghrib.

Namun aku lebih senang pulang malam. Usai berkeringat di lapangan Voli dan Basket bersama teman, mengeringkan peluh di ruang kelas ber-AC sambil bernyanyi dan teriak-teriak, membersihkan badan di kamar mandi, shalat maghrib, mengobrol menunggu isya, lalu aku bersama beberapa teman menyusuri jalan sekitar 300 meter ke depan Kampus Trisakti. Lelah badan sebisa mungkin dibayar dengan lelap tidur selama perjalanan bus ke arah Cawang atau Kampung Melayu. Tiba di rumah pukul 20 atau lebih. Begitu terus selama tiga tahun.

Sebelum masuk kuliah pada 1999 di Universitas Negeri Jakarta, selama setahun (1998-1999) aku menjadi pengacara (pengangguran banyak acara). Maklum, Jurusan Teknik Elektro dan Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia tak mampu kutembus saat mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Ilmu yang didapat di STM yang berbasis telekomunikasi sentral telepon (switching) kurang memadai untuk menghadapi soal-soal ujian yang berbasis pengetahuan Sekolah Menengah Atas.

Usai wisuda sekolah, selama tiga bulan aku bekerja di rumah Deliar Noer, guru mengajiku. Tugas utamaku membuat kliping koran dan membantu sekretarisnya Syarif . Saat bekerja di sana dalam suasana sunyi, aku selalu berusaha menikmati pekerjaan; bekerja di dalam ruangan berukuran 3x7 meter sendirian.

Selama bekerja di sana, wawasan ilmuku bertambah. Selain bisa membaca kliping koran yang didinginkan Deliar Noer, aku dibolehkannya meminjam koleksi bukunya yang sangat banyak itu; buku-buku lawas dan baru, dalam dan luar negeri, yang tersimpan rapi dalam rak-rak buku yang besar dan memenuhi sejumlah ruangan. Selain membuat kliping, aku membantu Syarif memfoto kopi, mengirim fax, membayar tagihan telepon dan listrik ke bank, mengantarkan Zahara Noer terapi struk di Rumah Sakit MMC Kuningan, dan mengangkat telepon bagi masyarakat yang ingin tahu mengenai Partai Umat Islam, partai yang didirikan Deliar Noer.

Deliar Noer adalah doktor ilmu politik pertama di Indonesia. Ia Rektor IKIP Jakarta pada 1966-1968. Lantaran ia mengkritik pemerintah yang berselingkuh dengan pengusaha dalam membangun negara lewat pidatonya (ia menolak mengganti isi pidatonya), ia diturunkan paksa dari jabatan rektor. Lalu ia pergi ke Australia dan menjadi pengajar di sana karena pemerintah tak menginginkannya tinggal di Indonesia.

Aku mengenalnya saat menjadi murid pengajiannya di mushala belakang rumahnya—mushalanya masih satu kompleks dengan rumahnya. Saat kelas 1 SMP itu, aku belajar Iqra padanya. Ia tegas dan disiplin. Banyak anak yang sungkan membaca dengannya dan lebih memilih guru mengaji lain, termasuk aku. Walau begitu ia lembut dan baik hati. Setelah khatam Qur’an dan menjadi salah satu yang tertua di sana (kebanyakan murid pengajian masih bocah), aku dan beberapa teman diminta mengajar mengaji. Banyak kenangan manis menjalani hari-hari menjadi guru mengaji, terlebih sekarang murid-muridku sudah besar-besar dan ada yang sudah menikah.      

Hanya tiga bulan aku bekerja padanya. Itu kulakukan karena aku tak bisa membohongi hati kecil; aku belum siap bekerja. Aku masih ingin bebas bermain dengan teman-teman, terutama bertemu dengan teman-teman STM. Kemudian aku menjadi seorang ‘petualang’ bersama sejumlah teman hingga diterima menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta.

Di kampus aku duduk di bangku Jurusan Pendidikan Teknik Elektro, Fakultas Teknik. Namun kuliahku sebenarnya di Unit Kegiatan Mahasiswa Pers Mahasiswa Didaktika. Sebab waktuku banyak tersita di organisasi penerbitan tersebut; rapat, diskusi, meliput, menulis, menghadiri diskusi/pertunjukan budaya di Teater Utan Kayu atau Taman Ismail Marzuki, mengadakan pelatihan jurnalistik, menghadiri pelatihan jurnalistik ke luar kota, ikut seminar, dll.  

