Total Tayangan Halaman

Minggu, 08 Mei 2011

Hikmah dan Plat Nomor Motor yang Hilang

Sebelumnya aku tak pernah berpikir untuk berhubungan dengan tukang plat nomor. Tapi, pada Senin malam 4 Juni lalu aku sangat memerlukan mereka. Berkendara Vega  keluaran 2007 tanpa plat nomor di bagian belakang, aku menyusuri sejumlah ruas jalan di wilayah Kecamatan Duren Sawit. Aku memulai pencarian dari Jalan Duren Sawit Raya, kemudian berturut-turut Jalan Buaran Raya, Jalan Raden Inten II, berputar kembali di depan Masjid An-Nuur ke Jalan Radin Inten II, Jalan Perumnas Raya, Jalan Delima Raya, Jalan Malaka Raya, Jalan Wijaya Kusuma, Jalan Wijaya Kusuma I, berputar kembali ke Jalan Wijaya Kusuma I, Jalan Teratai Putih Raya lewat depan Terminal Malaka Jaya, Jalan I Gusti Ngurah Rai hingga perempatan Pasar Klender, Jalan Pahlawan Revolusi hingga perempatan Pondok Bambu, Jalan Kolonel Soegiyono, Jalan Swadaya Raya, lalu pulang ke rumah. Hasilnya nihil. Tak satupun tukang plat nomor tertangkap oleh sapuan mataku. Hampir satu jam kuhabiskan untuk mencari pedagang kaki lima yang bertahun-tahun kuabaikan keberadaannya.

Tiba di rumah kuceritakan hal itu pada ibu dan adik perempuanku. Mereka kompak menakut-nakuti: “Awas lho Bil, siapa tahu platnya digunakan orang untuk berbuat jahat.” Adikku menambahkan, “Cepat lapor polisi!” Tak ada satupun yang menyarankanku untuk sabar, tenang, dan tidak panik.

Dugaan plat nomor motorku akan dibuat untuk kejahatan sudah terbetik dalam pikiranku kala sore harinya aku masih di tempat kerja. Seorang rekan kerjaku awalnya menanyakan kemana plat nomor motorku bagian belakang. Aku kaget. Kupikir ia bercanda saja. Lalu bergegas aku turun ke lantai satu tempat parkiran dan membuktikan kata-katanya. Motor itu terparkir rapi bersama motor-motor lain. Helm dan rompi masih tergantung apik di stang, namun plat nomor bagian belakang raib bersama rangka pelindungnya. Seorang Office Boy, yang meminjam motorku, memastikan plat itu masih ada saat ia memarkir motor. Kesimpulannya, itu plat dicuri orang di tempat parkir. Tak mungkin plat jatuh karena ia dipasang dengan mur yang dikunci kuat.           

Aku menghubungi satpam. Itu satpam rada tidak percaya dengan dugaan pencurian. Sebab situasi sekitar parkir agak ramai. Tukang bangunan dan cleaning service sering mondar-mandir. Kalaupun mencuri, untuk apa?

Rekan-rekan kerjaku yang lain tidak percaya dengan dugaan pencurian itu. Mereka lebih percaya bahwa itu plat terjatuh di jalan. Entah dugaan mana yang bisa dipegang, yang pasti itu plat sudah lenyap dan aku harus bergegas mendapatkan plat pengganti. Walau langit sudah dilingkupi selimut hitam.

Sepanjang jalan aku berpikir-pikir, hikmah apa yang akan aku dapat; plat nomor dicuri, berkeliling Duren Sawit mencari tukang plat, dan akhirnya aku tidak menemukan mereka.

Hikmah
Segala peristiwa mengandung hikmah; makna di balik kejadian yang bersifat immateri. Keberadaannya diungkap lewat proses rumit yang berkelindan. Mengurai kerumitan bisa dilakukan oleh orang-orang yang berpikir dan menggunakan akal pikiran. Namun, proses penguraian tak akan berjalan sukses tanpa melibatkan sang pencipta kerumitan: Tuhan Yang Maha Kuasa. Usaha melibatkan-Nya tak akan pernah mulus kecuali berpikir positif dahulu terhadap-Nya. Dengan berpikir positif terhadap-Nya, keping-keping hikmah milik-Nya akan merasuk dalam pikiran dan hati kita.

Pernah aku berpikir-pikir apa hikmah bekerja di kantor ini. Bekerja di penerbitan majalah sebagai reporter merupakan pengalaman pertamaku.

Itu berawal sebulan usai wisuda pada Maret 2006, aku diberitahu seorang teman bahwa ada majalah bulanan terbitan baru yang butuh reporter. Diberinya aku nomor telepon sang redaktur majalah. Besoknya aku menemui redaktur tanpa diharuskan membawa surat lamaran atau pun curriculum vitae. Kantornya di bilangan Kemayoran Jakarta Pusat.

Redaktur menerima baik kehadiranku, malah ia langsung menugaskanku meliput peluncuran produk mobil terbaru di Planet Hollywood. Aku menolak dengan alasan belum siap.

Liputan pertamaku acara seminar di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, pertengahan April 2006. Penugasan pertama dari redaktur ini memang sangat kutunggu-tunggu. Setelah tulisan selesai kubuat, Wakil Pemimpin Redaksi datang dan memintaku menceritakan isi seminar. Diakhir pembicaraan ia berkata, “Sudah, tulisannya tidak usah dimuat. Tidak sesuai dengan isi majalah!” Deg, aku terpana, tak percaya dengan apa yang baru kualami.

Padahal, saat aktif di pers kampus dan menjabat Pemimpin Redaksi, aku selalu menentukan laik-tidaknya pemuatan sebuah tulisan. Dan hampir tidak pernah aku memutuskan sebuah tulisan tidak dimuat. Sebab aku akan meminta reporter untuk menulis ulang atau pun memperdalam isi liputan. Sehingga itu tulisan tidak sia-sia ditulis. Bagaimanapun peliputan merupakan eksekusi dari hasil sebuah rapat proyeksi—rapat penentuan tema—yang dihadiri seluruh jajaran redaksi. Pembatalan tulisan adalah usaha sia-sia yang tidak menghargai waktu dan tenaga.

Seterusnya aku berusaha menikmati pekerjaan. Syukurlah aku memiliki idealisme yang sama dengan redaktur. Ia memberiku keleluasaan menuliskan hasil liputan. Kesempatan ini kugunakan untuk mengasah kemampuanku menulis berita berbentuk feature. Selama enam setengah tahun aku kuliah dan aktif di pers mahasiswa, tiga tahun pertama aku mencari format penulisan khasku, dan selebihnya bereksperimen dan membentuk sendiri konsep dan pemahaman penulisan feature yang sederhana. Formulasi buatanku lalu kuterapkan dalam penulisan di majalah dan menarik minat redaktur.             

Dalam kurun waktu setahun bekerja, banyak sekali pelajaran yang kudapat, terutama dalam hal relasi antarsejawat. Karakter tiap orang kubaca dan pahami. Ada tipe jarang bicara namun rajin bekerja, pengintrik, pembohong, pencari selamat, penjilat, masa bodoh. Aku juga belajar bagaimana menempatkan diri di antara dua kubu yang sebelumnya berseteru. Redaktur memberiku pelajaran untuk selalu bersikap tenang dalam menghadapi masalah, tidak gegabah, hati-hati dalam bicara, dan tegas dalam bersikap. Ia juga mengilhamiku agar bersikap welas asih pada siapapun karena pada dasarnya pilihan seseorang dalam bersikap dapat dimengerti asal-usulnya.

Apa hikmah di balik ini semua? Ya, aku merasa Tuhan ingin membekaliku pengetahuan mengenai kejamnya dunia kerja yang terjadi di antara sesama pekerja. Aku bersyukur aku tidak larut dalam pusaran tak menguntungkan itu. Bila bekal ini sudah cukup, Ia akan menempatkanku di suatu tempat di mana aku telah siap menghadapinya.