Mobilitas yang tinggi ini sangat memengaruhi ‘gaya hidup’. Waktu 24 jam sehari terasa tak cukup. Maka menginap di sekretariat Gedung G 304 menjadi pilihan. Pulang ke rumahpun sekehendak hati; bisa pagi, siang, sore, atau malam. Kadang, bila tak ada persiapan menginap namun dipaksakan menginap sehingga tidak punya pakaian ganti, pagi-pagi aku pulang lalu setengah jam atau sejam kemudian berangkat lagi ke kampus. Aku tidak mau meminjam pakaian teman lain sebagaimana sebagian teman melakukannya.   

Di rumah aku istirahat sebentar sambil nonton televisi, mandi, makan. Bila tidak ada lauk untuk dimakan, Ibu menyediakannya, seperti menggorengkan telur atau merebuskan mi instan. Kemudian berangkat lagi ke kampus.

Pernah suatu hari seorang tetangga heran. Pagi-pagi aku pulang melewati rumahnya dan sejam kemudian aku melewati rumahnya lagi untuk berangkat. Aku tersenyum saja. Kadang aku perlu menjelaskan pada tetangga sebelah rumah apa aktivitasku yang ‘tidak normal’ itu.

Ibu? Dia jarang sekali menanyakan aktivitasku. Walau begitu aku selalu berinisiatif memberi tahu kegiatan yang kulakukan agar ia tidak penasaran. Ia akan dengan senang hati mengingatkanku agar tidak lupa makan. Bila ada makanan berlebih, ia menyuruhku membawanya ke kampus agar bisa juga dinikmati teman-teman lain. Aku selalu merasa didukungnya. Ia tak pernah melarang kemanapun aku bepergian, termasuk ke luar kota dan menginap.  

Hanya saja aku harus berbuat adil pada Ibu. Aku punya waktu sedikit untuknya dan keluarga. Saat di rumah, aku menyediakan diri mendengar cerita-ceritanya. Ya, ia suka bercerita seputar kegiatannya, baik di rumah maupun di masyarakat. Tentang rumah, ia senang bercerita tentang tingkah polah kucing peliharaan, tanaman di pekarangan, atau relasi antara ia, Bapak, dan adikku. Tentang masyarakat, ia bercerita tentang aktivitas sosialnya. Ibuku Ketua Posyandu, penyuluh dari kelurahan, selain mengurusi beras miskin (raskin, beras untuk masyarakat miskin), warga tak mampu yang sakit sehingga mendapat pengobatan gratis dari Jaring Pengaman Sosial/Asuransi Kesehatan Miskin, mendata warga, dll.     

Aktivitas tak normal seperti ini kulakukan selama kuliah, sejak 1999 hingga 2006. Tepatnya empat tahun saat berkecimpung di majalah Didaktika dan kurang lebih tiga tahun di Tabloid Transformasi. 

Terus terang saja, di dunia ini, perempuan yang aku kagumi adalah ibuku sendiri. Ia ‘perempuan perkasa’. Pekerja keras yang gigih dan ulet. Cerita masa lalunya adalah kegetiran. Waktu kecil ia penjual salak di stasiun, menjual kayu bakar, dll. Saat bekerja di Patal Senayan ia ‘nyambi’ jualan tahu isi. Kini, selain menjahit, kadang ia meluangkan waktu membuat kripik pedas untuk memenuhi pesanan. Atau membuatkan nasi kotak atas permintaan tetangga yang mengadakan hajatan. Bila malam tiba, kalau tidak menjahit atau nonton sinetron, ia mendata warga untuk keperluan Posyandu. Kepandaian menjahit tidak didapatnya dari kursus. Ia belajar sendiri, outodidak. 

Soal makanan, Ibuku ahli masak yang hebat. Makanannya selalu enak. Om-ku, adik Ibu, meyakinkanku. Ia juga bisa membuat aneka kue lezat. Juga tumpeng. Sejumlah perabotan memasak dan membuat kue ia punya. Semua ia miliki dari keringat sendiri.