Namun adakalanya hikmah tak langsung didapat. Apakah ini lantaran otak bebal atau kurang dekat pada Tuhan? Aku tidak tahu. Yang kutahu aku belum bisa mengambil hikmah kenapa plat nomor motorku hilang, bukan plat milik orang lain.

Baiklah kuurai satu per satu garis besar ceritanya, semoga dengan begini aku bisa mengambil hikmahnya. Pertama, aku kehilangan plat nomor motor. Kenapa bukan motor orang lain? Kedua, malam-malam aku mencari tukang plat. Kenapa tidak ketemu? Ketiga...ya barangkali episode cerita ketiga ini bisa membantuku.

Besoknya 5 Juni pagi, aku mencari tukang plat. Yang ada dalam otakku adalah tukang plat di pinggir Jalan I Gusti Ngurah Rai dekat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Sebab hampir sepuluh tahun aku lewat jalan itu (sejak sekolah), selalu kulihat tukang plat yang mangkal di samping halte.

Ternyata benar. Tapi lapak tukang plat itu berpindah tak jauh dari halte itu. Aku ke sana dan memesan satu plat pada seorang ibu. Katanya, nanti sore aku sudah bisa mengambilnya. Lapaknya buka pukul 06.30 dan tutup pukul 18.00.

Usai memesan aku pergi ke kantor. Langit Jakarta gelap dan hujan turun lama. Sore aku datang ke lapak tukang plat, tapi belum tersedia. “Tadi hujan seharian, jadi belum bisa menjemur plat,” jelas Pak Tua, barangkali suami ibu tadi. Aku diminta datang besok pagi pukul 09.00. “Bisa langsung pasang,” tambah Pak Tua.

Aku datang pukul 10.00. Ia menunjukkan plat buah tangannya dan membungkusnya dengan kertas koran.


“Lho, Pak, langsung pasang saja!” kataku.

Pak Tua membatalkan niatnya membungkus plat. “Kamu bawa mur?”

Aku kaget bercampur heran. “Lho, kemarin kan Bapak bilang platnya bisa langsung dipasang di motor.”

“Iya, tapi kalau kamu bawa mur.”

“Memang Bapak tidak punya mur?”

Pak Tua menggeleng. Si Ibu memberitahu, “Coba kamu tanya tukang tambal ban sepeda di situ. Barangkali ia jual mur.” Ia menunjuk tukang tambal ban sepeda dekat halte.

Aku mendekati tukang tambal ban. Seorang lelaki tua dengan uban memenuhi kepala sedang sibuk dengan ban sepeda. Barangkali ia seang menambalnya.

“Pak, ada mur ukuran 10?” tanyaku.

“Tidak,” jawabnya, pelan.

“Di sini yang jual di mana ya?”

“Itu, dekat tukang rokok!”

 Aku ragu-ragu. Jangan-jangan tukang rokok jauh dari situ. Aku pengin cepat-cepat selesai. “Jauh tidak, Pak, dari sini?”

“Apa artinya jauh kalau kamu butuh?” jawab Pak Tua dengan nada tinggi. Sepertinya ia jengkel dengan pertanyaanku.

Usai mengucap terima kasih aku meninggalkannya, tidak mempedulikan gerutunya yang terdengar samar seperti melanjutkan omelannya tadi. Aku mencari tali, mendapatkannya, dan meminta Pak Tua penjual plat memasangkannya pada motorku.  

Sekarang aku berpikir, apakah episode ketiga ceritaku barusan dapat menunjukkan hikmah yang sedang kukuak? Rasanya aku belum mendapatkannya.



Duren Sawit, Kamis, 7 Juni 2007. 00.35 WIB.

             


        

Kuda Gedubrak

Usai berselancar di dunia maya di warung internet dekat perempatan Jalan Radin Inten, tadi sore, aku keluar untuk pulang. Sepeda motor kuhidupkan. Aku tidak hendak beranjak ketika pandangku tertuju pada sekumpulan anak yang bermain di trotoar. Seorang anak berdiri menyender pada tiang listrik yang tertancap di badan trotoar. Teman di dekatnya membungkuk, memasukkan kepala ke bawah selangkangannya dari arah depan. Sementara selangkangan anak yang memasukkan kepala dari arah depan mengapit kepala teman sekelompoknya yang memasukkan kepala dari bawah pantatnya. Berturut-turut ke belakang.

Agak lama mereka membentuk formasi, karena beberapa di antara mereka merasa tidak nyaman dengan posisi tersebut; kepala di bawah selangkangan. Buat yang memasukkan kepalanya, ada kekhawatiran akan dikentuti temannya. Sebaliknya, yang membiarkan selangkangannya dimasuki kepala, merasa tidak nyaman karena harus mengapit kepala yang bergerak-gerak. Dari jauh aku dapat membaca gerak bibir mereka saat mengucapkan hujat dan cacian. Satu-dua mengambil posisi berkelahi, tapi tidak diteruskan.

Formasi terbentuk dengan posisi rapuh. Anak berbadan tinggi dan besar membungkuk dekat penjaga yang berdiri. Yang paling kecil membungkuk paling belakang.

Satu...dua...tiga!

Dengan cepat, satu per satu sekelompok anak lain berlari dan melompat ke tubuh-tubuh membungkuk itu.

Bruk!

Tiap satu tubuh mendarat di punggung, formasi bergerak-gerak. Menahan hunjaman dan berat badan lawan. Seorang anak melompat dan mendarat pada tubuh anak terakhir. Temannya tak membiarkan situasi membaik. Ia langsung menerjang dan hinggap di tubuh temannya.

Bruk!

Ini benar-benar sulit. Lompatan terakhir ini membuat formasi membungkuk goyah dan akhirnya ambruk. Semua tertawa. Aku di atas motor, satpam dan tukang ojek di depan warnet, ikut tertawa.

Aturan permainan ini sederhana. Permainan dibagi dua kelompok. Kelompok pertama, yang kalah undi—biasanya lewat suit—membentuk formasi seperti tadi. Anak yang berdiri sebagai penjaga atau kepala. Anggota kelompok kedua duduk di punggung anggota kelompok pertama. Orang pertama dan terdepan melompat berfungsi sebagai ketua kelompok. Ketua masing-masing kelompok bisa bergantian sesuai kesepakatan.

Kelompok pertama tidak boleh ambruk. Kalau ambruk harus membentuk formasi baru. Kelompok kedua, saat duduk di punggung kelompok pertama, tidak boleh menjejak tanah/lantai. Bila ada yang ketahuan kakinya menjejak lantai, kelompok ini berganti posisi dengan kelompok pertama. Setelah posisi stabil, kedua kelompok tidak ada yang melanggar ketentuan, masing-masing ketua kelompok beradu suit. Bila kelompok pertama menang, maka posisi berganti. Tapi bila sebaliknya, posisi berulang. Begitu seterusnya.

Saat melihat mereka bermain, ingatanku terlempar pada masa sekitar 15 tahun silam, kala aku duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Kami menyebut permainan ini Kuda Gedubrak. Entah apa artinya, aku tidak pernah menanyakannya. Aku masih ingat, aku sering memainkan permainan ini di sekolah dan di rumah bersama teman-teman. Ini permainan menantang dan keras, maka harus siap-siap menanggung risiko. Tidak seterusnya menjadi kelompok yang duduk di atas punggung lawan. Bisa jadi terus merana dihantam tubuh-tubuh berat dan kekar lalu luka terinjak-injak. Ini permainan anak lelaki. Aku tidak pernah melihat anak perempuan memainkannya. Juga campuran.

Percayalah, saat anak-anak memainkan permainan ini, setidaknya berkaca pada usia aku dulu, tidak ada pikiran kotor dalam membentuk formasi seperti itu. Bahkan untuk memikirkan sebuah kejorokan; memasukkan kepala diapit selangkangan lewat bawah pantat. Paling-paling hanya khawatir dikentuti—salah satu posisi rawan kentut adalah tubuh tegang dan tiba-tiba sebuah hentakan hebat membebat.