Aku mengagumi Ibu. Di lembar Persembahan skripsi, aku menulis: “Untuk Ibu, ‘perempuan perkasa’ yang aku kagumi’.

Ibu adalah matahariku. Di balik kesuksesanku ada Ibu. Ia mendukungku dengan kemampuan optimalnya. Dan itu sudah sangat cukup bagiku. Semoga aku bisa membahagiakanmu, Ibu. Semoga Allah SWT menyayangimu. Doakan aku menjadi manusia yang beriman.

Duren Sawit, 27 Agustus 2007. 09.20 WIB

Aku dan Kurus. Bagian 1


Ahad siang 19 Agustus lalu aku menyempatkan diri menyambangi Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Tujuannya satu: menemui teman-teman Forum Lingkar Pena DKI Jakarta. Pastilah pertemuan rutin sudah selesai, karena aku datang lewat pukul 13.00. Ada beberapa hal yang hendak aku bicarakan dengan beberapa pengurus. Maka, usai menghadiri resepsi pernikahan teman di Simprug, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, aku langsung meluncur ke TIM usai mengantar teman ke kampus Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur. Aku merasa harus datang karena Ahad 12 Agustus tidak datang ke TIM.

Setiba di TIM aku memarkir motor di parkiran, tempat biasa teman-teman nongkrong sambil makan siang usai pertemuan—tukang jajan biasa mangkal di depan TIM dekat pintu gerbang masuk. Di sana beberapa teman FLP sudah muncul.

Kami bicara sejumlah hal. Cukup mengasyikkan bagiku. Tanpa keberadaanku acara berjalan lancar, batinku. Angin sepoi mengiringi pembicaraan serius tapi santai.

Aku ingin menemui teman-teman Pramuda. Mereka sedang berembug di trotoar depan Planetarium, merencanakan pembuatan teater. Saat aku menghampiri, mereka yang sedang berdiskusi sebentar melihatku dan beberapa berkomentar serempak, “Mas Bill kok kelihatan kurus?”

Aku tersenyum kecil. Kurus? Benarkah aku lebih kurus ketimbang dua minggu sebelumnya? Aku memerhatikan tubuhku lalu berkata, “Yang benar?” Mereka mengiyakan.

Besoknya aku menanyakan beberapa teman sejawat, apakah aku tampak kurus. Mereka mengiyakan. Wew, aku kurus. Dan aku baru menyadari memang aku lebih kurus, setidaknya sebelum kerja di tempat baru.

Aku memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan lama dan beralih ke pekerjaan baru. Sebenarnya jenis pekerjaannya sama saja; wartawan. Di tempat lama aku bekerja sebagai reporter majalah bulanan yang berlokasi di Kemayoran, Jakarta Pusat. Sekitar 20 kilometer dari rumahku. Di tempat ini aku bekerja lebih enak ketimbang Pegawai Negeri Sipil, setidaknya selama enam bulan. Bagaimana tidak? Selama itu, majalah tidak terbit—karena masalah manajemen, bukan redaksi. Aku dan teman-teman tetap digaji. Kerja liputan di belakang meja—menelepon nara sumber dan browsing internet. Ruangan berpendingin, akses internet dan telepon tak terbatas, makan (vegetarian) gratis dua kali sehari (siang dan sore). Datang pun sesuka hati. Yang penting dalam seminggu mengisi absensi beberapa kali, tak perlu penuh. Lalu kenapa aku berhenti kerja dari situ?

Sangat masak aku mempertimbangkannya. Kalau aku masih terus bekerja di tempat itu, aku tidak akan berkembang. Potensiku tidak akan maju pesat. Aku masih muda, perlu kerja keras dan tidak boleh membiarkan diri dibuai kesenangan dan kemanjaan. Aku ‘orang lapangan’. Bekerja di belakang komputer seharian dan terus menerus akan membunuh kemampuan dan potensiku; mencari berita, mengorek keterangan nara sumber, mendapatkan ‘suasana’ untuk tulisan, dll. Kondisi seperti ini kunamakan ‘pembusukan’. Terlebih dalam sejarah hidupku yang jelas terarah semenjak duduk di bangku kuliah semester pertama, aku mengalami stagnasi dalam membaca, menulis, dan berdiskusi. Ya, aku menyalahkan buruknya kondisi tempat kerja dan diri yang tidak bisa menghadapinya. Aku harus segera keluar!