Sungguh, aku tidak bermaksud menceritakan sebuah permainan porno atau berbau porno. Tapi itulah realitanya. Aku tidak tahu dari daerah mana permainan ini berasal. Yang pasti, dari rentang sekian tahun kulalui, aku baru kembali melihat itu permainan sore tadi.             


Permainan masa kanak-kanak
Kuda Gedubrak salah satu permainan saat aku kanak-kanak. Ya Tuhan, bahagianya aku. Tiap hari aku bermain, mengikuti musim yang selalu berganti. Sejumlah permainan yang pernah kumainkan bisa kusebutkan di sini; senjata rahasia ninja, anggar, kelereng, layang-layang, galasin, benteng, gambaran, gentrong, kiyu-kiyu, karet, congklak, bekel, bengkat, mencari jejak, petasan, pletokan, panahan, gangsing, adu biji karet, perang-perangan.

Semua menyenangkan. Sebab kala kukecil masih banyak kebun yang bisa dirambah dan menjadi tempat bersembunyi. Banyak pohon tinggi yang bisa dipanjat. Banyak tanah lapang yang bisa dijadikan tempat bermain.

Kalau musim hujan tiba, aku senang bermain di sawah. Tidak memancing, karena aku tidak bisa memancing dan cukup sabar mendapatkan ikan. Aku ikut rombongan teman-teman yang menangkap ikan menggunakan racun bernama cengkaling—berbentuk seperti kamper; padat, kecil, putih, dan mudah larut. Kalau tidak ada cengkaling, cukup membuat bendungan lalu menguras air dalam bendungan sehingga ikan mudah ditangkap. Selokan-selokan yang mengitari Kompleks IKIP juga jadi medan perburuan favoritku. Aku sangat senang bila mendapatkan ikan gabus besar, betik atau betok berukuran sedang, dan menyabarkan diri bila dapat ikan sepat kecil. Ikan julung-julung, jepi, atau cere tidak masuk dalam daftar buruanku. Ikan lele, aku jarang mendapatkannya.

Aku masih ingat, walau sering ke sawah ataupun rawa sehingga kulit sering busik (bila digaruk akan membekas goresan putih), baru sekali aku digigit lintah. Itu terjadi saat aku memancing di rawa yang kini berubah menjadi kompleks perumahan di kawasan Pondok Kelapa, tepatnya di depan kampus Universitas Darma Persada, Jakarta Timur. Aku baru menyadari digigit lintah setelah beberapa ratus meter meninggalkan rawa. Panik aku saat itu. Untunglah lintah itu tidak sulit dilepas dari kakiku—barangkali sudah kenyang menyedot darahku.      

Waktu kecil aku juga suka bersinggungan dengan besi-besi tua. Dulu, sebelum Jalan  Radin Inten dibangun, daerah itu merupakan areal persawahan, rawa, dan jalanan becek berlumpur. Sejumlah bangunan tradisional seperti pabrik kerupuk (ya Tuhan aku masih mengingatnya!) dan rumah-rumah tua digusur. Beragam perkakas yang terbuat dari besi, aluminium, tembaga, dan lain-lain, teronggok di mana-mana. Banyak sekali yang tertimbun dalam tanah.

Besi-besi itu dikumpulkan, lalu ditukar dengan ayam negeri, burung puyuh, berondong, atau piring/gelas di tukang pulung/pengumpul yang sering berkeliling kampung. Terkadang barang ditukar uang, walau aku dan teman-teman jarang melakukannya.  


Sekarang
Namun permainan, tempat, dan suasana mengasyikkan itu berubah drastis. Semenjak di kampungku Cilungup dibangun kantor Camat Duren Sawit, pendirian rumah dan perbaikan fasilitas jalan raya berkembang pesat. Kebun-kebun dan tanah lapang disulap menjadi rumah megah. Tanah, ya tanah, menjadi sulit dicari untuk dijejak. Aspal dan coran semen menggantikannya. Para tuan tanah yang kebanyakan warga Betawi menjualnya ke kaum pendatang.

Situasi ini tentu saja membatasi akses anak-anak untuk bermain. Kasihan sekali mereka. Tidak punya tanah lapang sebagai tempat bermain dan bercengkrama. Televisi tak cukup baik menggantikan suasana. Semua sudah berganti.

Melihat ini aku menjadi sedih, walau tidak bisa berbuat apa-apa. Perkembangan jiwa anak, yang turut diperkaya oleh berbagai permainan yang melibatkan rasa, emosi, dan pikiran, terganggu. Tidak ada lagi suasana kebersamaan, kerja dalam tim dan saling membahu mencapai tujuan bersama dalam sebuah permainan yang sportif. Mereka kini menjadi jiwa-jiwa individualis karena tidak pernah terikat oleh sejumlah permainan anak-anak.

Yang tersaji kini adalah orang-orang dengan jiwa dan perilaku kaum metropolis yang individualis, sok modern, gagap teknologi, dan ironisnya tidak berpikiran maju; kreatif, efisien, berani mengambil keputusan. Apa yang bisa diharapkan dari orang-orang macam begini?

Tidak, tidak, aku tidak sedang membicarakan anak-anak di lingkungan sekitarku. Aku bicara tentang situasi kehidupan yang lebih luas. Sebab, sampai hari ini, salah satu permainan sedang menjadi musim di sekitar tempat tinggalku, yaitu layang-layang. Yang bermain adalah teman-teman sebayaku, juga pemuda berkeluarga. Walau harus berdiri di atap rumah tetangga, atau jalan raya.               


Duren Sawit, 17 Mei 2007. 23.35 WIB.

Aku dan Asmara Hari Itu

Suasana gedung Bioskop Buaran Teater 1 agak gelap menjelang pemutaran film Spiderman 3. Aku duduk di bangku I 13, diapit dua pasang muda-mudi. Sesekali aku menyisir pandang sekeliling; banyak bangku tak terisi. Aku berpikir, pada kemana orang-orang yang memegang karcis? Bukankah karcis masuk untuk pemutaran film gelombang kedua sudah habis terjual? Ini saja aku membelinya setengah jam sebelum pemutaran film gelombang pertama—aku datang terlambat dan terpaksa membeli karcis gelombang kedua karena karcis untuk gelombang pertama sudah habis.

Beberapa menit sebelum film diputar, aku mengirim pesan layanan singkat (SMS) iseng ke tiga teman. Isinya begini: “Sst...tenang, sebentar lagi Spiderman 3 diputar. Alow..., seperti biasa si jomblo sendirian. Duh, aku diapit dua pasang muda-mudi yang lagi bermesraan. Bagaimana ini? ;=)”.

Begitulah. Tiap aku nonton film bioskop di Buaran Teater, Pondok Kopi, Jakarta Timur, aku selalu sendiri. Maklum tidak punya pacar. Biasanya aku nonton Senin dengan harga istimewa alias nomat (nonton hemat); dari harga biasa Rp 15 ribu menjadi Rp 10 ribu. Nonton di gelombang pertama sekitar pukul 14.00. Aku masih ingat, film pertama yang kutonton setelah sekitar 10 tahun tak menjamah bioskop adalah Lord of The Rings 3.      

Beberapa lama kemudian adikku yang sedang berada di rumah menjawab SMS: “Kasiaa...an deh lho..oo!”. Aku tertawa. Temanku yang lain menjawab dengan sebuah kesedihan. Ia sedih karena anaknya yang baru berusia setahun sedang terserang sakit serius—flek paru-paru. Kepalanya juga benjol lantaran terjatuh dari bangku lalu didekap demam. Ia merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik. Ya Tuhan, aku merasa bersalah padanya. Kemudian aku membalas SMS-nya agar ia sabar dan tidak perlu terus bersedih.

Sebuah SMS curahan hati (curhat) dari temanku di Lombok, Nusa Tenggara Barat, masuk. Ia berkata bahwa Senin 7 Mei itu merupakan hari yang melelahkan. Tugas-tugasnya sebagai guru Bahasa Indonesia membuatnya lelah. Aku menghiburnya lalu mengirimkan SMS itu. Menjawab dia, “Wah, enak bisa nonton. Istighfar aja!”.