Dan kesempatan itu tiba. Aku diterima kerja di tempat baru. Karena aku resmi diterima bekerja mulai 22 Juli, di mana waktu deadline redaksi tiba, aku difungsikan mengoreksi (edit) sejumlah tulisan yang masuk, walau statusku reporter. Merasa puas dengan kerjaku, Pemimpin Redaksi mengangkatku menjadi redaktur.

Di majalah bulanan ini aku bekerja bersama sejumlah personel. Hanya ada Pemimpin Redaksi/General Manager, dua reporter, satu fotografer, dan satu penata letak (desainer). Bisa dibayangkan bagaimana ‘gilanya’ kami harus bekerja. Itu terlihat pada pengerjaan edisi pertama (aku belum terlibat) ketika hanya dua reporter, satu desainer, satu fotografer plus Pemred mengerjakan majalah 64 halaman dengan segudang nara sumber!

Awal Agustus aku resmi diangkat sebagai redaktur—meskipun ironisnya aku belum tahu berapa gajiku hingga kubuat tulisan ini. Tapi aku jalan saja. Walau tak terasa adil, aku menaruh kepercayaan pada pihak manajemen bahwa kerjaku akan dihargai secara seimbang. Dan aku mulai ‘menikmati’ bekerja di tempat baru.

Itu dimulai di minggu kedua Agustus, tepatnya 9 Agustus. Aku ditugaskan meliput Pelatihan Shalat Khusyu’ di Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara. Pagi-pagi sekali aku berangkat dari rumah, menembus kemacetan Cakung dan Kampung Tipar. Dari sana aku meluncur ke Kampung Sawah Lama, Ciputat. Sebuah tempat yang asing bagiku. Usai shalat zuhur aku membuka peta Jakarta, mencari itu tempat. Aku hanya diberi alamat dan tidak menemukannya di peta. Seorang teman yang tinggal di Ciputat kutanya, tidak tahu.

Aku nekad berangkat. Terik mentari kuentaskan. Menyusuri jalan ibu kota yang macet dan berdebu. Kunikmati saja. Termasuk saat nyasar dan berputar-putar mengenali alamat. Dua setengah jam kemudian aku tiba di tempat yang dituju: tempat yang kurang dikenal masyarakat sekitar sana!

Sabtu siang aku meliput konferensi pers yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia di Hotel Atlet Century Park, Senayan. Besok paginya, Ahad 12 Agustus, aku menyambangi Stadion Senayan, meliput Konferensi Khilafah Internasional oleh HTI. Wew, baru kali itu aku berada di tengah sekitar seratus ribu orang dan mendengar takbir bertalu-talu.

Hari-hari berikutnya diisi dengan wawancara ke sejumlah nara sumber. Jumat 17 Agustus, hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, aku memanjakan diri di rumah. Tidak ke mana-mana. Besoknya 18 Agustus, bersama beberapa teman FLP DKI, berangkat ke resepsi pernikahan Dani Ardiansyah, Ketua Divisi Humas FLP DKI, di rumahnya Bogor. Jauh sekali perjalanan ditempuh, dan aku memulainya dengan mondar-mandir menunggu teman lain datang di Stasiun Pasar Minggu pukul 05.31—berangkat dari rumah pukul 05.00 diantar adik dengan motor—sejam kemudian (06.30) teman lain baru tiba di stasiun dari pukul 06.00 yang disepakati. Besoknya 19 Agustus aku ke resepsi pernikahan teman di Simprug. Dalam hati aku bergumam, “Kondangan melulu, kapan ya dikondangin?” 

Bisa dibayangkan dalam dua minggu, hanya 17 Agustus aku benar-benar istirahat di rumah. Sabtu 25 Agustus kemarin saja aku menghadiri Lokakarya Dwi Bulanan di Rumah Cahaya, Depok—acara FLP Wilayah Jabedeci.

Kembali ke soal tubuhku yang kurus, aku jadi teringat saat duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan Telekomunikasi Sandhy Putra Jakarta. Rumahku di Duren Sawit, Jakarta Timur, dan itu sekolah di Slipi, Jakarta Barat. Berangkat subuh pulang lepas Isya. Selain belajar, semua hari kuisi dengan kegiatan ekstrakurikuler. Aku juga ikut klub bola voli pada Ahad, di rumah. Bisa dibayangkan kegiatan yang menyita banyak energi itu bisa membuat tubuhku kurus kering kalau tiada antisipasi.

Ya, aku mengantisipasinya dengan banyak makan. Dalam sehari aku bisa makan empat hingga lima kali saat itu. Prinsipku, biarpun energi terkuras, asal makan tepat waktu—maksudnya saat lapar--dan berlebih, tubuh tidak akan sakit. Dan itu cukup berhasil. Aku tidak kurus-kurus amat walau kulit agak menghitam karena sering terjilat sinar mentari.   

Bagiku kurus-gemuk adalah dinamika tubuh. Terlebih bila kondisinya terjadi secara tak terencana. Maksudnya, kurus-gemuk ditentukan oleh kadar aktivitas, bukan asupan makanan.

Walau bekerja di tempat baru lebih berat, namun aku sangat mensyukurinya. Aku seperti kembali menemukan ‘dunia yang hilang’. Sebuah dunia penuh keringat, debu, panas, dingin, mobilitas tinggi, dan menyita pikiran. Apalagi di tempat ini sentuhan religinya begitu terasa. Ya, majalahku membahas spiritualisme (agama). Tentunya aku harus banyak belajar lagi soal agama. Dan aku sangat senang mewawancarai nara sumber yang sangat kompeten di bidangnya, apalagi mereka yang bergelar profesor doktor.

Sebenarnya aku tidak begitu peduli pada tubuh, apakah kurus atau gemuk. Yang kupedulikan adalah kesehatannya. Lebih jauh lagi, kesehatan jiwa dan hati. Asal aku bekerja dengan ikhlas dan selalu memuarakannya pada ridha ilahi, aku yakin tubuh ini akan baik-baik saja.

Ungkapan teman-teman mengenai tubuhku yang kurus kuartikan sebagai bentuk perhatian. Kurasa itu sudah cukup bagiku. Apakah itu tanda supaya aku harus makan empat hingga lima kali sehari lagi, aku mulai berpikir begitu.     

Duren Sawit, 26 Agustus 2007. 22.43 WIB.

Sensasi

Apa yang lebih menyasyikkan ketimbang kengerian yang menggairahkan dan kesenangan yang menggoda?

Ketika Gubernur Sutiyoso menarik picu senapan suar hingga dari mulut senapan keluar selongsong api membelah udara, disusul hujaman puluhan kembang api membakar selubung hitam langit dari atap Gedung Pusat Niaga Pekan Raya Jakarta, aku berpikir alangkah baiknya bila aku tidak berada di dekatnya. Memang rentetan percikan api yang membunga dan menyiram langit Kemayoran, Jakarta Pusat, pada malam 21 Juli itu tampak elok. Namun aku tetap merasa sebaiknya aku tak mencipta jarak sekian ratus meter dari asal di mana kembang api melompat.

Sebab itu sudah terlalu biasa. Pada seremoni sebelumnya di malam 14 Juli, juga setahun sebelumnya di tempat sama, keindahan percik-percik api yang membunga membakar cakrawala senja memang menggairahkan hati untuk menikmatinya. Di udara, kembang api saling mencelat, memecah diri dengan mengeluarkan aneka warna. Suaranya nyaring, memekik, saling bersahutan. Sejenak ribuan pasang mata melukis takjub, tersihir keindahan eksotismenya.         

Adakah tempat terbaik menikmati kembang api? Ada! Di dekatnya! Maka bergegaslah aku, pada malam penutupan PRJ 15 Juli, naik ke atap Gedung Pusat Niaga. Sekitar pukul 22.15 kenikmatan dan kegairahan dalam jiwa dan penglihatan kurasakan. Sensasi tak terkira.    

Ya, satu per satu kembang api melompat tinggi dari pipa-pipa besi yang berdiri menantang langit. Dentuman keras susul-menyusul, menggetarkan lantai hingga tubuh ikut bergetar. Makin dekat dari kumpulan pipa besi, sensasinya begitu terasa; lantai bergetar, bising memekak, asap mengepul.