Spiderman 3 tayang. Aku membetulkan posisi duduk. Serius. Tiba-tiba suasana gedung riuh. Orang-orang berdatangan mengambil posisi duduk sesuai karcis. Deretan bangku kosong di belakang tempat dudukku diisi oleh satu keluarga yang memiliki banyak anak! Aku jadi teringat saat nonton Superman Returns beberapa waktu lalu. Aku diganggu oleh beberapa anak kecil yang berlarian ke sana kemari. Dan benar saja, saat film diputar, seru-serunya, beberapa anak di belakangku gaduh, menendang-nendang bangkuku. “Grr...”

Sebuah SMS masuk. Balasan terhadap SMS yang kukirim padanya. Ia baru saja megikuti seminar jurnalistik dan mendapatkan sebuah buku teranyar karangan Moammar Emka—penulis buku best seller Jakarta Under Cover—setelah sebelumnya dikerjai dulu olehnya. Satu kalimat darinya kutuliskan di sini, “Kalo ada orang bermesraan, gangguin aja, he..he...Jadi setan beneran”.

Aku mengulas senyum kecil usai membaca SMS-nya. Kulihat lagi sepasang muda-mudi di samping kananku. Yang lelaki sibuk meraba wajah si perempuan sambil berusaha memeluk dari tempat duduknya, sementara si perempuan menujukan pandangannya ke layar film. Kukirimi lagi temanku sebuah SMS. Isinya tentang agresivitas muda-mudi itu yang mulai hangat di pertengahan film. Temanku membalas, “Haha..Mas ini aneh deh. Mau nonton orang berpelukan atau nonton Spiderman 3?” Aku tidak membalas SMS-nya. Hanya tertawa karena ia memang berkata benar.

Terus terang saja aku merasa terganggu dengan aktivitas dua pasang muda-mudi di samping kanan-kiriku. Tapi aku tidak punya alasan baik kenapa aku harus terganggu oleh mereka. Tapi memang aku tidak mujur hari itu.

Sebelum-sebelumnya aku nonton di antara anak-anak sekolah yang biasanya bersama rombongan sekelasnya. Ya, bioskop Buaran dekat dengan beberapa sekolah. Tarifnya terjangkau kantong dan gedungnya lumayan bagus walau tidak semegah bioskop 21.

Soal asmara, aku orang yang sangat cuek. Terlebih bila berada dekat dengan orang yang sedang memadu asmara atau pacaran. Bioskop tempat nonton film dengan beragam motivasi, dan aku termasuk orang yang menikmatinya sebagai hiburan dan menambah daya imajinasiku. Yah, uruslah kepentingan masing-masing, pikirku. Hanya saja aku memang selalu iseng bila melihat orang pacaran. Sekadar melihat aktivitas mereka saat memadu kasih, terlebih di tempat gelap macam bioskop. Dan aku menarik kesimpulan, motivasi dua pasang muda-mudi berbeda saat memasuki gedung bioskop. Yang mudi benar-benar ingin menonton dan menikmati traktiran cowoknya, sementara yang cowok ‘menikmati’ kesempatan duduk di samping cewek yang serius menujukan pandangan ke layar film.

Soal pacaran, barangkali aku orang paling kasihan. Aku tak pernah merasakannya. Bukan karena tidak bisa atau tidak laku, namun memang tidak ingin saja. Sayang, gairah muda dihabiskan untuk menjalin asmara. Nanti saja kalau sudah menikah, pikirku.

Tapi bukan berarti aku tidak tahu soal dunia asmara. Dulu, waktu masih kuliah, aku sering jadi tempat curhat beberapa teman yang gagal atau sedang menjalin asmara. Kebanyakan mereka memiliki jam terbang tinggi dalam berpacaran—bisa lebih dari lima kali. Aku membantu sebisanya. Tepatnya, aku menggali seluk-beluk dan pernak-pernik kisah mereka dan merekamnya dalam ingatanku untuk dijadikan bahan menulis. Bagaimana aku bisa menulis perihal cinta dua manusia kalau merasakannya saja tidak pernah? Bagaimana merasakan sakit hati, patah hati, cemburu, gelisah, bergairah, senang, sedih. Maka aku memerlukan berada di dekat mereka untuk mengetahui segala permasalahan yang dihadapi. 

Spiderman 3 sendiri ternyata mengumbar banyak adegan ciuman. Sialan! Saat adegan ini berlangsung, suara-suara riuh menggema mengisi ruangan. Intinya berteriak, “Seru! Teruskan!”. Brengseknya, saat jeda menjelang adegan berciuman, beberapa anak kecil di belakangku teriak kompak dengan nada bersemangat, “Cium! Cium! Cium!”. Yah, dilematis juga. Film ini jelas-jelas ditujukan untuk remaja, tapi orang tua mengajak anak-anaknya ikut menonton. Film superhero memang menarik minat semua kalangan usia, dari anak-anak hingga orang tua. Namun tetap saja kehidupan orang dewasa yang dimunculkan. Terlebih film-film Hollywood tak pernah lepas dari adegan seks dan kekerasan.

Hari itu aku pulang dengan perasaan lega. Adegan laganya bagus. Yang kusayangkan, kerja-kerja kewartawanan Peter Parker sebagai juru foto tidak ditonjolkan. Padahal, salah satu motivasiku menonton film-film seperti itu adalah karena profesi jurnalistik yang disandang para tokohnya, seperti Clark Kent dan Louis Lane dalam Superman. 

Duren Sawit, 16 Mei 2007. 00.58 WIB.

Karya Ilmiah VS Karya Jurnalistik

Tolong beritahu aku, bagaimana membuat karya ilmiah yang baik.


Pertanyaan ini muncul ketika seorang adik kelasku sewaktu kuliah di Jurusan Teknik Elektro sebuah universitas negeri satu-satunya di Jakarta, Astuti namanya, bercerita sesuatu yang bagiku menggelitik—aku bertemu dengannya empat hari lalu di sebuah resepsi pernikahan seorang teman. Suatu hari ia bertemu Sri Sujanti, Dosen Pembimbing II skripsiku. Ia melihat sebuah skripsi tergeletak di meja Sujanti dan berkata, “Oh ibu Dosen Pembimbing skripsi Kak Billy ya?” Sujanti lalu menanggapi, “Iya. Kalau baca skripsi Billy kayak baca koran.” Sujanti, kata Astuti, menginginkanku menulis secara ilmiah, bukan model koran. Sebab skripsi adalah karya ilmiah.

Ternyata pendapat Sujanti tidak berbeda dengan Dosen Pembimbing Skripsi I ES. Triday. Saat aku menyodorkan proposal skripsi ke Triday, kalimat pertama yang terlontar dari mulutnya adalah, “Kamu biasa menulis di majalah ya?” Aku menjawab apa adanya. Bahwa aku pernah menggarap majalah saat bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika, dan masih aktif mengelola tabloid Transformasi—tabloid kampus.    

Kesamaan pendapat dua dosen ini membuatku tertawa. Apa masalahnya dengan gaya tulisanku? Apakah sulit dicerna? Tidak terasa aroma akademis? Atau apa sehingga tulisanku tidak digolongkan sebagai ilmiah?

Sebelum dan saat menggarap skripsi, aku banyak membaca skripsi mahasiswa lain. Tidak hanya dari jurusan Teknik Elektro atau Fakultas Teknik, aku juga membaca skripsi mahasiswa dari lintas fakultas, seperti Fakultas Ilmu Pendidikan dan Fakultas Ilmu Sosial. Aku ingin mengambil referensi dan mengetahui bagaimana isi sebuah skripsi yang ideal; lengkap dan tuntas pembahasannya. Sebanyak kubaca skripsi-skripsi itu, rasanya tidak ada yang tergolong lengkap dan tuntas pembahasannya. Dari sini aku ingin menciptakan sebuah skripsi yang masuk kriteria ini.