Aku mendongak dan merasakan kegairahan; bunga api meletus tepat di atas kepala, membiarkan diri terkena serbuk api walau itu serbuk lenyap di udara. Seperti melihat bintang di atas gunung di tengah kebun teh yang senyap. Seperti berdiri di atas bukit pada malam tak berbintang, lalu menyaksikan hujan meteor melintasi kepala. Aku menikmatinya; kengerian yang menggairahkan dan kesenangan yang menggoda. Dan aku menikmatinya dengan beberapa sudut pandang—aku berdiri di beberapa tempat. 

Subhannalah. Berkali-kali bibirku mengucap kalimat tasbih. Keindahan terencana ini adalah kreasi manusia, namun sesungguhnya pemberian Sang Maha Pencipta Allah Swt. 

Membayangkan diri dalam naungan bunga api dan berpayung api, aku. Melepas semua beban di dada yang terukir sepanjang hari. Membiarkan diri terancam, terbakar, walau tahu itu takkan terjadi. 

Sejumlah kembang api meledak pendek beberapa meter di atas lantai. Suaranya memekakkan telinga tentu saja. Serbuk apinya mencelat ke mana-mana, mengancam orang yang terkena. Itulah kenapa tak seorangpun diizinkan mendekati kumpulan pipa besi pelontar kembang api, kecuali seorang teknisi di ‘tempat persembunyian’ yang mengendalikan kembang api lewat saklar otomatis.


Jenis sensasi

Barangkali namanya sensasi. Ia sebuah rasa yang hadir dalam bentuk lain; aneh, asing, tak seperti biasa, menggairahkan, mengasyikkan. Semua makhluk pun, menurutku, menyukainya. Terlebih manusia. Kadang ia datang tanpa disadari, namun tak kunjung terasa kala diharapkan. Makanya sering sensasi dicari, diundang, diadakan, disengaja. Sebab sensasi dapat menciptakan suasana nyaman secara jasamani maupun rohani.

Sensasi dapat diadakan secara individu maupun melibatkan orang lain. Tergantung bentuk sensasi yang diharapkan. Tapi pada dasarnya sensasi yang dirasakan perseorangan bersifat independen, berdiri sendiri, meskipun ia membutuhkan orang lain untuk mendapatkannya.  

Seorang perempuan berpakaian seksi merasakan sensasi ketika banyak orang memerhatikan keelokan tubuhnya, menyanjungnya dengan perkataan ‘kamu cantik’, menjadi pusat perhatian siapa saja, dan diimpikan setiap lelaki. Untuk mendapatkan sensasi berlebih, ia makin mengekplorasi erotisme tubuhnya, berlomba dengan perempuan lain untuk menjadi ekshibisionis sejati. Sementara banyak lelaki menunjukkan kejantanannya dengan melakukan korupsi sebanyak dan sesering-seringnya. Dengan begitu ia merasakan sensasi kemudahan melakukan apa saja; membeli perabotan, berwisata, selingkuh, kawin lagi. Ia semakin merasakan sensasi kala hukum tak mampu menjamahnya. Makin banyak pelanggaran dicetak, makin merasa tangguh si lelaki. Inilah sensasi negatif, yaitu sensasi yang membuat orang lupa pada dirinya sendiri.   

Yang lebih rendah dari sensasi negatif bersifat radikal. Ia dirasakan secara jasmani, ketubuhan. Melibatkan unsur kengerian, kejorokan, ‘kebiadaban’. Contohnya adalah psikopat, pelaku mutilasi, dan pemain adegan film porno. 

Ada sensasi positif, yaitu sensasi yang mampu bikin orang memahami dirinya sendiri. Setidaknya mengantarnya untuk mengenal lebih jauh tentang hakikat penciptaan dirinya. Sensasi ini bersifat proses, terus mencari. Yang tahu individu masing-masing dan sangat personal. 

Di atas sensasi positif bersifat spiritual, transenden. Ia hadir lantaran telah melakukan proses panjang dengan ketekunan tinggi. Gambaran yang paling transendental dari semua sensasi ini adalah hubungan antara makhluk dengan penciptanya; hubungan ‘percintaan’--ketika ia melihat dengan mata-Nya, mendengar dengan telinga-Nya, dan berucap dengan mulut-Nya. Contoh populernya adalah para nabi, rasul, wali, dan sufi. Namun ada juga sensasi transedental yang muncul dalam waktu singkat. Ini sering dialami oleh orang-orang yang diberi hidayah—hubungan ‘percintaan sepihak’ dari Tuhan atas hamba-Nya. Ini biasa dialami oleh orang-orang ‘jahat’, ‘kotor’, dan ‘berdosa’.  