Aku membaca skripsi mahasiswa jurusanku serta Fakultas Teknik dan aku mengalami kebingungan. Banyak sekali kutemui salah eja, penempatan tanda baca, dan yang parahnya penggunaan kata hubung serta diksi. Kamu tahu, kesalahan penggunaan kata hubung dan pemilihan diksi berakibat fatal. Deksripsi dan pemaparan atas karya-karya penelitian keteknikan haruslah akurat. Tidak boleh salah pilih kata dan tanda hubung; dari, ke, untuk, bagi, dengan, pada, dan, dll. Aku bertanya-tanya, inikah sebuah karya ilmiah? Sebuah karya yang sangat kaku bahasanya, sulit dimengerti, dan banyak mengandung kesalahan berbahasa? 

Aku termasuk orang yang ketat dalam berbahasa, terutama dalam hal penulisan. Aku tak segan-segan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia bila kesulitan memahami sebuah kata atau mencari padanan kata yang pas untuk sebuah situasi. Sebisa mungkin aku menerjemahkan kata asing ke dalam bahasa Indonesia, walau tidak kuterapkan seluruhnya untuk kata-kata serapan bidang keteknikan, seperti input, output, dan mouse. Jurnalisme sangat kental memengaruhi gaya menulisku.

Makanya aku selalu berusaha menulis dengan pilihan kata yang lentur, lancar, luwes, tidak kaku, dan mudah dimengerti. Inilah ciri sebuah karya jurnalistik. Dan inilah pengertian ‘ilmiah’ yang kupegang. Bahwa tulisan/karya baru dikatakan ilmiah bila dapat dengan mudah dimengerti dan dicerna pembacanya. Aku menjauhkan diri dari penulisan yang sangat menginduk pada buku teks (textbook) serta pengertian apa adanya. Aku merangkai kalimat baru untuk mengungkap sebuah makna atau pengertian sejelas-jelasnya.

Salahkah caraku menerapkan hal-hal di atas pada sebuah karya ilmiah bernama skripsi?

Setelah membaca skripsiku, kupikir dosen pembimbing dan penguji, juga mahasiswa pembaca tidak akan mengerutkan dahi untuk memahami sebuah pengertian atau pemaparan. Tulisanku renyah, tidak berbelit-belit, dan langsung ke pokok permasalahan. Ekonomi kata terjaga, sebanyak mungkin menggunakan kata sinonim sehingga tidak ditemui repetisi kata.

Salahkah caraku menerapkan gaya menulis jurnalistik pada sebuah karya ilmiah bernama skripsi?

Aku tetap menggunakan ‘istilah ilmiah’ dan tidak berkeinginan memaksakan padanan katanya. Aku hanya ingin ketika istilah tersebut dimunculkan, pembaca memahami asal-usul dan kegunaannya. 

Saat revisi skripsi, aku menemukan perbedaan beberapa prinsip kepenulisan dengan dosen. Salah satunya mengenai paragraf. Aku berpedoman bahwa satu paragraf terdiri dari satu pikiran utama dan dijelaskan oleh kalimat kedua dan seterusnya. Namun revisi itu menginginkan aku menggabung sejumlah pikiran utama ke dalam satu paragraf. Hal begini juga kutemui pada skripsi yang pernah kubaca. Inikah karya ilmiah? Atau kesalahan dosen dalam memahami cara penulisan karya ilmiah? Kupikir hal kedua jawabnya.

Satu semester kemudian (aku diwisuda Maret 2006) aku mendengar keluhan seorang teman. Kami sama-sama aktivis organisasi. Katanya, saat sidang skripsi digelar, sama sekali tidak terjadi suasana diskusi secara sehat. Dosen ingin mahasiswa yang diujinya mendengarkan dan membenarkan kata-katanya. Tidak boleh digugat. Sementara mahasiswa yang ingin menjelaskan argumennya secara komprehensif—walau pada akhirnya terlalu panjang—dianggap tidak berkelakukan baik. Ngeyel. Mana dialektika sebuah sidang karya ilmiah? Mahasiswa aktivis organisasi sudah sering berdiskusi dan menganggap perbedaan pendapat adalah kewajaran. Kecuali terhadap hal-hal bersifat teknis dan tak dapat dibantah, semua pendapat dapat didiskusikan. Tapi dalam sidang skripsi? Jangan harap semua itu terjadi! Sebab aku juga mengalaminya. Pada akhirnya kami ‘mengalah’ pada ketidakadilan ini. Karena kelulusan ada di tangan mereka.

Sebaiknya pemaknaan ilmiah terhadap karya skripsi perlu dikaji ulang. Aku masih bisa menahan diri bahwa aku tidak menulis skripsi dengan gaya feature atau hardnews. Aku menuliskannya secara ‘ilmiah’ sebagaimana pemahamanku atas istilah tersebut.


Duren Sawit, 12 April 2007, 22.42 WIB.  


 

Aku dan Gerimis

Jumat sore, 16 Maret 2007. Aku memacu motorku membelah jalan berliku di bawah langit Kemayoran yang menghitam. Hujan baru saja reda, namun masih menyisakan rintik di sana-sini. Aku tak peduli, biarlah hujan mendera asal aku bisa sampai ke Taman Ismail Marzuki. Cempaka Putih, kata seorang teman dari ujung pesawat telepon beberapa menit sebelumnya, hujan deras. Bagaimana dengan Cikini yang masih wilayah Jakarta Pusat? Aku tak peduli. Kutarik pedal gas dalam-dalam dan sesekali berakrobat di tengah kepadatan kendaraan. Aku tidak boleh terlambat!

Taman Ismail Marzuki tersekap gelap kala motor kuparkir di tengah kompleks pusat budaya itu. Rintik masih turun. Udara sedikit dingin. Deviyana, yang sejak awal duduk tenang di belakang punggungku, melangkah bersamaku menuju lokasi acara. Sebagai teman bicara kadang ia asyik, namun terkadang pula aku sulit mencerna kata-katanya—bicaranya cepat.

Graha Bakti Budaya dan Galeri Cipta 3 terlihat ramai. Poster dan spanduk besar berisi kabar pentas drama bertajuk ‘Mahkamah’ oleh Teater Pelakon terpampang di sekitarnya. Rencananya hari itu Teater Pelakon akan mementaskan drama untuk mengenang tiga tahun kepergian seniman teater Indonesia Asrul Sani. Kami berjalan menyusuri lorong di samping toko buku milik budayawan sekaligus sutradara ‘Mahkamah’ Jose Rizal Manua.  

Sepanjang perjalanan itu aku sedikit takjub. Sejumlah lampion terbuat dari rangka bambu dibungkus kertas minyak warna merah tergantung apik. Di dalamnya menyala lampu pijar. Bentuk lampion itu bermacam-macam; balok, limas segitiga, dan berlian—untuk menyebut bangun ruang gabungan dua limas segitiga. Udara dingin menyelinap lewat pori-pori jaketku, membikin aku agak menggigil, sementara suasana sekitarnya redup karena nyala lampion. Gerimis belum pergi.

Di depan sebuah bangunan persegi dekat Masjid Amir Hamzah kami berhenti. Ternyata acara sudah dimulai. Memang kami terlambat beberapa menit. Orang-orang sedang menyimak pembacaan naskah seorang di bangunan terbuka itu.

Sebentar aku terpana pada dekorasi ruangan yang dinamakan ‘Sanggar Baru’. Kain putih besar menutupi sisi utara dan timurnya. Tergantung 12 lampu warna-warni dan 21 buku tebal di sekelilingnya. Di lantai, buku-buku bertumpuk dan berserakan. Sementara lima perangkat perlengkapan belajar yaitu meja, kursi, dan lampu belajar, didiami lima orang.

Yonathan Rahardjo sedang membacakan petikan novelnya berjudul Lanang. Kadang ia duduk menekuri halaman-halaman teks di tangannya, kadang pula ia berdiri dan berputar dekat kursi. Ia begitu menikmati bacaannya.

Pada akhir 2006 lalu Dewan Kesenian Jakarta menggelar Sayembara Menulis Novel. Jurinya Apsanti Djokosujatno, Bambang Sugiharto, dan Ahmad Tohari. Sebanyak 249 naskah novel masuk. Pada 9 Maret 2007, di Teater Kecil TIM, lima pemenang diumumkan. Lima karya itu yaitu Hubbu karya Mashuri (Juara I), Mutiara Karam karya Tusiran Suseno (Juara II), Jukstaposisi karya Calvin Michel Sidjaja (Juara III), Glonggong karya Junaedi Setiyono (Juara Harapan I), dan Lanang karya Yonathan Rahardjo (Juara Harapan II).

Sedianya di acara bertajuk ‘Beraksinya Jawara-Jawara Baru’ sore itu semua penulis pemenang membacakan petikan novelnya. Namun hanya Mashuri dan Yonathan yang melakukannya. Sisanya tidak bisa hadir, tapi karya mereka dibacakan oleh tiga pembaca profesional dari kalangan aktor/sutradara teater di Jakarta; petikan Mutiara Karam di bacakan Haris Priadie Bah, sutradara Kelompok Teater Kami; petikan Glonggong dibacakan dubber Elsa Surya; dan petikan Jukstaposisi dibacakan oleh aktor teater Bambang Ismantoro.  

Saat pembacaan petikan novel, suasana TIM masih dingin dan remang. Aku berpindah-pindah tempat untuk mencari tempat nyaman. Orang-orang bebas duduk di mana saja, terutama yang berada di luar Sanggar Baru. Tikar yang digelar di bagian dalam sanggar tidak terisi penuh.

Aku menyempatkan diri menyambangi tukang bajigur yang mangkal di dekat situ. Kupesan dua gelas bajigur dan mengambil dua timus terakhir dari gerobak—untuk Deviyana. Lumayan, cukup menghangatkan badan.

Usai makan sambil menikmati pembacaan petikan novel, aku hendak membayar ke tukang bajigur. “Tidak usah, sudah dibayar panitia sini,” ujar Sang Tukang Bajigur. Wew, ternyata gratis, toh. Aku berpikir kenapa sejak datang tidak langsung mengambil penganan lain yang cepat habis itu.

Azan Maghrib menggema dari corong pengeras suara Masjid Amir Hamzah ketika Bambang Ismantoro ‘beraksi’. Ia berhenti sejenak demi mendengarkan azan. Penonton sebentar bersorak lalu segera sepi. Aku dan Deviyana bergegas ke masjid setelah mendatangi meja panitia untuk mendaftar dan mendapatkan buku kecil berisi lima petikan novel yang dibacakan serta isian door prize.

Pembawa acara pergelaran seni itu Zen Hae, Ketua Komite Sastra DKJ.  Sebelum sebuah karya dibacakan, ia membeberkan secara singkat isi novel, pengarangnya, dan orang yang membacakannya. Di sela-sela pembacaan karya ia mengundi sepuluh pemenang door prize. Ada sepuluh buku beragam judul yang dibagikan. Nukila Amal, penulis yang juga anggota Komite Sastra DKJ salah seorang yang beruntung. Aku? Alhamdulillah namaku dipanggil dan diberi buku Danger Zone karya Subhan SD terbitan Gagas Media yang terbit September 2003.    

Sebelum acara berakhir redakturku, Sigit Djatmiko, datang. Ia memang sering datang ke tempat itu dan memiliki banyak teman yang berasal dari Yogyakarta. Kami memang sudah janjian bertemu.

Acara selesai. Kami bertiga kemudian nongkrong di depan TIM. Seperti biasa suasananya ramai. Para pedagang mangkal di pinggir jalan. Pembelinya bebas duduk di mana saja. Kami mengambil tempat di bawah deretan spanduk sebelah selatan.

Deviyana mengambil dua gelas dan sebotol Anker Bir dari seorang pedagang. Kata Sigit di tempat itu yang menjual bir ada tiga pedagang. “Kalau Billy tidak boleh,” ucap Sigit sembari menuang bir ke dalam gelas. Itulah kenapa ia meminta Deviyana hanya memesan dua gelas. Sigit tahu aku tidak suka bir. Mencium baunya saja perutku mual.

Kami berbincang mengenai apa saja. Terutama yang berkaitan tentang kegiatan kantor. Lepas. Sigit dan Deviyana masing-masing memesan sepuluh tusuk sate padang sementara aku pesan mie rebus. Aku memang kepingin sekali makan makanan hangat biar badan tidak kedinginan.        

Pukul 21.30 kami beranjak dari TIM. Sigit langsung pulang ke kontrakannya di Kebun Jeruk Jakarta Barat. Sedangkan aku mengantar Deviayana ke kantor di bilangan Kemayoran.

Malam tak lagi dibekap mendung, namun udara mengalir dingin. Kami menyusuri Jalan Raden Saleh-Jalan Kramat Raya-Jalan Gunung Sahari-Jalan Industri yang sepi. Kepuasan tergambar di hati kami. Aku mengantar Deviyana hingga pintu gerbang Arena Pekan Raya Jakarta. Aku masih bisa mendengar suara lelaki asal Sukabumi Jawa Barat itu mengumbar kegembiraan. Aku kembali meneruskan perjalanan pulang ke Duren Sawit Jakarta Timur, sekitar 20 kilometer dari Kemayoran. Udara masih dingin, tapi langit terlihat cerah walau tak berbintang. Gerimis benar-benar sudah pergi.     

Duren Sawit, 17 Maret 2007. 22.24 WIB.

Mengejar Layang-Layang, Melampaui Masa Lalu


Pada Selasa sore 6 Maret lalu aku seperti ditarik kembali ke masa silam. Masa indah di mana aku bisa menghabiskan waktu seharian penuh di luar rumah. Berlarian bersama teman mengejar layang-layang putus, memasuki kebun-kebun rimbun dan pohon-pohon tinggi. Membawa galah panjang yang diujungnya terikat akar-akar tunggang. Berdesakan dan saling dorong kala layang-layang jatuh di tanah lapang. Dan aku pernah mengurung diri di kamar ketakutan usai memecahkan lampu taman pemilik rumah yang pagarnya aku panjat.

Aku sempat mengingatkan diriku sendiri bahwa 28 Oktober adalah hari keberuntungan. Sebab pada tanggal tersebut di tahun yang aku lupa, aku berhasil mengumpulkan banyak sekali layang-layang hasil buruan. Aku merasa mengejar layang-layang lebih menarik ketimbang memainkannya. Selain akan menemui dan berkenalan banyak teman, aku bisa bebas menginjak kebun-kebun, halaman rumah, dan genting rumah yang aku tidak tahu siapa pemiliknya. Alibinya sederhana untuk tidak dianggap maling: mengejar layang-layang. Pemilik rumah atau pun kebun harus memaklumi ‘pelanggaran’ pemburu layang-layang; tanaman rusak terinjak, genting jatuh, pintu pagar tak ditutup kembali. Tapi rumah berpenjaga anjing biasanya aman-aman saja. 

Aku bermain layang-layang di banyak tempat. Aku tidak merasa terikat dengan tetangga atau teman sepergaulan di sekitar rumah. Jadilah aku punya banyak teman. Banyak teman dan orang tua mengenalku tapi aku tidak mengenalnya. Kadang aku main di lapangan berumput dekat rumah. Atau di jalan gang sebelah. Atau di jalan depan rumah. Atau di sawah dekat tempatku bersekolah. Atau di dekat empang, kuburan, dan rawa yang jauh dari rumah.

Biasanya aku main pagi dan menjelang sore. Kalau hari libur bisa seharian, dari pagi hingga sore. Siang terlalu panas. Mengejar layang-layang pun rasanya cepat lelah.