Semua orang dapat membuat sensasi, kenal dan tahu kondisi seperti apa dan bagaimana ia bisa merasakannya. Anda juga. Masalahnya, terkadang, orang hanya bisa membuat sensasi tanpa merasakan manfaatnya. Ia melakukan proses lalu merasakan hasilnya, namun tak mengetahui esensi sensasi yang dia rasa. Jadi, pada tataran ini, sensasi tak sekadar tujuan, melainkan bagian dari proses pencarian. Ya, manusia adalah makhluk yang mencari.    

Berada tepat di bawah percikan kembang api dan dekat dari pipa pelontar yang berdentum-dentum, bagiku, adalah sebuah sensasi. Alhamdulillah, sensasi yang kurasakan adalah sensasi positif, bahwa kala aku menikmati kembang api, yang bergelora di hati adalah perasaan takjub akan kebesaran Ilahi. Tak ada rekayasa hati sama sekali. 



Duren Sawit, 17 Juli 2007





   

Hikmah dan Plat Nomor Motor yang Hilang


Bagian 2

Sebelumnya aku tak pernah berpikir untuk berurusan dengan polisi lantaran plat nomor motor baruku. Baru? Memang, tapi aku tidak membanggakannya. Kali pertama kumelihat itu plat, aku merasa plat bikinan Pak Tua tidak bagus-bagus amat. Ia dibuat dari seng tipis berkarat dan dibentuk sekenanya; asal nomor plat tercetak nyata. Namun aku tak peduli waktu itu. Yang penting aku terbebas dari kekhawatiran dikejar polisi. Dan aku berpikir suatu saat akan membuat plat yang lebih bagus dari itu.  

Sebagaimana kuucap tadi, aku memang berurusan dengan polisi lantaran plat nomor motor baruku. Kejadiannya Ahad siang 15 Juli di pinggir Jalan Haji Rangkayo Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Usai mengikuti acara yang diselenggarakan komunitas mailing list ‘sekolah-kehidupan’ di Aphrodite’s Club Klub Rasuna Said, aku bergegas ke Taman Ismail Marzuki. Aku hendak menemui teman-teman Forum Lingkar Pena DKI Jakarta di sana. Walau badan terasa letih, aku memaksakan diri. Aku merasa perlu ke sana untuk mendapat kepastian nama-nama baru yang akan mengikuti Ode Kampung 2—temu komunitas sastra senusantara pada 20-22 Juli 2007 di Rumah Dunia, Serang, Banten. Pada acara ini, FLP DKI akan mengirim sekitar 30 peserta.

Aku memacu sepeda motorku keluar dari Jalan Jembatan Merah, lalu bergabung di Jalan Haji Rangkayo Rasuna Said. Saat berada di jalan utama, dua polisi bermotor gede putih sedang berlari santai di depanku. Aku cuek saja. Kulalui saja mereka karena memang aku sedang terburu-buru. Hingga di atas terowongan Casablanca, aku merasa tidak terjadi apa-apa. Buat apa aku menakuti mereka kalau tidak melakukan pelanggaran?  

Namun tiba-tiba aku mendengar raungan berat dua motor gede polisi mendekatiku. Yang seorang mendahuluiku dan melambaikan tangan kirinya menyuruhku menepi. Deg. Aku deg-degan. Ada apa ini? Jantungku berdegup kencang tak terkendali. Pikiranku meraba-raba; “Apa salahku hingga diberhentikan? Kesalahan apa yang baru kuperbuat?”

Polisi itu melepas helm dan turun dari motornya, mendekatiku yang berdiri terpaku dengan motor tetap menyala. Ia mengucap salam. Sebelum ia banyak berkata, aku menyambutnya dengan nada tinggi, “Ada apa, Pak?”

“Kemana plat nomor motormu yang asli?” tanya polisi itu, santai. Aku tak memerhatikan temannya di belakangku.