Waktu berjalan kejam menghapus semua jejak kenangan. Semua tempat bermain yang sudah kusebut tadi berubah drastis. Tidak ada lagi tanah lapang. Semua berubah menjadi rumah bertingkat dan pintu-pintu kontrakan. Empang dan rawa diurug, di atasnya ditanami pondasi batu-semen dan besi. Sawah depan Masjid Al-Kusuf menyusut, ditumbuhi rumah-rumah kumuh yang beberapa hari lalu terbakar. Empang-empang bersama jamban-jamban di dekatnya ikut tergusur menjadi bengkel kayu. Tepi-tepi rawa sebagai jalan masuk ke kawasan rawa dipagari rumah-rumah rapat.

Aku jadi tidak lagi bisa melihat para pemancing melempar kailnya di empang sembari memerhatikan kotoran-kotoran kuning jatuh dari jamban. Atau menyaksikan bapak-bapak dan anak muda membawa cengkaling (sejenis peracun ikan, bentuknya kecil dan putih padat) di sawah. Atau tidak lagi merasai kulit busik akibat kelamaan tenggelam dalam lumpur. Atau menikmati jambu monyet dari pohonnya yang tumbuh subur di sekitar kober. Atau mencuri mentimun dari ladang orang. Atau pulang maghrib karena keasyikan berguling-guling di tanah berumput.

Bila punya waktu senggang, selalu kusempatkan berkeliling ke tempat-tempat itu dengan bersepeda. Memutar kenangan masa kecil membuatku bahagia. Seperti menjadi diri sendiri: senang menyendiri di tempat menyenangkan; hembusan angin sepoi, lambaian rumput ilalang, sengat mentari sore, derik jangkrik. Kadang aku merekonstruksi kondisi dan situasi itu lewat khayalan untuk menyegarkan kembali ingatan: kuhancurkan rumah-rumah itu dan menempatkan teman-temanku—yang kukenal maupun tidak--di posisinya; sawah, lapangan, tanah berumput, rawa, empang, kuburan. Tak lupa kutaruh macam permainan yang pernah kami mainkan; layang-layang, sepak bola, anggar, senjata rahasia ninja, kuda gedubrak, petak umpat, kejar-kejaran, benteng, galasin, karet, kelereng, gentrong, gambaran, congklak, dll. Ketika berhasil melakukannya, aku memejamkan mata lalu perlahan menghirup udara sekitar dan menahannya sesaat dalam rongga dada. Kubuka telinga lebar-lebar, mendengarkan suara-suara samar nan kecil dari masa lampau. Kubaui udara sekitar. Kubuka sel-sel otak yang merekam segala kejadian. Ya Tuhan, inilah kenikmatan nostalgia!

Kadang aku juga bersepeda menyambangi beberapa sekolahku yang jaraknya berdekatan; TK Permata Bunda, SDN Duren Sawit 05 Pagi, SMPN Duren Sawit 194. Pernah aku memaksakan diri masuk ke lingkungan SD dan mengamati detail-detailnya: tidak banyak berubah sejak kutinggal 15 tahun lalu! Satu guru yang selalu kuingat kebaikannya adalah Bu Retno, guru Taman Kanak-kanakku. Lukisan ulang tahunku yang ke-5 yang dibuatnya masih tergantung di ruang tamu rumahku hingga kini. 

Namun pada Selasa sore itu aku tidak mengulangi semua aktivitas masa lalu. Aku tidak mengejar layang-layang putus. Aku hanya mendekati teman-temanku yang bermain layang-layang dan melihat mereka mengadu dengan layang-layang lain. Lokasinya di tanah kosong samping rumah bertingkat, agak menjorok dari jalan, tepat di seberang mulut gang rumahku. Seorang teman berujar, “Beli layangan, Bil! Sini duitnya! Entar gua beliin.” Ia baru kalah adu. Layang-layangnya putus.

Seketika bayangan masa kecil itu muncul. Aku tidak menanggapi tawarannya. Bergegas aku membeli layang-layang di warung depan Masjid Jami Nurul Yaqin. Seribu dapat tiga. Lalu kuberikan padanya.

Aku tak berniat memainkannya. Biarlah buat mereka saja. Sebab aku sudah mencukupkan diri dengan mengenang kembali istilah-istilah dalam layang-layang. Aku tak tahu apakah ini istilah umum, namun inilah istilah yang kudapat dari pergaulan dengan teman-temanku yang bersuku Betawi dulu. Gelasan, benang tajam untuk aduan. Lasnur, benang dari tali pancing yang dilumuri bahan pembuat gelasan sehingga tajam. Kenur, benang standar yang tidak tajam. Talikama, ungkapan untuk benang yang mengait pada dua bagian rangka bambu di atas dan bawah layang-layang. Manteng, posisi stabil layang-layang. Singit, layang-layang tidak stabil saat mengudara. Pongkol, menjatuhkan layang-layang ke benang dekat tangan lawan. Dol, ‘mencuri’ benang lawan yang kalah adu. Ngimpul, layang-layang putus terbang jauh tinggi. Ngentip, layang-layang terbang tinggi kadang sulit terlihat. Tarik-tarikan, kondisi di mana dua layang-layang bertemu dan gesekan benang di antara keduanya tak menyebabkan salah satunya putus.

Sempat terlintas dibenakku saat itu, apakah aku harus kembali bermain layang-layang setelah sekian tahun tidak memainkannya. Aku tidak ingat kapan terakhir main layang-layang. Barangkali selulus SMP. Sebab sekolahku SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta letaknya sangat jauh dari rumahku. Rumahku di Duren Sawit Jakarta Timur. Sementara itu sekolah di depan Mal Taman Anggrek, Slipi, Jakarta Barat—sekarang pindah ke Kali Deres. Berangkat usai salat Subuh, tiba di rumah di atas Isya. Minggu? Ikut klub volly. Tapi sepertinya tak ada salahnya bila aku bergabung dengan teman-temanku bermain layang-layang. Karena aku juga tak mungkin kembali berjualan layang-layang—aku sempat berjualan layang-layang selama beberapa minggu sama Bapakku dulu. Sekarang, biarkan aku perlahan menyusuri jalan meninggalkan masa lalu.   


Duren Sawit, 9 Maret 2007. 16.12 WIB
                  

Jakarta Dikepung Banjir

Adikku yang malang. Pukul 06.30 tadi aku mengantarnya ke tempat penjemputan di mana bus kantornya biasa menunggu. Biasanya ia menunggu di halte bus Prumpung. Tapi karena sudah kesiangan terpaksa mencegat bus jemputan di Halim.

Aku memacu motor di tengah guyuran hujan melewati Jalan Raya Kali Malang. Jalanan begitu padat. Macet. Setiba di pertigaan Halim, kami melihat bus-bus angkutan yang biasa mangkal dekal halte Halim diparkir dekat perempatan. Wew, ternyata halte sampai terowongan arah Cawang kebanjiran. Memang daerah itu langganan banjir tiap tahun.

Adikku, Merlin, mengeluh. Memang ia tak berharap lagi bus jemputannya datang. Ia ingin naik mobil omprengan yang bisa membawanya ke kantornya di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Mobil omprengan biasanya mangkal di halte Halim.

Aku memenuhi keinginannya. Bila tidak bisa melewati jalan yang tergenang air itu, cobalah jalan di sebelahnya yang berlawanan arah menuju Cawang. Semoga mobil omprengan masih ada di Cawang.

Ternyata kondisinya sama. Jalan Mayjen D.I. Panjaitan menuju Cawang juga tergenang air. Akhirnya kami berbalik arah, menuju Prumpung. Semoga ada mukjizat bus jemputan terlambat datang atau pulang saja. Belum sampai Penas, jalanan macet total. Mobil, bus, dan motor berhenti bergerak terhadang banjir. Di sisi kanan Jalan Mayjen D.I. Panjaitan, para pengendara motor memarkir kendaraannya. Istirahat menunggu hujan reda. Aku, mengikuti pengendara lain, menaikkan motor ke bahu trotoar dan bergabung dengan mereka. Kami istirahat di Kebun Nanas itu. Lumayan, kondisinya cukup nyaman. Tidak kehujanan karena kami tepat berada di bawah jembatan layang tol Ir. Wijoto Wiyono yang terbentang antara Prumpung hingga Halim.        

Merlin menghubungi Bu Maria, rekan kerjanya, lewat telepon seluler. Ternyata ibu itu sedang berada di atas bus jemputan yang terjebak banjir di Penas. Syukurlah, Merlin masih bisa tersenyum di tengah kecemasan tidak sampai kantor untuk melakukan banyak aktivitas yang sudah direncanakan dan berharap bus itu melewatinya. Aku berpikir saat itu, kalau bus tersebut lewat Kebun Nanas dan menjemput Merlin, pastilah ia tidak akan bisa melewati Halim. Halim satu-satunya jalan menuju Cawang yang jalannya tertutup banjir.

Sebuah bus dari kejauhan tampak mendekat. Merlin berharap itu bus jemputannya. Ternyata tidak. Bus Patas P2 jurusan Kota-Kampung Rambutan yang lewat. Kupikir itu bus akan berhenti sebelum halte Halim. Padahal rute sebenarnya lewat Terminal Kampung Melayu dan Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista). Kemungkinan besar jalan itu kebanjiran. Usaha yang sia-sia.

Merlin kecewa. Ia menghubungi lagi Bu Maria. Itu ibu bilang ia sedang berada di atas tol Tanjung Priok. Berarti itu bus berbalik arah. Tiada lagi harapan. Kami pulang dan Merlin menelan kecewa. Hujan terus menderas.


Ulang tahun
Sebenarnya ini hari ulang tahunnya ke-25. Dua kue Karamel yang Ibu buat kemarin siang sengaja ia bawa untuk dinikmati bersama teman-teman kantornya. Terpaksalah itu kue jadi dinikmati sendiri, karena besok Sabtu libur kerja.

Aku bilang padanya, ini berkah ulang tahun. Berkah karena hujan sepanjang hari adalah anugerah Tuhan. Tapi sayangnya ini hari bagi sebagian besar orang tidak menjadi berkah, malah musibah. 

Sejak semalam Jakarta diguyur hujan deras. Televisi memberitakan sejumlah daerah di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi terendam air. Yang parah Ciledug, malam-malam air setinggi satu meter merendam wilayah yang masuk Provinsi Banten itu. Tidak, tidak, ada yang lebih parah tertimpa lebih dulu, yaitu kawasan sekitar Kampung Melayu yang dilalui Sungai Ciliwung. Penduduk yang tinggal di bantaran kali mengungsi. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hari ini Jakarta memang dikepung banjir. Sejumlah ruas jalan ibu kota terendam. Pengendara motor diperbolehkan menggunakan jalan tol pada beberapa ruas jalan tol.

Di Tangerang ketinggian air menjangkau atap rumah. Kompleks perumahan di Jakarta dan Bekasi kebanjiran. Jalan-jalan di Depok terendam. Kali Pesanggrahan yang meliuk-liuk di atas tanah Bintaro meluap, melahap perkampungan dan jalan yang di lewatinya. Ini mengingatkan kita pada banjir yang menenggelamkan Jakarta pada 2002.

Meski belum terdengar banjir hari ini merenggut korban jiwa, aku berpikir bencana ini bagian dari musibah yang mendera negeri ini berturut-turut. Tadi Khatib Jumat di rumahku mengutip sebuah ayat Qur’an, bahwa musibah akibat kerusakan di darat, laut, dan udara merupakan ulah manusia. Musibah di tiga ruang itu sudah terjadi di awal tahun ini. Korbannya massal. Pertama tenggelamnya Kapal Senopati Nusantara di perairan Laut Jawa pada akhir Desember 2006 yang mengangkut 600-an penumpang, kedua pada 1 Januari 2007 pesawat Adam Air jatuh di perairan Sulawesi yang membawa 102 orang, kemudian anjloknya Kereta Api Bengawan yang menelan beberapa korban jiwa. Gempa, Tsunami, longsor, dan lumpur daftar musibah sebelumnya.

Lantas apa yang bisa menerangkan ini semua? Apakah kita masih bisa menjawab santai dengan mengatakan ini semata ujian dari Tuhan? Kalangan agama mengatakan tragedi tsunami 26 Desember 2006 yang menewaskan ratusan ribu jiwa warga Aceh dan Sumatera Utara, serta sejumlah negara di kawasan Samudera Hindia, sebagai ujian dari Tuhan. Saat meletus Gunung Merapi membayang kemudian disusul gempa di Yogyakarta dan Pantai Pangandaran, masih santer terdengar “suara-suara menghibur” bahwa Tuhan masih menyayangi rakyat negeri ini dengan mengirim musibah. Namun ketika tragedi lumpur di Sidoarjo muncul, lalu berturut-turut aneka bencana menerpa, “suara-suara bernada menghibur” itu makin lenyap. Kenapa?

Adakah ilmu yang bisa menerangkan semua kejadian ini?


Mati listrik
Lebih tujuh jam listrik padam di sekitar tempat tinggalku Duren Sawit. Mulai pukul 15.05 dan berakhir pukul 22.15. Efeknya sangat terasa ketika hari beranjak malam. Sepanjang jalan aku dan adikku pergi ke Mal Citra depan Pasar Klender, jalanan gelap; Duren Sawit, Buaran, Pondok Kopi, Klender. Lampu lalu lintas di perempatan depan Apotek Swadaya yang menghubungkan Jalan Raya Pendidikan dan Jalan Kolonel Sugiyono mati. Lampu penerangan di jalan raya pun tidak ada yang hidup. Cahaya hanya berasal dari sorot lampu mobil dan motor. Untungnya jalanan tidak tergenang air. Hujan reda usai Salat Jumat.

Setiba di rumah pukul 21.15, listrik masih mati. Aku, Merlin, dan Ibu ngobrol sambil tidur-tiduran di ruang tamu ditemani cahaya redup lilin. Ibu bercerita Kompleks IKIP, tempat tinggal dosen-dosen Universitas Negeri Jakarta, kebanjiran. Bahkan perahu karet dipakai untuk sarana transportasi. Anak-anak sekolah kesulitan pulang karena terjebak banjir. Tiga sekolah yang terletak di pinggir Kompleks IKIP dan jaraknya berdekatan yaitu SMPN 194, SDN 05, dan SDN 09, plus TK Permata Bunda. Untuk mencapai Jalan Raya Penidikan di mana angkutan umum melintas, mereka harus melewati jalanan Kompleks IKIP yang berliku dengan dua selokan air di sisi kiri dan kanannya. Memang kawasan ini tergolong dataran rendah yang mendapat buangan air dari kampungku Cilungup.


Nikmati saja
Aku berusaha menikmati segala kondisi yang kualami. Senang-sedih dibawa gembira. Aku ingin Merlin juga begitu. Setelah memutuskan pulang dan tidak pergi ke kantor, dari bawah tol layang Ir. Wijoto Wiyono kami meluncur pulang melewati Jalan Raya Kali Malang. Hujan makin deras. Jalanan macet. Pengendara menuju Halim memakan semua badan jalan. Aku yakin mereka tidak tahu apa yang terjadi di jalan yang mereka tuju. Beberapa pengendara di arah berlawanan menuju Bekasi, termasuk aku,  menyarankan mereka berbalik arah.

Kami tiba di rumah pukul 09.15. Percuma pakai jas hujan setelan. Baju-celanaku tetap basah. Hujan masih turun deras. Aku pun tak berpikir pergi ke kantor di bilangan Kemayoran Jakarta pusat untuk ikut rapat pukul 10.00. Berita di beberapa stasiun televisi sudah cukup menyeramkan: Jakarta di kepung banjir!


Duren Sawit, 3 Februari 2007, 00.20WIB


Nb. Kutulis naskah ini di komputer dua kali. Pertama yang berakhir pukul 15.05 karena listrik padam, dan kedua setelah listrik hidup pukul 22.15. Awal menulis siang 2 Februari, dan mengakhiri tulisan pukul 00.20 WIB.