“Dicuri, Pak, waktu saya memarkir motor!” jawabku, masih dengan suara tinggi. Aku berpikir itu polisi akan menduga jawabanku terdengar konyol. Dicuri? Buat apa orang mencuri plat nomor motor?

Tapi polisi itu tidak menanyakan soal pencurian. “Kalau hilang, sebaiknya kamu bikin lagi di Polda!”

Aku mendebatnya. Bahwa yang penting aku punya sepasang plat nomor motor meski yang satu tidak bikinan langsung polisi. Kemudian aku berpikir bahwa polisi ini hanya ingin mencari uang saja. Yah, ini anggapan umum masyarakat bahwa sebagian polisi menggunakan kewenangannya untuk mencari uang dari pengguna jalan. Lantas aku berpikir bahwa barangkali nanti aku akan mengeluarkan kartu pers bila perlu. Sebagian teman sejawatku menggunakan kartu pers sebagai alat sakti menghindari ‘sergapan’ polisi.    

“Mana STNK dan SIM-nya?”

“Lho, saya salah apa, Pak?”

“Sudah, keluarkan saja!  Saya mau periksa kelengkapannya!”

Sial. Aku tahu trik semacam ini. Ia akan menahan suratku alias menilang. Aku masih mempertimbangkan mengeluarkan kartu pers.

Aku mengeluarkan dompet dari dalam tas dan menunjukkan STNK dan SIM padanya. Terlihat itu polisi mencermati sekali kesamaan STNK dan SIM serta plat nomorku. Jantungku masih berdesir kencang. Aku memang paling malas berurusan dengan polisi.

Setelah puas melihat, itu polisi mengembalikan STNK dan SIM-ku. “Ini peringatan saja,” katanya. “Kali ini saya tidak menangkap kamu. Kalau kamu melintas di jalan ini dan Jalan Jenderal Sudirman, polisi lain bisa menangkapmu. Kamu sudah melanggar  (bla...bla...bla...mengucap angka, barangkali peraturan. Aku sangat tidak mempedulikannya). Sebaiknya kamu membuat lagi plat nomor di Polda.”

Aku mengiyakan saja. Tak mau memperpanjang urusan. Kumasukkan kembali STNK dan SIM ke dalam dompet. Dua polisi bermotor gede melanjutkan perjalanan.

Aku kembali menancap gas. Lari motor dua polisi lamban dan aku berpikir untuk mendahului mereka lagi. Yupz, aku mendahului mereka. Masa bodoh kalau dikejar lagi. Dan itu polisi tak mengejar. Syukurlah.

Sepanjang jalan aku berpikir-pikir, apakah aku termasuk orang yang tidak beruntung? Temanku memiliki motor yang plat nomor motornya terpotong sebagian. Hanya nomor seri bagian atasnya saja tersisa. Yang bagian bawah, yang menandakan bulan dan tahun berakhir izin penggunaan kendaraan, tiak ada. Juga banyak sekali plat nomor motor yang jelek atau pun bagus berkeliaran di jalan-jalan--yang pasti mereka buat di tukang-tukang pinggir jalan. Kenapa harus aku? Hikmah? Entahlah.

Yang pasti ingatanku beralih pada hari di mana plat nomor motorku dicuri. Pencuri itu telah sukses membuatku berurusan dengan polisi. Dan aku tak peduli bila ada polisi lagi yang menghentikanku lantaran aku pakai plat nomor jelek—aku berpikir akan membuat plat nomor motor baru yang keren dan tampak seperti aslinya. Ke Polda? Cape deeeh...!

Aku terus memacu motor memotong jalan-jalan ibu kota. Sekitar setengah jam kemudian aku memasuki area TIM dan berhenti di hadapan teman-teman yang sedang melakukan apresiasi seni. Senyum ceria mereka menyambutku. Aku senang sekali. Letih dan stres tak lagi terasa.

Hikmah
Apa hikmah peristiwa itu? Akh, lagi-lagi aku belum mendapatkannya. Barangkali sebagai kado cerita untuk teman-temanku saja. Aku hanya berusaha menikmati amanah sebagai seorang pemimpin. Biarlah aku bercapai-capai menguras keringat asalkan kerja organisasi berjalan lancar. Kenikmatan yang telah lama tak kureguk sejak meninggalkan bangku kuliah.


Duren Sawit, 16 Juli 2007